December 6, 2016

Against the Gods – Volume 1 / Chapter 54

 

Jasmine’s Tears

Setelah Yun Che kehilangan kesadarannya, tubuh Jasmine sudah tidak lagi terlihat tembus pandang. Perlahan gadis itu membuka matanya dan memandang jejak darah di sudut bibir Yun Che, begitu juga garis-garis luka mengerikan di lengan kirinya. Semua kesan dingin dan apatis yang terpancar dari sinar matanya lenyap seketika bagai bongkahan es yang meleleh, dan digantikan dengan sorot bingung yang tampak begitu rumit untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Yun Che tidak tahu sudah berapa lama ia pingsan. Setelah ia mendapatkan kembali kesadarannya dan membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah sosok Jasmine yang tengah memandangnya.

“Jasmine! Kau sudah sadar!?” Yun Che pun berteriak kegirangan, bercampur dengan rasa tak percaya. Namun suaranya sedikit serak, dan ketika ia berusaha untuk bangun, ia limbung, rasanya tubuhnya menjadi jutaan kali lebih berat dari sebelumnya. Setelah kehilangan banyak darah seperti itu, ia masih terus mencoba untuk berdiri, namun tetap saja ia tidak bisa.

“Kenapa kau menyelamatkanku?” bisik Jasmine lemah. Gadis kecil itu mengerling sekilas pada garis-garis luka di lengan Yun Che, kemudian buru-buru mengalihkan pandangannya: ”Jika aku mati, bukankah itu bagus untukmu? Setidaknya, kau tidak perlu lagi menepati isi kesepakatan kita; dan kau juga tidak perlu khawatir aku akan membunuhmu setelah aku berhasil membentuk tubuh asliku nanti!”

“Karena… Jasmine mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanku…”

“Aku menyelamatkan diriku sendiri!” sergah Jasmine dengan nada suara yang meninggi.

Yun Che termangu sejenak; dia tidak mengerti kenapa kata-katanya barusan mampu membuat Jasmine menjadi emosi seperti itu. Dengan pasrah, pemuda itu pun berkata: “Kalau begitu… karena kau adalah guruku. Sebagai seorang murid, bagaimana mungkin aku akan membiarkan guruku mati begitu saja di depan mataku?”

“Guru?” Jasmine tersenyum sedih: “Jika aku mau dilahirkan kembali, aku akan membantumu mendapatkan kekuatan profound yang besar dalam waktu sesingkat mungkin. Menjadi gurumu, meminta semua persyaratan itu, adalah satu caraku karena aku tidak mau membantumu dengan cuma-cuma… pada akhirnya aku hanya memikirkan diriku sendiri. Apakah kau benar-benar berpikir aku memberikan semua itu untuk kebaikanmu?”

“Tentu saja aku tahu itu,” setelah mengucapkan kata-kata itu, Jasmine sama sekali tidak menemukan sedikit pun kekecewaan di wajah Yun Che, malahan pemuda itu tampak menarik satu sudut bibirnya, membentuk seulas senyum kecil. Yun Che menggerakkan tubuhnya mendekat ke arah Jasmine, menatap matanya lurus-lurus, dan berkata lembut: “Namun semua itu tidak penting. Alasan kenapa aku bersungguh-sungguh ingin menyelamatkan Jasmine, adalah karena Jasmine… sangat cantik; secantik bidadari di langit,”

Jasmine pun membatu.

“Meskipun Jasmine memaksakan diri untuk bersikap apatis, bahkan nyaris terlihat menakutkan, namun satu hal ini nyata dan tidak dapat ditutup-tutupi meskipun Jasmine menginginkannya. Dengan seorang gadis cantik di sisiku, tidak peduli siapa pun itu, siapa pun pasti tidak ingin gadis itu meninggalkannya begitu saja. Begitu juga denganku… Alasan ini dapat diterima, bukan?”

