December 5, 2016

Against the Gods – Volume 1 / Chapter 53

 

Seed of the Evil God – Fire (6)

“Jasmine… Jasmine…” sambil memanggil-manggil nama gadis itu, entah kenapa sesak semakin memenuhi dada Yun Che. Tingkat keganasan serangan racun mematikan itu kali ini sepuluh kali lebih kuat daripada serangan empat bulan yang lalu. Tentu saja, karena bagaimanapun, terakhir kalinya ia menggunakan kekuatannya, ia hanya menghabisi dua orang praktisi Spirit Profound Realm saja, dan itu sudah cukup untuk membuatnya luar biasa menderita, kesakitan. Namun kali ini, gadis itu membinasakan seekor naga sejati yang berada di tingkat Emperor Profound Realm, dalam sekejapan mata! Intensitas kekuatan yang Jasmine keluarkan barusan tentu saja berbeda bagai langit dan bumi jika dibandingkan dengan yang ia keluarkan empat bulan yang lalu.

Jasmine tentu tahu apa akibat yang akan ia terima jika ia membunuh Flame Dragon tersebut. Tapi ia harus melawan makhluk tersebut, membunuhnya, karena jika tidak, maka Yun Che yang akan mati. Dan jika Yun Che mati, otomatis dia pun juga akan mati.

Penyesalan yang tak terhingga melesak masuk ke dalam dada Yun Che, membuatnya kesulitan untuk bernafas, menusuk-nusuknya tanpa ampun… Selama ia berusaha menyelinap ke dalam goa Flame Dragon, Jasmine sudah membujuknya untuk mengurungkan niatnya tersebut sebanyak tiga kali, dan gadis itu juga memperingatkannya tentang harta karun sang naga yang memiliki kekuatan imprint yang luar biasa besar; maksudnya, harta karun sang naga itu bukanlah barang yang mudah didapatkan. Namun Yun Che tetap saja bersikeras untuk mengambilnya tanpa ragu sedikit pun… pemuda itu memang memiliki keberanian yang besar, tetapi dia melupakan satu hal yang penting; dia bukan lagi Yun Che yang namanya dikenal oleh semua orang di seantero benua, namun saat ini dia hanyalah orang biasa yang baru mencapai tingkat keempat dari Elementary Profound Realm. Dan yang harus ia hadapi barusan adalah seekor Emperor Profound Beast. Sedikit saja ia membuat kesalahan, dia bisa kehilangan nyawanya dan menyeret Jasmine bersamanya menyambut kematian.

Tapi pada akhirnya, tetap itulah yang terjadi.

“Maafkan aku, Jasmine… Maafkan aku… Maafkan aku… seharusnya aku mendengarkanmu, seharusnya aku tidak seceroboh itu…” bersamaan dengan kedua tangannya yang merasakan perubahan di tubuh Jasmine, dada Yun Che terus terasa semakin sesak. Dia terus meminta maaf pada Jasmine lagi dan lagi… tapi tidak peduli seberapapun ia meminta maaf pada gadis itu dan menyesali perbuatannya, hal itu tidak akan membuat situasi ini menjadi lebih baik.

Bibir Jasmine tampak bergerak pelan, namun suaranya terlalu lirih untuk didengar.

Perlahan tubuhnya menjadi semakin dingin, dan tanpa sadar, tubuh gadis kecil itu sudah terlihat semi-transparan.

Walaupun tubuh Jasmine sekarang ini hanyalah bentuk ethereal sangat halus yang bergantung pada kekuatan hidup Yun Che, namun bagaimanapun juga, tubuh itu tetaplah inang bagi jiwa Jasmine. Jika tubuhnya menghilang, maka jiwa Jasmine yang kehilangan inangnya akan menguap dan lenyap digerogoti oleh racun mematikan tersebut.

“Jasmine!! Jasmine!!”

Yun Che menggertakkan giginya kuat-kuat sementara tangan kirinya terus berusaha setengah mati untuk mengeluarkan kekuatan penetralan racun milik Sky Poison Pearl. Tangan kanan pemuda itu mengguncangkan tubuh Jasmine keras-keras, berusaha untuk mendapatkan kembali sedikit saja kesadarannya. Hingga akhirnya, dia melihat bibir pucat gadis itu bergumam tanpa suara. Yun Che membatu sejenak, kemudian buru-buru menempelkan telinganya di dekat bibir Jasmine.

