October 12, 2016

Against the Gods – Volume 1 / Chapter 8

 

The Wedding Night

Xia Qingyue tidak bertanya lagi. Sejak wanita yang berjubah putih dengan silsilah dan kedudukan yang tinggi ini yakin kalau hal tersebut “tidak mungkin”, maka tidak akan ada kesempatan sekecil apapun untuk bisa menjadi mungkin.

“Qingyue, aku tahu kau benar-benar ingin membalas budi karena nyawamu telah diselamatkan saat kau masih kecil, bahkan kau menunda untuk segera kembali ke Frozen Cloud Asgard, tapi dengan kau telah menikahinya seharusnya sudah cukup untuk membayar kewajiban tersebut. Ketika kau kembali ke Frozen Cloud Asgard, identitasmu akan terkuak. Walaupun dia mungkin akan menerima lebih banyak ejekan setelah kau pergi, statusnya menjadi suami dari seorang murid Frozen Cloud Asgard tidak akan berubah. Setidaknya di Floating Cloud City ini, dengan memiliki status yang bergengsi itu, tak seorangpun akan berani mencelakainya.” Perempuan berbaju putih itu berbicara dengan nada menghibur.

Xia Qinhyue mengangguk perlahan: “Saya harap begitu.”

“Profound Veinnya tidak berfungsi dan dia tidak mempunyai kekuatan yang lain. Dia tidak akan pernah dapat mencapai prestasi apapun selama hidupnya. Tapi kau cantik dan cerdas. Bakat alamimu terlahir setiap seratus tahun sekali. Jika tidak, Mistress kita tidak akan membiarkanmu melanggar aturan dan menikah. Menikahimu merupakan keberuntungan yang terbesar dalam hidupnya. Kau sudah cukup adil dengan mengambil langkah ini. Jika ayahnya masih hidup dan cukup cerdas, dia akan membatalkan pernikahan ini… Aku harus pergi. Aku akan menjemputmu sebulan lagi. Selama waktu itu, aku tidak akan pergi terlalu jauh darimu. Jika kamu menghadapi masalah yang sulit, tulislah surat sehingga aku bisa tahu.”

“Saya ucapkan selamat jalan guru.”

Wanita berjubah putih itu berbalik. Tiba-tiba, sebuah wajah cantik dengan aura dingin terlihat. Dia tidak memakai make up di wajahnya sehingga wajah itu terlihat selembut salju yang putih. Orang yang melihatnya pasti akan berpikir “sebuah keindahan dari kulit yang sebening es dan tulang seindah batu giok” serta “wajah yang putih bersih dengan bibir seindah mutiara” untuk menggambarkannya ketika mereka melihatnya. Wajahnya begitu sempurna. Dia sangat mempesona hingga membuat orang tidak berani menatapnya. Bahkan mungkin akan ada yang berpikir jika wanita itu makhluk suci saat menatap matanya. Dia bagaikan seorang peri yang turun dari Nirwana, yang tak ternodai oleh siapapun di dunia ini.

Dia membuka pintu dan tubuhnya menjadi sedikit gemetar. Seolah-olah diselimuti kabut es, dia menghilang tepat ditempatnya berdiri.

Aula utama guild Xiao, ruang tamu yang penuh dengan orang.

“Paman ketujuh Liu, silahkan minum.”Xiao Che menawarkan dengan sopan secangkir minuman pada seorang pria paruh baya.

Orang yang dipanggil Paman Ketujuh Liu itu berdiri sambil tertawa. Dia menaikkan cangkirnya lalu menghabiskan minuman tersebut. Dia berbicara sambil tertawa: “Keponakanku, aku ini teman dekat ayahmu, saat aku melihat kau mempunyai keluarga dan menikahi seorang istri yang baik, aku ikut bahagia untukmu.”

“Terima kasih paman ketujuh Liu.”

“Ketua pertama, silahkan minum.”

Ketua pertama guild Xiao, Xiao Li mengambil cangkir itu lalu langsung meminumnya. Lalu dia membanting cangkir itu diatas meja dengan keras. Selama keseluruhan prosesi, selain mengeluarkan suara “hmph” dari hidungnya, dia tidak berkata apapun ataupun melihat mata Xiao Che. Meskipun dengan sikap seperti itu, meminum anggur yang diberikan oleh Xiao Che berarti sudah menunjukkan bahwa dia menghormati Xiao Che.

