September 26, 2016

7 Killers Chapter 1 – A Meeting of Legends (Part 1)

 

Tangan Du Qi berada di meja, tangan kirinya tertutup oleh topi jerami yang besar. Tidak ada yang tahu mengapa tangan kirinya berada di bawah topi jerami itu

**

Tentu saja Du Qi memiliki lebih dari satu tangan. Tangan kanannya menggenggam sepotong roti. Tubuhnya dengan roti tersebut memiliki kemiripan, kering, dingin, dan keras.

Ia duduk di sebuah rumah makan yang bernama Heavenly Fragrance

Di mejanya terdapat makanan dan anggur.

Namun, ia tidak menyentuhnya sama sekali, ia bahkan tidak minum. Ia hanya menguyah perlahan roti yang ia bawa.

Du Qi merupakan seorang yang penuh dengan kewaspadaan, dan ia tidak mau semua orang nantinya akan membicarakannya bahwa ia telah mati diracun di sebuah rumah makan.

Menurut perhitungannya, setidaknya 770 orang di Jianghu ingin membunuhnya, namun nyatanya ia masih hidup.

Pada waktu itu sore hari, sebelum senja..

Di jalanan yang sibuk di luar rumah makan itu, terdengar suara derap langkah kuda. Kuda tersebut berlari kencang dan menabrak orang-orang, kios-kios, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan rumah makan.

Pengendara kuda tersebut adalah orang yang ramping dan lincah, dan memiliki sebilah pedang panjang yang tergantung pada pinggangnya. Saat ia melihat tulisan “Heavenly Fragrance” ia melompat dari sadel, dengan gerakan tubuh berputar ia terbang  dan  masuk ke dalam rumah makan.

Seisi  rumah makan itupun heboh, namun Du Qi tetap terdiam tak bereaksi.

Ketika pria besar pembawa pedang itu melihatnya, otot-ototnya terlihat mengencang, dan ia mengambil nafas panjang sebelum mendekatinya.

Dia tidak menyapa Du Qi. Sebaliknya, ia membungkuk dan mengangkat sedikit topi di atas meja itu. Dia melihatnya untuk sesaat, dan wajah kemerahan tiba-tiba menjadi pucat. “Ya..” gumamnya, “Kau orangnya.”

Du Qi tak bergerak, bahkan tak membuka mulutnya sama sekali.

Orang itu mencabut pedangnya, dan mengayunkannya ke tangan kirinya sendiri.

Dua buah jemari terjatuh ke atas meja, sebuah jari kelingking dan jari manis.

Keringat dingin deras bercucuran layaknya hujan di muka pucat pria itu, dan dengan suara serak ia berbisik, “Apa ini sudah cukup?”

Du Qi tak bergerak, juga tak membuka mulutnya sama sekali.

Pria besar itu pun menggertakan gigi dan mengayunkan pedangnya kembali.

Kali ini, sepotong tangan jatuh ke atas meja. “Apa ini sudah cukup?” Ia bertanya

Du QI akhirnya melihat kepadanya, lalu mengganggukan kepala dan berkata “Pergi”

Wajah pria itu berkerut dengan rasa sakit; namun tetap ia menghembuskan nafas panjang dan berkata, “Terima kasih banyak”.

Tanpa berkata-kata lagi, ia terhuyung-huyung keluar dari rumah makan

Dari gerakannya, pria tersebut sepertinya bertenaga besar, dan memiliki  seni bela diri yang sangat tinggi. Bagaimana mungkin setelah melihat apa yang ada di bawah topi Du Qi, ia bersedia untuk memotong tangannya sendiri dan kemudian berterima kasih ?

Apa rahasia yang ada di bawah topi ini..

Tak ada yang tahu.

**

Senja itu..

Dua orang bergegas memasuki rumah makan. Mereka mengenakan pakaian sutra dan berpenampilan seperti bangsawan.

Begitu melihat mereka, banyak orang di rumah makan berdiri dan membungkuk, dengan penuh hormat.

