October 1, 2016

7 Killers Chapter 8 – Heaven’s Net Is Wide Meshed, Nothing Escapes It (Part 2)

 

Senja.

Senja datang setiap hari, tapi setiap senja berbeda.

Demikian pula, setiap orang meninggal, namun ada banyak jenis kematian. Beberapa orang meninggal dengan berani dan penuh kehormatan, orang lain mati dengan cara biasa dan dengan rendah hati.

Kematian Patriarch Hu bukanlah hal biasa atau rendah hati.

Banyak yang datang ke aula berkabung untuk menghormati. Beberapa adalah murid-murid dan teman-temannya, yang lain hanya datang karena reputasinya.Namun ada satu orang yang belum terlihat.

Madam Lovesickness belum tiba.

Liu Changjie tidak merasa cemas. Dia bahkan tidak bertanya tentang dia.

Dan ia membiarkan Dragon 5th untuk pergi. Ia tahu  bahwa Dragon 5th akan pergi, sama seperti ia tahu Qiu Hengbo akan tiba.

Bila Dragon 5th bertemu dengannya, hanya akan memperumit masalah.

Qiu Hengbo akan datang, jadi Dragon 5th tidak punya pilihan selain untuk pergi.

Ketika melihat Dragon 5th pergi, ia mengantarnya  ke ujung koridor lalu berkata, “Aku pasti akan datang mencarimu.”

“Kapan? Kapan kau akan datang?”

Liu Changjie tertawa. “Tentu saja ketika saatnya untuk minum.”

Dragon 5th tertawa. “Aku selalu minum di Heavenly Fragrance.”

**

Aula berkabung telah disiapkan dalam ruang utama yang luas.

Tak tampak ada Liu Changjie, hanya Orang tua berambut putih , bersama dengan stupa seorang anak perjaka dan seorang gadis perawan, berjaga-jaga di samping peti mati.

Malam semakin larut

cahaya lentera bersinar ke wajah kelelahan dari pelayan tua itu. Dia sendiri tampak seperti patung.

Mourning Couplets ditulis pada kain putih, digantung semua dan ada tumpukan replika dari rumah, kuda, kapal, dan benda-benda yang dianggap pembawa keberuntungan.

Barang-barang ini telah dipersiapan untuk dibakar pada malam “Receiving The Third” dan “Accompanying Night.”

Patung kereta kuda itu sangat realistis. Ada orang yang menuntun kuda, seorang pria mengendarai gerobak, bahkan pembantu tambahan.  Bentuk dan wajah mereka semua seperti hidup. Sangat disayangkan bahwa Patriarch Hu tidak bisa melihat hal itu.

Angin malam itu membosankan dan sepi, cahaya lentera berkedip-kedip, dan kemudian bayangan seorang pengunjung melayang ke ruangan.

Pengunjung itu mengenakan pakaian berkabung dari ujung kepala hingga kaku, pakaiannya berwarna gelap seperti seseorang yang ingin tetap tersembunyi di malam hari.

Pelayan tua mengangkat kepalanya dan meliriknya. Pria itu berlutut, dan pelayan tua berlutut di samping. Dia bersujud, dan pelayan tua bersujud dengan dia.

Ketika seorang pahlawan terkenal dari dunia persilatan seperti Patriarch Hu meninggal, sudah wajar beberapa orang yang tidak diketahui dari Jianghu datang di tengah malam untuk memberikan penghormatan.

Itu bukan hal yang tidak biasa, dan tidak ada yang terkejut atau bahkan bertanya tentang hal itu.

Namun, pengunjung itu bertanya, “Master Hu benar-benar meninggal?”

Pelayan tua itu menganggukan kepalanya.

“Tapi ia baik-baik saja hanya beberapa hari yang lalu. Bagaimana ia bisa tiba-tiba meninggal? ”

“Badai bisa datang dari langit yang cerah,” kata pelayan tua yang murung. “Orang-orang memiliki pagi dan malam hari, bencana dan kebahagiaan. Tidak ada yang bisa memprediksi hal ini. ”

“Bagaimana ia meninggal?” Tampaknya pengunjung  ini sangat tertarik pada penyebab kematian Patriarch Hu.

“Dia meninggal karena sakit. Dia memiliki penyakit yang sangat serius. ”

Pengunjung menghela nafas panjang. “Aku tidak bertemu dengan orang tua ini untuk waktu yang lama. Aku tidak tahu kalau aku tidak akan pernah melihatnya lagi. ”

“Sayangnya, anda hanya sedikit terlambat.”

“Apakah mungkin bagiku untuk memberi penghormatan kepada jenazahnya?” Tampaknya pengunjung ini tidak bisa melepaskan ide melihat Patriarch Hu.

“Tidak” Tanggapan hamba tua itu sangat langsung. “Orang lain boleh, tapi anda tidak boleh. ”

Pengunjung tampak terkejut. “Kenapa tidak?”

Pelayan tua menunduk. “Karena dia tidak mengenal anda.”

Pengunjung tampak lebih terkejut. “Bagaimana kau tahu bahwa dia tidak mengenalku?”

“Karena aku tidak tahu,” jawab pelayan itu dingin.

“Jadi kau tahu semua orang yang dia tahu?”

Pelayan tua itu mengangguk.

Pengunjung juga menurunkan kepalanya. “Dan aku bersikeras untuk melihatnya?”

“Saya tahu bahwa bukan anda yang ingin melihatnya,”responnya dingin. “Orang yang ingin melihatnya adalah orang lain.”

pengunjung mengerutkan kening. “Apakah kau tahu siapa yang ingin melihatnya?”

Pelayan tua mengangguk lagi. Dengan tertawa dingin, katanya, “Aku hanya bingung tentang satu hal.”

“Apa itu?”

“Madam Autumn tidak percaya bahwa master telah mati, jadi dia ingin melihat mayatnya. Mengapa dia tidak datang sendiri, melainkan mengirimkan Five Gates Thief seperti Anda untuk melecehkan rohnya? ”

Wajah pengunjung itu berubah. Tangannya membalik keluar untuk mengungkapkan sepasang sarung tangan kulit rusa berlapis racun.

Pelayan tua menolak untuk melihat dia.

Pengunjung itu tertawa. “Bahkan jika aku hanya Five Gates Thief, aku masih bisa mengambil nyawamu.”

Tampaknya dia benar-benar siap untuk untuk menyerang, tetapi pada saat itu, tawa dingin bisa didengar. “Tutup mulutmu dan pergi dari sini! ”

**

Suara itu mempesona, seolah-olah seperti irama  yang berasal dari surga.

Orang ketiga itu tidak terlihat ada di aula berkabung, dan  tidak mungkin untuk mengatakan darimana suara itu berasal.

Pelayan tua tampaknya tidak terkejut sama sekali. Wajahnya benar-benar tanpa ekspresi. “Jadi, kau akhirnya datang,” katanya dingin. “Aku tahu kau akan datang.”

Translator / Creator: doroboneko88