TI – Volume 11 / Chapter 11.3

Pelabuhan Kairo, merupakan pelabuhan terbesar di kota. Disinilah tim China kabur ketika mereka bertemu dengan tim India untuk pertama kalinya. Zheng menghela napas disaat kembali ke pelabuhan.

“Kami mulai berlari ke tempat ini. Kami beruntung bisa mencapai pelabuhan berkat Imhotep dan tim India. Kau tak akan tahu betapa menakutkannya disaat kota dipenuhi oleh zombie yang tak terhitung jumlahnya. Kami menyita sebuah bus kemudian terus melaju kedepan. Kami kehabisan amunisi dan pada akhirnya kami semua bergantung pada YinKong dan aku sedang bertarung dalam jarak dekat pada saat itu.

Kau lihat batu yang berada disana? Ha, ternyata batu itu masih berada ditempat yang sama. Bus yang kami pakai pada saat itu melompat kearah batu karang ini dan meluncur kearah kapal yang berada disungai. “

TI – Volume 11 / Chapter 11.2

Zheng merasakan energi darahnya habis sepenuhnya setelah kilat itu terjadi. Rasanya benar-benar tak nyaman jika sebuah energi itu langsung hilang. Qi miliknya juga terasa terganggu namun dengan cepat tenang kembali.

Beberapa detik kemudian, tentara Anubis bangkit dari tanah secara satu per satu. Mereka memiliki kepala anjing dan tubuh manusia. Tingginya tiga meter dan membawa pedang besar. Hal yang terpenting bukanlah penampilannya, namun jumlah mereka. Jika dilihat sekilas jumlahnya sekitar ratusan.

TI – Volume 11 / Chapter 11.1

Tombak Osiris menembus ke dalam dada Raja Scorpion. Cahaya emas muncul dari luka tersebut dan menimbulkan korosi disetiap bagian tubuh Raja Scorpion. Tubuhnya secara perlahan berubah menjadi debu. Beberapa detik kemudian, Raja Scorpion menghilang dari pandangan Zheng.

Zheng tergeletak di tanah. Dia hampir tak punya energy lagi untuk berdiri. Explosion adalah teknik yang ampuh namun tak mendapatkan kemampuan laju pemulihan dari garis keturunan vampir, beruntung Zheng masih hidup. Dia tak dapat melawan jika Imhotep membunuhnya sekarang.

“Menyelesaikan misi Scorpion King terlebih dahulu. Mendapatkan 10.000 poin dan dua Rank B reward. Membuka Gelang Anubis. Piramida akan runtuh setelah tiga puluh detik. Silahkan pergi dari piramida. “

TI – Volume 11 / Chapter 10.2

Zheng dan Imhotep melompat mundur secara bersamaan. Zheng mempertahankan rasa waspadanya karena mode unlocked masih belum diambil. Ia merasa seolah-olah terdapat senjata yang terarah menuju kearahnya dari balik pintu.

Disisi lain, Imhotep sudah terbiasa dengan aroma kematian, karena ia adalah dirinya sendiri. Dia merasakan aroma kematian yang begitu mengerikan ketika pintu itu terbuka. Aroma yang menimbulkan rasa takut dalam kematian yang telah bangkit dan mengalami Kutukan Hom Dai.

Didalam penglihatan mereka terdapat seseorang yang tinggi besar, setengah manusia, setengah kalajengking keluar dari ruangan. Tingginya hampir enam meter, dengan tubuh berotot, dan anggota tubuh seperti kalajengking. Kedua penyepitnya tampak seperti sepasang gunting. Makhluk ini menatap ketiga orang diruangan itu dengan penuh minat.

TI – Volume 11 / Chapter 10.1

Semua orang mendesah lega saat melihat piramid itu. Mayat-mayat pigmi yang mati memenuhi jalan yang mereka lewati. Tak ada satupun yang yakin apakah pigmi yang berada didekat pusat itu bisa selamat. Jika tidak maka jumlah mereka sendiri bisa saja menyingkirkan tim Zheng. Dewa mengerti mengapa begitu terdapat begitu banyak pigmi di hutan ini.