“Alasan… macam apa itu…” bibir Jasmine yang sudah mulai memerah bergetar pelan: “Aku sudah membunuh… banyak sekali orang… tahun lalu… pada hari ulang tahunku yang ke-dua belas, dalam satu hari… hanya dalam satu hari… aku sudah membunuh lebih dari satu juta tiga ratus orang… seluruh tubuhku berbalur warna merah… bahkan panggilanku, “Jasmine yang berlumuran darah” mereka berikan padaku…”

(Catatan penulis: “Blood-Soaked Jasmine” memiliki dua makna; yakni “Bunga melati yang bersimbah darah” dan “Jasmine (mengacu pada orangnya) yang berlumuran darah”)

“!!!!” Jantung Yun Che nyaris melompat dari tempatnya… Dalam satu hari, ia telah membunuh lebih dari satu juta tiga ratus orang!?

Melihat keterkejutan di wajah Yun Che, Jasmine pun memejamkan matanya dan berucap dengan muram: “Orang sepertiku, bagaimana mungkin aku bisa disebut seorang gadis yang cantik… aku adalah Jasmine… Jasmine yang berlumuran darah… aku adalah iblis menakutkan… yang telah membunuh begitu banyak orang…”

Yun Che menatap Jasmine agak lama… Namun sinar di matanya sama sekali tidak berkilat kaget ataupun ketakutan; ekspresi di matanya menggambarkan perasaan rumit yang kini bercampur aduk di dalam dadanya, sebuah perasaan yang begitu rumit hingga ia tidak yakin ada seorang pun yang bisa memahaminya. Selama beberapa lama, dia menatap Jasmine, kemudian menggelengkan kepalanya pelan: “Jasmine, meskipun aku tidak dapat memahami perasaan seseorang yang telah membunuh begitu banyak orang pada umur dua belas tahun, tapi aku yakin perasaan itu pasti sangatlah menyakitkan… perih luar biasa yang tidak ingin lagi diingat oleh siapapun. Setelah, mungkin saja diikuti oleh mimpi buruk serta perasaan bersalah yang tak berujung, yang bahkan mampu membuatmu membenci dan menyalahkan dirimu sendiri; dan mungkin saja mematikan perasaanmu dengan melabeli dirimu sendiri dengan sebutan iblis yang tak berhati…”

Kedua mata Jasmine membulat lebat, dan menatap Yun Che takjub.

“Tapi, aku yakin bahwa Jasmine pasti adalah seorang gadis yang baik hati. Alasan kenapa kau menjadikan dirimu sebagai sosok iblis yang paling kau benci itu pastilah demi kebaikan orang-orang yang kau cintai. Mungkin orang-orang itu adalah sahabat-sahabat dekatmu, atau mungkin anggota keluarga yang luar biasa dekat denganmu… untuk kebaikan orang-orang tersebut, Jasmine tidak peduli apakah ia harus membunuh begitu banyak orang hingga berlumuran darah; kurasa, Jasmine yang seperti itu mustahil sekali bisa berubah menjadi sosok iblis yang kejam,”

“Selain itu, untuk anak gadis yang manis dan cantik, tidak peduli seberapa pun besarnya kesalahan yang dibuat, mereka masih termaafkan. Jika kau merasa bahwa saat ini kau tengah memikul dosa-dosa yang begitu besar di tubuhmu saat ini, maka biarkanlah aku memikulnya bersamamu. Karena bagaimana pun, Jasmine adalah guruku; dan sebagai muridmu, hal yang seperti ini sudah semestinya untuk dipikul bersama,”

Kali ini Jasmine benar-benar termangu dan menatap Yun Che hingga kehilangan kata-kata seakan jiwanya baru saja melayang keluar dari tubuhnya. Pandangannya mulai tampak kabur… Gadis itu tidak mengerti kenapa, tapi setelah membuat pengakuan mengenai dosanya tersebut, Yun Che sama sekali tidak menampakkan sedikit pun rasa takut maupun penolakan… bahkan, ia menatap Jasmine lembut, dan mengucapkan kata-kata yang menentramkan seperti itu…

Tidak seharusnya seperti ini… Aku sudah membunuh begitu banyak orang; aku adalah iblis yang menakutkan. Sama sekali tidak mengherankan jika orang-orang takut padaku; jelas sekali bahwa seharusnya tidak ada seorang pun yang menyukaiku… Kenapa dia bersungguh-sungguh sekali ingin menyelamatkanku; kenapa ia memandangku dengan lembut seperti itu… setelah ibu dan saudara laki-lakiku mati, mustahil sekali ada orang lain yang akan memperlakukanku seperti ini…