Xiao Che juga tidak banyak bicara, lalu segera berpindah ke meja berikutnya. Baru dua langkah Xiao Che berjalan, Xiao Li meludah di lantai dan membuka mulutnya lalu berkata dengan nada kasar yang masih mungkin didengar oleh Xiao Che: “Bunga yang begitu indah itu sekarang telah dimasukkan ke dalam kotoran. Bah!”

Ekspresi Xiao Che tidak berubah. Langkah kakinya tidak berhenti seolah-olah dia tidak mendengarnya. Jika ada yang melihatnya dari dekat, dia akan melihat matanya mengeras dan pandangan dingin terpancar di dalamnya.

Dia mendatangi Ketua kedua, Xiao Bo. Xiao Che sedikit membungkuk: “Ketua kedua, aku menawarkanmu minuman.”

Xiao Bo tidak mau melihat mata Xiao Che, dia berkata: “Cucuku Yang, bantu aku minum itu.”

“Ya kakek.” Xiao Yang menjawab tanpa ragu. Dia mengambil minuman yang ditawarkan Xiao Che lalu menghabiskannya dengan mengeluarkan suara “glup.”

Secangkir anggur yang ditawarkan untuk para tetua namun diminum oleh anaknya dianggap sebagai sebuah penghinaan. Itu sama saja seperti mempermalukan dihadapan umum. Setelah meminum anggur tersebut, Xiao Yang meletakkan cangkir lalu kembali ke tempat duduknya, matanya penuh dengan tatapan mencemooh dan mengejek.

Xiao Che tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya sedikit mengangguk dan pindah ke meja berikutnya. Seperti yang sebelumnya, baru saja berjalan dua langkah, sebuah cacian terdengar: “Hmph, sampah tetaplah sampah. Meskipun sampah itu berusaha untuk naik ke dalam guild Xia, tetaplah sampah. Apakah bajingan tua Xiao Lie itu sebenarnya ingin menggantungkan hidupnya pada cucu menantunya! Bah!”

Suara itu mengandung penghinaan yang sangat mendalam, sarkasme, dan tentu saja rasa iri. Meskipun seseorang tidak menyebutkan tentang kekayaan guild Xia, orang lain masih bisa mengatakan tentang bakat Xia Qingyue yang luar biasa. Jika dia tidak menikah dengan Xiao Che, tapi menikah dengan cucunya Xiao Yang, tawanya yang berasal dari mimpinya itu mungkin saja bisa terdengar.

Xiao Che pura-pura tidak mendengar dan berjalan menjauh dengan tersenyum.

Xiao Che menyelesaikan perjamuannya dan membiarkan para tamu. Malam panjang perjamuan telah usai. Selama keseluruhan proses, orang-orang yang benar-benar menunjukkan rasa bahagia dan berpengharapan baik kepadanya sangat sedikit hingga Xiao Che bisa menghitungnya dengan sepuluh jari. Banyak orang yang berperilaku sopan padanya karena hari ini hari pernikahannya, namun sebenarnya dia melihat penghinaan dihampir semua mata mereka. Beberapa orang mendesah, beberapa orang marah karena iri. Sisanya menyimpan cemoohan dan pikiran negatif lainnya seperti menganggapnya “sampah” dan “tak berguna” yang tertulis diwajah mereka.

Profound Veinnya telah rusak sehingga dia tidak akan mampu untuk mencapai keagungan seumur hidupnya karena hal itu. Jadi mereka tidak perlu menjadi teman atau bersikap sopan pada Xiao Che. Mereka tidak peduli jika mereka menyinggungnya karena meskipun dia marah, dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk melawan mereka dengan Profound Vein yang tidak berfungsi. Dihadapan si tak berguna ini mereka dapat berbuat jahat dan tidak peduli, mereka siap untuk mencerca disebabkan superioritas yang mereka miliki. Mereka merasa kuat saat mereka merendahkan orang yang tidak akan pernah menjadi apa-apa, bahkan yang lebih lemah dari mereka.

Itulah realitas buruk dari sifat manusia.

“Istirahatlah sebentar.” Xiao Lie menepuk pundak Xiao Che dengan lembut dan senyuman di wajahnya.