Dalam jarak 250 mil, sangat sedikit orang yang tidak mengenal anggota elit Duan Clan “Golden Whip dan Silver Blade ” Duan Jie dan Duan Ying. Lebih sedikit lagi orang yang ingin bersikap tidak sopan kepada mereka.

Duan bersaudara tidak menyapa siapa pun, bahkan tidak Du Qi. Mereka hanya mendekati meja dan melihat di bawah topi. Wajah mereka memucat.

Saling pandang, mereka berkata, “Ya, dia orangnya.”

Duan Jie meletakkan tangannya di sisi tubuhnya, membungkuk dan berkata, “Selamat datang, Tuan. Apakah Anda memiliki perintah untuk kami? ”

Du Qi tidak bergerak, bahkan tidak membuka mulutnya.

Karena dia tidak bergerak, Anggota Elit dari Duan Clan itu juga tidak berani bergerak, dan dipaksa untuk berdiri di sana dengan canggung.

Dua orang lainnya memasuki rumah makan. Mereka “Jinx Sword” Fang Kuan dan “Invincible Iron Fist” Tie Zhong Da. Sama seperti  Duan bersaudara, mereka mengangkat topi jerami dan melihat apa yang ada dibawahnya, kemudian segera membungkuk dan bertanya “Apakah anda memiliki perintah untuk kami?”

Tidak ada instruksi, sehingga mereka juga berdiri dalam diam. Dengan tidak ada perintah yang diberikan, tidak ada yang berani beranjak pergi.

Orang-orang ini adalah pahlawan perkasa dari dunia persilatan, mengapa, setelah hanya melihat sesuata yang berada dibawah topi itu, mereka begitu takut dan menunjukan penghormatan sampai seperti itu?

Mungkinkah bawah topi tersembunyi sihir yang mengerikan?

**

Saat Itu beranjak malam.

Lentera menerangi rumah makan itu.

Lampu lentera bersinar di wajah Fang Kuan dan lain-lain, tampak keringat sedang bercucuran. Keringat dingin.

Tidak ada perintah yang diberikan oleh Du Qi, jadi satu dari mereka mungkin berpikir untuk bersiaga.

Tapi melihat ekspresi mereka, tampaknya mereka memperkirakan sesuatu yang mengerikan terjadi setiap saat.

Malam telah tiba, dan bintang-bintang mulai bermunculan.

Di luar rumah makan, dalam kegelapan, tiba-tiba terdengar suara seruling bambu bersiul-siul, menusuk dan melengking, seperti raungan hantu.

Ekspresi wajah Fang Kuan dan yang lainnya berubah lagi, pupil mata mereka membesar.

Du Qi tidak bergerak. Oleh karena itu, mereka juga tidak bergerak.

Tiba-tiba, suara menggelegar meletus dari atap, dan empat lubang muncul.

Empat orang turun perlahan, pria berbadan tegap, masing-masing memiliki tinggi lebih dari tujuh kaki  dan bertelanjang dada, mengenakan celana merah darah  dan dengan sabuk emas. Dipinggang mereka terdapat parang yang memiliki bentuk yang aneh dengan gagang terbuat dari emas.

Keempat pria berotot mendarat di lantai bagai kapas yang sangat ringan, dan langsung mengambil posisi menjaga empat penjuru rumah makan.

Ekspresi mereka terlihat gugup, dan di mata mereka terpancar ketakutan yang tak terlukiskan.

Ketika semua  mata  di rumah makan tertuju pada ke empat orang itu, pada saat yang sama tiba-tiba muncul seorang lagi.

Pria ini mengenakan mahkota emas dan jubah sutra emas. pinggangnya dikelilingi oleh sabuk emas, yang di atasnya tergantung parang emas. Wajahnya putih, seputih  gading dan bulat seperti bulan.

Meskipun Elit Duan Clan dan Fang Kuan merupakan pendekar bermata tajam, mereka tidak menyadari  bagaimana orang ini memasuki rumah makan, apakah dia turun dari atap atau masuk melalui jendela.

Namun, mereka tahu siapa dia.

The South Sea Millionaire, Golden Crown King of the Golden Mountain, Pangeran Wu Ji.