“Aku… tidak mau… mati… aku belum… membalaskan dendam… ibu… dan saudara laki-lakiku… aku belum… membunuh… mereka semua… aku… tidak mau… mati…”

(Catatan Penulis: Jasmine menggunakan kanji 母后 untuk merujuk pada ibunya. Dalam Bahasa Inggris, bisa berarti “my mother, the empress” (ibuku, sang ratu yang mulia), namun arti yang sesungguhnya adalah “ibu” dan biasanya digunakan oleh putra-putri keluarga kerajaan.)

Suara Jasmine bergetar dan sangat sulit untuk didengar bahkan dalam jarak sedekat ini. Namun, suaranya itu mampu membuat hati Yun Che berdebar kencang.

Ketika Jasmine pertama kali muncul dan memperkenalkan dirinya pada Yun Che secara resmi empat bulan yang lalu, pemuda itu sudah merasakan suatu perasaan yang familiar terhadap Jasmine… Perasaan yang membuatnya teringat pada dirinya di masa lalu… Jasmine memang masih muda dan luar biasa jelita, bahkan memanggil dirinya sendiri “tuan putri”; seharusnya dia tumbuh dengan dihujani cinta kasih dari puluhan ribu orang di sekitarnya… Namun, matanya yang indah itu selalu mengerling dingin dan apatis. Ketika membunuh orang, raut wajahnya sama sekali tidak menyiratkan sedikit pun rasa takut ataupun simpatik, tapi malah menggambarkan kekejaman…. dan ketidakpedulian.

Kali ini, akhirnya Yun Che mengerti apa yang membuat gadis itu terasa begitu familiar baginya. Jasmine mirip sekali dengannya di masa lalu…

Sosok yang dikuasai oleh kebencian!

Di Azure Cloud Continent, ketika ia masih berumur tujuh belas tahun, dia hidup di bawah bayang-bayang gurunya yang dikejar-kejar sampai mati. Saat itu, hanya kebencian, sebuah kebencian tak berujung, yang bergelung di dalam dadanya… Waktu itu, ekspresi yang tersirat di matanya; rasa apatis dan kebengisannya… mungkin dia yang saat itu sangatlah mirip dengan Jasmine yang ia lihat saat ini.

Namun, pada waktu itu, dia sudah berumur tujuh belas tahun dan sudah bisa dianggap sebagai orang dewasa. Namun Jasmine… dia masih berusia tiga belas tahun. Yun Che tidak bisa membayangkan kebencian macam apa yang mendorong gadis kecil sepertinya, yang seharusnya sepolos malaikat, berubah menjadi iblis kecil yang apatis dan kejam.

Dalam gumaman Jasmine barusan, Yun Che menyadari bahwa gadis itu mengucapkan kata “aku”, bukannya “tuan putri ini” seperti yang biasa ia lakukan. Hal tersebut membuat perasaan Yun Che bercampur aduk. Karena dalam kondisi Jasmine yang hampir kehilangan kesadarannya ini, itu berarti tiap patah kata yang keluar dari mulutnya barusan berasal dari jiwanya, lubuk hati terdalamnya. Dan itu juga berarti bahwa kata “tuan putri ini” yang biasa ia ucapkan bukanlah caranya ia biasa merujuk pada dirinya sendiri melainkan merupakan sebuah sebutan yang ia buat-buat sendiri. Seolah dengan menggunakan panggilan tersebut, ia terus berusaha untuk mengingatkan dirinya akan sesuatu.

Suatu perasaan yang familiar, seolah mereka berdua pernah menjalani takdir yang sama, perasaan itu muncul dari lubuk hati Yun Che yang terdalam, berlapiskan dengan perasaan bersalahnya pada Jasmine. Dia pun kembali menggoyang-goyangkan tubuh Jasmine dengan keras dan berteriak kencang: “Jasmine, bangun! Kau tidak boleh kehilangan kesadaranmu! Bukankah kita sudah membuat kesepakatan? Kau memberikanku profound vein yang baru, tapi aku belum menunaikan kewajibanku padamu… Apakah kau mau pergi begitu saja!!! Juga… Kau adalah guruku, namun kau belum mengajarkan apapun padaku… Sebagai guruku, kau tidak boleh bersikap seenaknya saja seperti itu! Bangun, kumohon bangun!!”