Xiao Che tidak tahu apa yang tersembunyi dibalik senyum kakeknya saat ini.

Saat Xiao Lie semakin tua, temperamennya semakin lembut. Namun ketika dia masih muda, dia bagaikan sebuah lilin yang mudah terbakar. Bila ada seseorang yang membuatnya marah, dia akan membuat orang itu sepuluh kali lebih marah sehingga tidak ada seorangpun yang berani memprovokasinya. Xiao Che tahu betul bahwa temperamen kakeknya tidak menjadi lembut karena usia, tapi itu karena dirinya…

Untuk melindungi cucunya yang tidak berguna itu, dia menjadi baik dan ramah. Meskipun mereka merendahkan, selama tidak keterlaluan, dia bisa menahan diri sebaik mungkin. Dengan begitu, musuh tidak akan kembali membalas dendam pada cucunya saat dia telah mati.

Sebagai orang yang paling kuat di Floating Cloud City, Ketua kelima yang biasanya ditakuti, sekarang tidak dihormati ataupun ditakuti oleh para ketua lainnya. Hal itu juga dilakukan oleh para generasi mudanya.

Mengingat masa lalu Xiao Lie, gambaran orang yang tidak menghormati Xiao Lie dan menertawakannya muncul dalam benak Xiao Che. Xiao Che mengepalkan tangannya hingga tangannya memucat. Tatapannya menjadi tajam dan memancarkan aura dingin. Lalu, sudut mulutnya perlahan membuka dan menunjukkan senyum yang bisa membuat rambut seseorang berdiri.

Xiao Che adalah seorang pendendam. Sebagai seorang yang telah lama menyimpan dendam selama enam tahun terakhir di Azure Cloud Continent, hatinya dipenuhi oleh rasa dendam terhadap banyak hal. Dia ingat siapa saja orang yang telah baik kepadanya dan juga siapa saja orang yang tidak baik kepadanya. Dia menyimpannya dalam hati… hingga tiba saatnya untuk membalas dendam bahkan untuk hinaan yang paling kecil sekalipun.

“Kalian akan… meminta maaf…”

Sebuah suara parau yang mendalam perlahan keluar dari mulut Xiao Che bagaikan kutukan yang keji.

Karena Tuhan memberikanku kesempatan untuk menjadi orang lain, bagaimana mungkin aku membiarkan diriku sendiri dan kakekku menderita penghinaan ini!

Kembali ke halamannya yang kecil, bulan terlihat menggantung tinggi diatas awan. Xiao Che berjalan menuju ke sudut halaman dan mengulurkan tangan kirinya. Tiba-tiba, air mengalir keluar dari telapak tangannya.

Selama pernikahan hari ini, dia tidak dapat menghindar untuk meminum banyak anggur. Hingga akhirnya, dia minum sangat banyak hingga kelihatannya dia hampir tidak bisa berdiri sendiri. Sebenarnya, dia masih benar-benar sadar. Ini bukan karena dia mempunyai kemampuan untuk bisa tahan dengan jenis minuman yang memabukkan ini, namun karena Sky Poison Pearl. Semua anggur yang dia minum ditransfer ke Sky Poison Pearl. Semenjak mutiara ini menjadi bagian tubuhnya, dia memanipulasinya seolah-olah itu tubuhnya sendiri.

Suara “hua lala” terdengar selama beberapa waktu hingga semua anggur telah dikeluarkan dari Sky Poison Pearl. Xiao Che mengangkat anggur yang tertutup oleh tangan kiri dan menyeringai. Dia menggosokkan anggur itu langsung ke wajahnya dan menahan napas hingga wajahnya memerah. Dengan sempoyongan dia mendorong pintu kamarnya hingga terbuka lebar dan terhuyung ke kiri dan kanan, seolah-olah dia sedang mabuk.

Pintu didorong terbuka dan aroma anggur mengikuti Xiao Che saat dia terhuyung masuk ke dalam kamar. Dia mengangkat kepalanya dengan canggung dan melihat Xia Qingyue. Xia Qingyue duduk diatas tempat tidur dengan mata indahnya yang tertutup. Sangat sunyi sekali. Cahaya lilin redup berkedip-kedip di wajahnya yang lembut dan indah, menambah aura mistik yang tidak dapat ditolak.