Jonathan berkata dengan keras. “Oh Tuhan, benar-benar terdapat berlian seukuran bola! Indahnya. Zheng, aku percaya padamu. Kau akan mengalahkan Raja Scorpion dan mendapatkan bala tentaranya beserta harta karunnya! Ha ha.”

Zheng tersenyum. “Aku akan akan mengambil bala tentaranya. Tentang harta karun itu, aku tak terlalu membutuhkannya, jadi aku akan membuangnya.”

TI – Volume 11 / Chapter 9.2

“Apa kau sudah membuat keputusan? Mau membakar mereka semuanya? “Xuan sedang melihat sebuah dokumen.

Kata Zheng. “Ya, bakar mereka semua. Sial, sudah terdapat senjata sniper rifles disana. Kita akan menghadapi tentara modern jika kita tak membunuh mereka. Aku penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Imhotep.”

Xuan menjawab tanpa mengangkat kepalanya. “70% kemungkinan dia sudah berada di dalam piramida. 20% kemungkinan dia mengawasi kita dari dekat. Kemungkinan 10% dia pergi ke Hamunaptra. Menurutmu yang manakah yang lebih bermanfaat bagi kita? “

TI – Volume 11 / Chapter 9.1

Mereka tinggal di Hamunaptra selama sepuluh hari lagi sampai seratus bom pembakar diangkut dari Eropa. Semua orang menaiki balon udara lagi dan menuju ke piramida emas. Zheng benar-benar pulih dalam sepuluh hari ini.

“Apa yang Dewa ciptakan adalah sebuah dunia, bukannya sebuah misi. Saya bertanya-tanya mengapa terdapat pilihan untuk kembali ke dunia sebelumnya. Jika itu ditujukan hanya untuk istirahat dan liburan, merasakan hidup dibumi saja sudah cukup.

Dewa telah mengisyaratkan bahwa kita tidak perlu mengikuti peraturannya. Ia ingin kita berkembang. Untuk mencari marabahaya dan mengatasinya. Teknik Explosion milikmu adalah tanda dari evolusimu.” Jawab Xuan kepada Zheng disaat ia melihat ke padang pasir dari dek.

TI – Volume 11 / Chapter 8.3

Zheng mendengarkan pemberitahuan tersebut dengan cermat diluar altar. Dia menyadari apa yang ia pikirkan selama ini benar-benar salah. Dia bisa menciptakan tubuh tanpa pikiran dalam dimensi Dewa, akan tetapi ia lupa dengan kriteria penting yang digunakan untuk penciptaan, ia hanya bisa menciptakan apa yang sudah dikenal ataupun diketahui olehnya.

Misalnya, dia bisa menciptakan tubuh yang terlihat sama persis dengan anggotanya namun bagaimana dengan DNA-nya? Dan bagaimana cara dia bisa menjamin bahwa bagian dalamnya sama? Jenis darah dan hal yang lainnya? Jadi apa yang akan ia buat hanya akan menjadi seseorang yang serupa.

“Yang mana berarti, terkecuali jika anda membekukan dan menyimpan mayat begitu seseorang meninggal, Anda diharuskan membayar 1000 poin tambahan. Namun hal ini masih jauh lebih baik daripada membayar dua kali poin dan reward untuk menghidupkan kembali pada dimensi Dewa.” Zheng mendesah lega. Lalu ia mulai menghitung berapa banyak poin yang telah ia dapatkan pada film ini.

TI – Volume 11 / Chapter 8.2

Zheng terhenti kaget selama beberapa saat. Suara para pigmi itu semakin dekat. Sebuah peluru menusuk punggungnya dan mendorongnya mundur pada saat ini. Dia menarik napas panjang lalu mengeluarkan sebuah granat dari ring. Saat ia menarik cincinnya, sebuah garis merah turun dari kepalanya dan bertemu dengan aliran udara didalam hatinya. Granat itu menyentuh tanah disaat yang bersamaan.