Namun tidak peduli seberapapun putus asanya Yun Che mengeluarkan kekuatan Sky Poison Pearl dan mengguncang tubuhnya, Jasmine sudah tidak lagi merespon. Wajah mungilnya mulai kehilangan warnanya, dan tubuhnya semakin tampak transparan. Meskipun bisa saja menyentuh tubuh Jasmine dalam keadaan seperti ini, tetapi Yun Che merasa ngeri karena ia sudah hampir bisa melihat jelas tanah pasir di bawah tubuh Jasmine, menembus lewat dadanya.

Gelombang perasaan dingin yang menyakitkan masuk menghujam dada Yun Che, dan bahkan sampai membuat gigi-giginya nyaris hancur karena ia mengertakkan mereka terlalu kuat. Yun Che memukul kepalanya sendiri keras-keras, tetapi perih di dadanya tidak sedikit pun menguap… Ini salahmu! Kenapa kau tidak mendengarkan ucapan Jasmine! Hidupmu saat ini bukan hanya milikmu seorang, tetapi juga milik Jasmine… Pada akhirnya, kau membuat Jasmine menyelamatkanmu hingga harus mempertaruhkan nyawa! Kau adalah orang yang membunuh gadis kecil ini!

Yun Che menggertakkan giginya dan mengakui hal tersebut meski pahit. Dari luka di dahinya yang tadi ia pukul keras-keras, setetes darah mengalir perlahan dan jatuh ke atas permukaan tanah yang meletup-letup. Sambil menatap darahnya yang menghilang di tanah, menguap dengan cepat, mendadak Yun Che membeku di tempat: “Darah… Ya, darahku!!”

Jasmine menghisap darahnya untuk menyambung hidupnya dengan kehidupan Yun Che; tubuh ethereal gadis itu pun setengahnya terbentuk dari darah dan kekuatan hidup Yun Che. Pada waktu yang bersamaan, tubuh pemuda itu tersambung dengan Sky Poison Pearl; karena itulah darahnya mengandung pertahanan anti-racun yang sangat tinggi!

Sambil bergantung pada secercah harapan kecil tersebut. Yun Che sama sekali tidak merasa ragu sedetik pun. Pemuda itu mengulurkan tangan kirinya dan menyabetnya kasar dengan kuku tangan kanannya, hingga membuat luka menganga yang panjang dan dalam, sebuah luka yang mengeluarkan banyak sekali darah segar. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Yun Che menggunakan jarinya untuk membuka bibir pucat Jasmine, dan meneteskan darahnya mengalir ke dalam mulut Jasmine, setetes demi setetes. Pada saat yang sama, ia menggunakan tangannya dan menekan bahunya kuat-kuat untuk membuat darahnya semakin mengalir deras.

Jasmine, aku tidak akan membiarkanmu mati… tidak akan!

Bahkan meskipun hanya untuk janji yang kubuat di masa lalu, pada tahun itu…

Darah segar segera mengalir turun dan jatuh ke dalam mulut Jasmine yang terbuka. Namun, buliran darah perlahan mengalir keluar dari sudut bibir gadis itu setelahnya… Jasmine benar-benar tak sadarkan diri dan tidak mampu menelan dengan sendirinya.

Yun Che mengerutkan dahinya. Setelah merasa ragu selama beberapa saat, pemuda itu mengangkat tangan kirinya, menggigitnya hingga mengeluarkan darah, dan menghisapnya. Setelah ia menghisap sebanyak kurang lebih setengah mulut penuh, ia membungkukkan tubuhnya dan membuka bibir Jasmine lagi lembut dengan tangannya: “Jika kau bisa bangun nanti, tidak peduli bagaimana nanti kau akan menghukumku, aku akan menerimanya…”

Dalam gumamannya yang lirih, Yun Che menundukkan kepalanya, perlahan menyentuh bibir Jasmine dengan bibirnya, dan memasukkan darah di dalam mulutnya ke dalam mulut Jasmine dengan begitu hati-hati. Yun Che meniupkan darahnya, membuatnya mengalir masuk ke dalam mulut Jasmine, masuk ke dalam tubuhnya.

Meskipun mulut Jasmine sangat pucat, namun tetap terasa halus dan lembut, membuat Yun Che ingin tetap pada posisi tersebut lebih lama lagi. Setelah ia selesai menyalurkannya, Yun Che kembali menyesap darah dari lukanya, kemudian menyalurkannya lagi ke mulut Jasmine.