Bahkan jika seseorang tidak pernah melihat dia sebelumnya, melihat pakaiannya dan auranya sudah cukup untuk dapat menyimpulkan identitasnya.

Du Qi tidak bergerak, bahkan tidak melihat dia.

Pangeran Wu Ji melangkah maju, mengangkat topi, dan melihat di bawah topi itu. Dia menghela napas dan berkata, “Ya, kau orangnya.”

Pada awalnya ekspresinya sudah sangat gugup, tapi sekarang ia mengenakan senyum nyaman. Dia tiba-tiba membuka sabuk emasnya  yang lebar dan dari dalam sabuk itu terdapat 18 butir mutiara berkilau.

Pangeran Wu Ji meletakan  mutiara-mutiara itu di atas meja, beserta sabuk emasnya, dan sambil  tersenyum ia berkata, “Apakah ini cukup?”

Du Qi tidak bergerak, juga tidak membuka mulutnya.

Dalam kegelapan, suara suling bambu menjadi semakin nyaring dan semakin dekat.

senyum Pangeran Wu Ji tampak dipaksakan, lalu ia mengambil mahkota emas kepalanya, mahkota yang berhiaskan 18 batu jasper hijau.

Dia menempatkan mahkota di atas meja dan berkata, “Apakah ini cukup?”

Du Qi tidak bergerak, juga tidak membuka mulutnya.

Pangeran Wu Ji melemparkan parang emasnya, dan berteriak, “Apakah ini cukup?”

Du Qi tidak bergerak.

Alis berkerut, Pangeran Wu Ji berkata, “Apa lagi yang kau inginkan?”

Du Qi tiba-tiba berkata, “Saya ingin ibu jari tangan kanan mu!”

Bila ibu jari dipotong, maka tangan kanannya tidak bisa memegang pedang atau melempar belati!

Wajah Pangeran Wu Ji nampak terkejut.

Suara seruling bambu itu bahkan lebih keras, semakin mendekat, suaranya bagai jarum yang menusuk telinga.

Pangeran Wu Ji mengertakkan gigi, mengulurkan tangan kanannya dan menjulurkan ibu jari, lalu membentak, “Pedang!”

Salah satu pria tegap yang berada di sudut ruangan menarik pedangnya. Ada kilatan emas saat pedang itu terbang melintasi ruangan dan kemudian berputar kembali ke tangan pria itu.

Sebuah ibu jari penuh darah mendarat ke meja.

Wajah Pangeran Wu Ji pucat. “Apa ini cukup?”

Du Qi akhirnya mengangguk dan menatapnya, “Apa yang kau inginkan?”

Pangeran Wu Ji berkata, “Aku ingin kau membunuh seseorang.”

“Membunuh siapa?”

“The Ghost King.”

“Yin Tao?” Tanya Du Qi.

“Tepat sekali.”

Du Qi tak mengatakan apa-apa lagi, dan tidak bergerak.

Fang Kuan, Tie Zhong Da, yang merupakan Elit Duan Clan berdiri dengan wajah pucat.

Mendengar nama “Ghost King” Yin Tao sudah cukup untuk mengguncang jiwa mereka.

Tiba-tiba surara seruling bambu yang bertiup berubah menjadi suara seorang wanita berkabung, atau orang buta bermain musik di malam hari.

Dengan berbisik, Pangeran Wu Ji mengatakan, “Padamkan lampu!”

Rumah makan itu di terangi oleh sedikitnya dua puluh buah lampu.

Keempat orang yang bertelanjang dada melambai serentak, dan cahaya keemasan bersinar yang merupakan energi dari pedang mereka berterbangan, memadamkan lampu dalam sekejap.

Rumah makan menjadi gelap gulita, tapi tiba-tiba, puluhan lentera menyala di luar rumah makan.

Cahaya berwarna kehijauan, melayang lembut di atas angin.

Pangeran Wu Ji tersentak: “The Ghost King ada di sini!”

**

Angin malam menusuk tajam dan cahaya kehijauan bersinar menyilaukan mata semua orang yang hadir. Semua dari mereka ketakutan, ekspresi takut itu terpancar di wajah mereka, seolah-olah mereka  adalah jiwa-jiwa yang baru diusir dari kedalaman neraka.