Pandangan Jasmine menjadi semakin buram tertutupi oleh air mata yang mengembun di pelupuk, dan wajah Yun Che pun perlahan berubah menjadi wajah kakak laki-lakinya yang tersenyum lembut padanya… Seketika air mata Jasmine pun mengalir deras. Saat itu, Jasmine, yang telah bersumpah tidak akan menitikkan setetes pun air mata lagi, akhirnya menangis terisak-isak. Sela kecil di dalam hatinya yang selama ini terkunci oleh kebencian dan dosa akhirnya terbuka lebar.

“… Jasmine, jadi kau bisa menangis juga? Mmm, kalau seperti itu kau jadi terlihat seperti seorang perempuan biasa, bukan?” Yun Che pun tersenyum. Pemuda itu mengulurkan sebelah tangannya, kemudian mengelus lembut sisi wajah Jasmine, mengusap jejak air mata disana.

Namun Jasmine sama sekali tidak melawannya, bahkan ia malah menangis semakin keras. Sambil terisak-isak, ia pun berkata: “Aku… Aku adalah gurumu… ketika… ketika kau berusaha untuk menolongku tadi, diam-diam kau menciumku berkali-kali, dan sekarang… kau bahkan membuatku menangis di hadapanmu… kau tidak boleh menindas gurumu seperti itu… Uu… Uuuuuu…..”

“Un, ucapan guru benar,” ucap Yun Che sambil tersenyum: “Kalau begitu, setelah kesehatan guru kecil Jasmine pulih, kau bisa menghukumku sampai kau puas. Bahkan jika kau mau mengembalikan ciuman itu, aku juga tidak akan menolak,”

Apa yang Yun Che pikirkan sangatlah benar; sifat asli Jasmine tidaklah seperti yang biasanya ia perlihatkan. Karena Yun Che sudah pernah berada di posisi yang mirip dengan posisi gadis itu saat ini, dan juga pernah memiliki tatapan mata serta aura yang sama sepertinya sebelumnya, Yun Che memahami apa yang ada di dalam hati Jasmine, bahkan mulai mengetahui bagian-bagian lemahnya.

Setelah menangis, mood Jasmine menjadi lebih tenang. Meskipun tubuh dan jiwanya masih limbung, nyawanya sudah tidak lagi terancam. Gadis itu mengangkat tangan rampingnya dan buru-buru menghapus jejak air mata di wajahnya. Kemudian ia berusaha keras untuk memasang wajah dingin seperti biasanya; namun ia mengalihkan tatapannya, tidak berani menatap langsung pada Yun Che. Kemudian ia pun kembali angkat bicara dengan nada dingin: “Meski pun sudah tidak ada lagi bahaya untuk sekarang, tapi untuk selama tiga bulan ke depan, aku tidak akan bisa mengerahkan sedikit pun energi profound. Jika tetap kupaksakan, bahkan menggunakan seluruh darah di dalam tubuhmu pun tidak akan menyelamatkanku,”

“Aku mengerti. Lain kali, aku akan berusaha keras untuk lebih berhati-hati dan tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi,” ucap Yun Che bersungguh-sungguh, menyesali perbuatannya.

“Batu kecil berwarna merah yang kau dapatkan tadi, telanlah… Benda itu, sepertinya adalah benda yang kujelaskan padamu sebelumnya… sebuah Seed of the Evil God!”

“Ahh?” Yun Che tampak terkejut, ia pun mengeluarkan batu bulat yang hampir dibayar dengan nyawa Jasmine tersebut: “Maksudmu, ini adalah… ini adalah…”

“Aku hanya mengira-ngira. Benda itu adalah alasan kenapa Flame Dragon terus menetap di tempat ini. Ketika kau mengambilnya tadi, aku bisa merasakan kekuatan elemen api yang besar bersembunyi di dalamnya; dan bahkan aku sendiri pun tidak pernah melihat benda berelemen api seperti ini. Kau juga bilang sebelumnya bahwa kau merasakan sesuatu yang memanggil-manggilmu, dan kau tidak terbakar saat menggenggam benda itu di tanganmu. Oleh karena itu, benda itu pasti benar-benar merupakan satu dari lima Seed of the Evil God yang disebutkan dalam rekaman memori!” ucap Jasmine sedikit ragu.