Mata Xiao Che bersinar dan kakinya bergetar saat dia melangkah menuju Xia Qingyue: “Hehehehe… istriku… aku telah membuatmu lama menunggu… ayo… sekarang kita… gunakan kamar pengantin…”

Xia Qingyue tiba-tiba membuka matanya dan mengayunkan tangan kanannya.

Sebuah kekuatan dingin yang kuat tiba-tiba menyapu Xiao Che dan mendorongnya keluar dari pintu. Xiao Che jatuh terduduk dan hampir menjatuhkan meja batu di halaman.

Xiao Che merasa kesakitan dan menggosok pantatnya. Butuh usaha keras baginya untuk dapat berdiri lalu dia meraung marah: “Sial! Aku hanya bercanda, kau tidak perlu sekasar itu! Aku ini lemah tapi kau memukulku sekeras yang kau bisa… orang akan berpikir kalau kau berencana untuk membunuh suamimu.”

Pintu tertutup.

Xiao Che mendorong pintu itu tapi ternyata pintu kamar itu terkunci rapat.

Xiao Che tiba-tiba murung… Perempuan ini, jangankan menggoda, bahkan lelucon pun dianggap serius! Dapatkah aku benar-benar hidup bahagia dengan cara seperti ini?

“Aku benar-benar hanya bercanda… Lagipula aku hanya berada di tingkat terendah level satu Elementary Profound Realm. Meskipun aku ingin berbuat sesuatu padamu, itu tidak akan mungkin.”

Xia Qingyue tidak menjawab.

Xiao Che berdiri di depan pintu cukup lama tapi tak ada sedikitpun tanda-tanda pintu akan dibuka. Halaman kecil Xiao Che hanya mempunyai satu rumah. Tidak ada gunanya menyebutkan jika dia mempunyai kamar lain karena ia bahkan tidak punya rumah cadangan. Jika hari ini hari biasa, dia bisa menyelinap masuk ke dalam tempat bibinya untuk tidur. Tapi malam ini adalah malam pernikahannya, tidak pantas baginya untuk tidur ditempat lain.

Angin malam yang dingin berhembus, Xiao Che menggigil dan terlihat dia seolah-olah menciut. Dia mengetuk pintu sekali lagi dan berkata lemah: “Hei, kau tidak benar-benar membiarkanku tidur di luar kan? Kau seharusnya tahu banyak orang di guild Xiao yang ingin mendapatkanmu. Mereka sangat marah karena kita menikah. Mereka sadar bahwa orang berbakat sepertimu, tidak akan membiarkanku menyentuhmu meskipun kita sudah menikah, jadi mereka akan menunggu sesuatu terjadi sehingga mereka bisa menertawakanku. Jika mereka datang dan melihat aku terkunci di luar, aku akan menjadi bahan tertawaan selamanya.”

“Bagaimanapun, aku masih suamimu. Apa kau tega melihatku ditertawakan?”

Ruangan itu masih sunyi. Tepat saat Xiao Che akan menendang pintu, pintu yang tertutup itu akhirnya pelan-pelan terbuka.

Xiao Che bergegas masuk secepat kilat dan menutup pintu hingga berbunyi “bang.”

Xia Qingyue masih tetap di tempat tidur seperti sebelumnya. Walaupun dia hanya duduk, dia memancarkan keanggunan. Matanya yang indah sedikit berputar, memandang Xiao Che yang gugup dan berbicara dengan suara pelan: “Kau harus menjauh dariku lima langkah.”

“… lalu aku harus tidur dimana?” Xiao Che menggosok dagunya. Ruangannya kecil; hanya mempunyai satu tempat tidur, sebuah meja baca, meja makan dan dua lemari. Jika berjalan dari timur ke barat melewati ruangan, hanya akan tersisa tujuh atau delapan langkah jarak diantaranya.

“Kau tidur di tempat tidur.” Xia Qingyue berdiri dari tempat tidur.

“Tidak perlu!” Xiao Che menolak dan duduk di sudut terjauh dari Xia Qinyue lalu menutup matanya. Walaupun mungkin Xia Qingyue seratus kali lebih kuat darinya, harga dirinya sebagai seorang lelaki menolak untuk membiarkan seorang gadis tidak tidur di tempat tidur.

Translator / Creator: Akai Ta