Ditengah alunan suara seruling bambu, tiba-tibat terdengar tawa jahat. “Benar! Aku telah tiba!”

Berambut panjang, dengan wajah seperti lilin, Ghost King mengenakan  jubah linen putih panjang,  tinggi dan kurus seperti bambu. Dia terbang ke dalam ruangan dan berdiri di sana bergerak kesana-kemari,  menakutkan.

Matanya berwarna kehijauan  dan bersinar saat ia menatap Pangeran Wu Ji. Dengan tertawa sinis, ia berkata, “Aku sudah bilang, kau akan mati!”

Pangeran Wu Ji tertawa dingin. “Sebenarnya, kau yang akan mati!”

“Aku?”

“Kau seharusnya tidak datang ke sini,” jawab Pangeran Wu Ji. “Sekarang karena kau telah berada disni, kau akan mati!”

“Siapa di sini mungkin membunuhku?”

“Bukan aku,” Pangeran Wu Ji mengaku.

“Baiklah kalau begitu? Siapa?”

“Dia!”

“Dia” adalah Du Qi, tentu saja.

Du Qi masih belum beranjak, bahkan ekspresinya tidak berubah.

Dengan mata berwarna kehijauan Ghost King Yin Tao menatapnya. “Kau dapat membunuh ku?”

Jawabannya sederhana: “Ya!”

Yin Tao tertawa keras. “Kau akan membunuhku dengan apa? Jangan bilang kau akan menggunakan topi jelek! ”

Du Qi tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya mengulurkan tangan kanannya, dan perlahan-lahan mengangkat topi jerami.

**

Apa yang berada di bawah topi itu?

Tak ada yang lain, kecuali tangan.

Sebuah tangan kiri.

tangan panjang, dengan tujuh jari.

**

Tangan itu kasar, seperti batu karang yang sejak lama telah dihantam oleh gelombang laut.

Ketika ia melihat tangan itu, Ghost King Yin Tao tiba-tiba tampak seperti ia sendirilah yang telah melihat hantu. “7 Killers!”

Du Qi tidak bergerak, juga  tidak membuka mulutnya.

Yin Tao mengatakan, “Saya tidak datang mencarimu. Akan lebih baik jika kau mengurus urusanmu sendiri. ”

“Ini adalah urusanku.”

“Apa yang kau inginkan?” Tanya Yin Tao.

“Agar kau pergi” Jawab Du Qi.

kaki Yin Tao bergetar. “Baik.  aku akan pergi. ”

“Tinggalkan kepalamu, maka kau boleh pergi!”

Mata  Yin Tao terbelalak. “Kepala ku ada di sini, kenapa kau tidak datang dan mengambilnya?

“Mengapa kau tidak mengirimkannya padaku?” Jawab Du Qi.

Yin Tao tertawa tertawa melengking.

Saat ia tertawa, tubuhnya melayang menuju Du Qi seperti bola arwah.

Sambil melayang terbang ia menembakan 12 buah cahaya hijau.

Du Qi melambaikan topi jeraminya, dan cahaya lentera hijau yang sebelumnya melayang-layang hilang. Pada saat yang sama, pedang giok panjang muncul di tangan Yin Tao, menusuk ke arah Du Qi.

Pedang itu terbang di udara, dengan gerakan tebasan yang aneh, tapi hanya gagang hijau dari pedang tersebut yang terlihat, sehingga mustahil untuk melihat ke arah mana pedang tersebut menebas.

Namun, tangan Du Qi sudah mencakar ke depan.

Ditengah cahaya kehijauan yang dihasilkan oleh serangan Ghost King, terdapat tangan yang berwarna-ke abu-abuan siap mencakar.

Bayangan pedang  itu berputar, dan bentuk tangan berubah. Tangan itu menyerang, total terdapat 7 gerakan, dan tiba-tiba suara “ding” terdengar , cahaya dari gerakan pedang itu menghilang.  Pedang di tangan Ying Tao patah.

Pedang itu bersinar lagi dan menyambar  menuju tangan Du Qi.