“Juga…” Jasmine diam-diam menggigit bibirnya pelan pada sudut yang tidak terlihat oleh Yun Che: “Lain kali, kau tidak diperbolehkan untuk seenaknya menyentuh wajahku tanpa izinku terlebih dahulu,”

Setelah mengucapkan hal tersebut, sosok Jasmine pun berubah menjadi kilatan cahaya merah dan ia kembali ke dalam Sky Poison Pearl. Ia meninggalkan Yun Che yang masih menganga kehilangan kata-kata begitu saja.

Sebelumnya rautnya tampak sedingin batuan es; kemudian ia menangis kencang dengan suara seperti badai yang menggelora, dan sekarang, gadis itu menampakkan wajah tegas dan mengucapkan kata-kata dengan nada mengancam… ternyata rumor mengenai perubahan mood wanita yang sangat cepat itu benar adanya.

Tubuh Yun Che saat ini pun juga sangat lemah; kehilangan begitu banyak darah membuat vitalitasnya menurun tajam dan untuk berjalan saja ia sudah amat sangat kesulitan. Jangankan Flame Dragon, jika seekor profound beast normal datang menyerangnya, maka baik dirinya maupun Jasmine akan tamat begitu saja.

“Jika kau yang membunuh satu juta tiga ratus ribu orang saja sudah dianggap melakukan dosa tak termaafkan, telah berubah menjadi iblis, dan dijuluki Jasmine yang berlumuran darah… lalu, bagaimana denganku, yang dalam satu hari, telah membunuh tujuh juta tujuh ratus ribu orang dengan racun; yang juga telah mengubah seluruh kota tercemar racun yang mematikan?” Yun Che bergumam pelan dalam hati: “Kau tidak pantas menyebut dirimu iblis… akulah iblis yang sebenarnya… yang karena alasan itulah aku tidak berani menodai seorang malaikat yang menemani di sisiku… sampai pada hari dimana aku kehilangannya untuk selama-lamanya…”

Yun Che memejamkan matanya dan terdiam selama beberapa saat. Kemudian, pemuda itu membuka mata dan genggaman tangannya. Saat ia memandang batu bulat yang bersinar merah di tangannya tersebut, ia memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh Jasmine. Setelah merasa ragu selama beberapa detik, Yun Che pun meyakinkan hatinya dan melemparkan batu kecil tersebut ke dalam mulutnya.

Dengan menggenggamnya, ia sama sekali tidak merasakan apa pun, selain perasaan familiar yang begitu aneh. Lagipula, ia tidak perlu khawatir jika benda itu beracun… yah, seharusnya tidak akan ada efek samping yang buruk jika ia memakannya, bukan?

Batu kecil membara tersebut dipaksa ditelan masuk ke dalam perutnya.

Dalam sekejap, Yun Che merasakan getaran hebat pada profound vein miliknya. Dia bahkan tidak sempat mengamati pergerakan aneh pada profound veinnya karena saat ini permukaan tubuhnya tiba-tiba mengeluarkan sebuah bola bercahaya merah. Segera setelahnya, cahaya merah ini berubah menjadi kobaran api yang membakar permukaan tubuhnya, memandikannya dalam lidah api yang membara.

“I-ini…?”

Kobaran api tak terduga itu jelas mengagetkannya. Namun yang membuatnya lebih kaget lagi adalah fakta bahwa tubuhnya sama sekali tidak merasakan panas sedikit pun dari api yang membara tersebut, bahkan ia malah merasakan perasaan nyaman luar biasa yang sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Bahkan baju yang melekat ditubuhnya sama sekali tidak terbakar sedikit pun meski berkontak langsung dengan bara api, membuat seakan kobaran lidah api tersebut hanyalah bias dari cahaya kemerahan yang menyelimuti tubuhnya.

Translator / Creator: Bewie