Setelah mengulangi hal tersebut sampai beberapa kali, luka di lengannya mulai menutup, membuatnya kesulitan untuk menghisap darahnya lagi. Dengan cepat, Yun Che pun mengulurkan tangan kirinya lagi dan membuat luka baru di sebelah kanan luka yang lama; dan darah segar pun kembali mengalir dalam aliran yang deras…

Darah terus disalurkan ke mulut Jasmine. Ketika Yun Che membuat luka yang kelima di tangan kirinya, sekitar seperlima darah di dalam tubuhnya telah mengalir di dalam tubuh Jasmine. Kepala Yun Che mulai berkunang-kunang. Namun pada saat yang bersamaan, dia menyadari bahwa tubuh Jasmine sudah tidak lagi transparan dan perlahan-lahan mulai kembali berwujud. Serangan racun mematikan itu pun mulai berkurang karena kekuatan Sky Poison Pearl, bagai api yang padam tersiram air.

Berhasil… Aku berhasil!!

Gelombang kegembiraan bercampur dengan perasaan takjub di dalam dada Yun CHe. Tanpa keraguan sedikitpun, pemuda itu kembali mengulurkan tangannya lagi, dan membuka luka keenam. Lengannya sudah mati rasa, tapi hatinya saat ini dipenuhi dengan kebahagiaan… jika darahnya memang bisa menyelamatkan Jasmine, lalu apa lagi yang ia tunggu?

Jika tubuh manusia kehilangan lebih dari seperlima total volume darahnya dalam waktu singkat, hal tersebut bisa mengarah pada kegagalam fungsi pada sistem tubuh; jika lebih dari sepertiga, akan menimbulkan syok pada tubuh; dan jika lebih dari setengah, maka akan menyebabkan kematian….

Yun Che, yang memiliki pengetahuan medis yang luas, pastinya ia sudah memahami hal tersebut; namun gerakannya, dari awal sampai akhir, tidak memperlihatkan sedikit pun keraguan atau pun kelemahan saat ia terus menambahkan luka di lengan kirinya, satu per satu.

Ketika ia akhirnya sudah tidak mampu lagi bertahan dengan sakit kepala yang luar biasa membuatnya berkunang-kunang dan sempoyongan, pandangannya mulai kabur sambil ia berusaha bersandar pada dinding batu di belakangnya…

Di tengah ambang kesadarannya, siluet seorang gadis yang selalu berusaha untuk ia lupakan itu pun perlahan muncul…

Selama tujuh tahun ia hidup di dalam kebencian, untuk mendapatkan kekuatan yang lebih besar lagi, ia terus berlatih tiap hati hingga seluruh tubuhnya babak belur dan tidak hanya sekali atau dua kali ia hampir menyambut kematian… Dan gadis itu selalu mengobati luka-lukanya dengan lembut, membawakan makanan enak untuknya, menjahit kembali lubang-lubang pada pakaiannya, dan membersihkan tempat tidurnya… Dan keesokan harinya, gadis itu harus melihatnya pergi dalam diam…

Selama periode waktu tersebut, gadis itu adalah satu-satunya kehangatan, dan tempatnya berlabuh sehingga ia bisa tertidur lelap.

Namun, pada saat itu juga, hanya ada kebencian di dalam hatinya. Selain ketika berusaha bertahan dan terus melawan rasa sakit yang disebabkan oleh luka-luka di tubuhnya, dia tidak pernah menemani gadis itu sekali pun, tidak pernah membelikannya satu pun hiasan rambut, dan tidak pernah membuat janji padanya; bahkan ia pun tidak pernah tersenyum padanya…

Sampai pada hari gadis itu meninggalkannya untuk selamanya di dalam rengkuhannya. Waktu itu, ekspresi yang tersirat di mata dan suaranya menjadi sebuah luka menyakitkan yang tak terlupakan yang terus menggerogoti hati Yun Che…

“… Di dalam hatiku, ada banyak sekali luka… seperti yang ada pada tubuhmu… Tapi… Aku tidak menyesalinya… menjadi seorang gadis yang menemanimu ketika kau sendirian… meskipun sangatlah menyakitkan… tapi aku berbahagia…”

“…. Yun Che, kakak laki-lakiku tersayang… jika nanti kau sendirian dan ada seorang gadis yang mau menemanimu… maka dia… pasti adalah seorang malaikat yang dikirimkan untukmu dari langit… Jangan biarkan dia terluka lagi… ya….?”

Translator / Creator: Bewie