Tapi Du Qi sudah melemparkan patahan dari pedang  itu kearah Ghost King dan patahan pedang itu tertanam dalam-dalam di tenggorokan Ying Tao.

Kecepatan pedang itu tak terlukiskan. Gerakan tangan Du Qi juga tidak terlihat dengan jelas.

Orang-orang di ruangan itu hanya mendengar rintihan dan suara Ying Tao yang jatuh ke tanah.

Tidak ada suara, tidak ada cahaya.

Di luar rumah makan, lentera semua padam, yang ada hanya kegelapan di mana-mana.

Sebuah keheningan, dan kegelapan yang  mematikan.

Bahkan suara nafas pun tak terdengar.

Setelah sesaat, terdengar suara  Pangeran Wu Ji berkata “Terima kasih banyak.”

Du Qi mengatakan, “Pergi, dan bawa Ying Tao bersamamu!

“Baik.”

Setelah itu, suara langkah kaki terdengar bergegas turun dan keluar dari rumah makan.

Du Qi kembali berkata “Kalian berempat, pergilah. Tinggalkan senjatamu. ”

“Baik!” Keempat orang itu menanggapi serempak, menjatuhkan senjata mereka ke meja. Sebuah cambuk, dua bilah golok, dan pedang Jinx.

“Ingat,” Du Qi berkata, “Lain kali jika kalian membawa senjata di hadapanku, kalian akan mati.”

Tak ada yang berbicara sepatah kata pun. Keempat orang itu beranjak pergi.

Kembali sunyi dalam kegelapan.

Setelah beberapa waktu, cahaya lentera mulai memancar.

Lentera itu berada di tangan orang yang sebelumnya telah minum sendirian di rumah makan tersebut. Semua pelanggan lainnya telah pergi, hanya dia yang tersisa.

Ia tampak seperti seorang pria paruh baya yang ramah,  dengan senyum ramah ia menatap Du Qi. “Satu tangan, tujuh pembunuh,” katanya.  “Benar-benar sesuai dengan reputasinya.”

Du Qi mengabaikannya, bahkan tidak memandangnya. Sebaliknya, ia mengambil senjata dan harta dari atas meja dan menempatkan mereka ke dalam tas jerami, kemudian perlahan-lahan beranjak pergi.

“Janganlah pergi dulu,” Cegah pria paruh baya itu.

Du Qi memutar kepalanya. “Kau siapa?”

Dengan suara yang rendah hati, orang itu menjawab, “Aku Wu Bu’ke.”

Du Qi tertawa dingin. “Apakah Anda juga ingin mati hari ini?”

Wu Bu’ke menjawab, “Saya mendapat perintah untuk menyampaikan pesan kepada Anda.”

“Pesan apa?”

“Ada seseorang yang ingin bertemu master Du.”

Dengan suara dingin, Du Qi mengatakan, “siapapun yang  ingin bertemu dengan ku, mereka harus datang sendiri.”

“Tapi, orang ini …”

“Mereka bisa datang untuk bertemu denganku.  Pergi  dan sampaikan hal ini, dan juga sampaikan bahwa sebaiknya mereka datang sambil merangkak. Jika tidak, mereka akan pulang dengan merangkak. ”

Tanpa berkata-kata lagi, ia mulai berjalan menuruni tangga.

Wu Bu’ke masih tersenyum. Dengan suara rendah hati yang sama dia berkata, “Aku pasti akan membawa pesan Guru Du kembali ke tuan Dragon 5th.”

Du Qi tiba-tiba berhenti dan menoleh lagi, dan ada emosi di wajah berbatu-nya. “Dragon 5th? Dragon 5th dari San Xiang? ”

Wu Bu’ke tersenyum dan berkata, “Apakah ada Dragon 5th lainnya?”

Du Qi menjawab, “Di mana dia?”

“Dia akan berada di Paviliun Heavenly Fragrance di Hangzhou, pada tanggal 15 Juli”

Wajah Du Qi ditutupi dengan ekspresi yang sangat aneh, dan dia tiba-tiba berkata. “Baiklah, aku akan ke sana.”

Translator / Creator: doroboneko88