Waktu terasa berjalan lambat. Zheng bergerak cepat kearah kelompok itu. Batu yang ia injak itu hancur berantakan. Masing-masing langkah meninggalkan jejak kaki yang dalam ke tanah dan juga membawanya pergi sepanjang sepuluh meter ke depan. Sepertinya ia mengambang setengah meter diatas tanah.

TI – Volume 11 / Chapter 8.1

Cedera itu begitu serius. Zheng tak bisa bergerak cepat seperti sebelumnya atau lukanya itu akan melebar. Darah mulai tertumpah dari paru-parunya serta mencekiknya.

“Tingkat pemulihan yang luar biasa. Dagingmu telah tertutup. Hanya perlu waktu beberapa hari lagi untuk sembuh. Apakah kau benar-benar manusia?” Tanya Ardeth disaat ia membalut Zheng.

“Nah, tingkat pemulihan inilah satu-satunya hal yang kubanggakan. Namun dalam beberapa hari … oh tidak, kita tak punya waktu selama beberapa hari. Aku percaya Imhotep masih mengejar kita. Dia dapat dengan mudah menemukan kita dengan kekuatannya dihutan yang besar seperti ini. Selain itu, kita tak memiliki Book of Amun-Ra jadi jika ia menemukan kita, kita tak bisa melakukan apapun selain berlari.

TI – Volume 11 / Chapter 7.2

Semua orang tertidur nyenyak sampai keesokan hari, terkecuali Zheng. Akan tetapi, ia terlihat tampak begitu berenergi. Sepanjang malam ia berlatih qi untuk mendapatkan lebih banyak energi daripada tidur. Rasa lelah dan cedera akibat penggunaan kemampuan “ledakan” telah hilang. Dia berdiri setelah semua orang bangkit.

Mereka membersihkan diri mereka disungai. Zheng membagikan air padat dan makanan yang terkompres kepada yang lainnya. Mereka menelan pil dengan perasaan ingin tahu dan rasa lapar mereka segera hilang.

“Ini adalah barang yang bagus. Jika kau menjualnya kepada wanita yang berasal dari London dan sedang melakukan diet, serta berkata kepada mereka bahwa pil itu digunakan untuk menurunkan berat badan, kau mungkin bisa beruntung.” Jonathan berkata dengan penuh semangat.

TI – Volume 11 / Chapter 7.1

Hutan ini begitu besar. Yang mereka lihat hanyalah pepohonan pada saat mereka masuk ke dalam, dan beberapa oasis sesekali. Meskipun beberapa mayat dan kerangka yang mengalami dehidrasi menarik perhatian mereka untuk beristirahat di sana.

“Hari mulai gelap. Berapa lama lagi kita harus pergi? “Tanya Jonathan disaat ia sedang terengah-engah.

Zheng mengangkat bahu. “Kita harus menemukan medan yang lebih tinggi terlebih dahulu. Jika tidak, kita tak akan bisa menemukan arahnya. Meskipun sekarang terlalu gelap. Kita tak dapat melihat terlalu jauh. “

TI – Volume 11 / Chapter 6.3

Mereka saling berpandangan sejenak, lalu semua orang melakukan hal yang sama. Mereka bergegas memasuki balon udara. Teriak O’Connell. “Izzy, mendarat! mendaratlah!”

Orang berkulit hitam itu menikmati sebotol brendi disaat ia mendengar teriakan itu. Dia menoleh ke tempat O’Connell menunjuk. Botol itu turun ke geladak dan ia berteriak menjawab. “Aku tahu aku akan sangat sial jika mengikutimu. Aku tahu itu … ” Dia menghunuskan pedang dipinggangnya dan memotong tali yang mengikat balonnya.

Semua orang sudah sampai di geladak pada saat ini. Mereka menatap badai pasir yang semakin mendekat dan mendekat, serta melihat balon udara yang bergerak dengan sangat lambat.

TI – Volume 11 / Chapter 6.2

“Dengarkan. Kita akan menghadapi tiga patung saat ini. Entah mereka bisa bergerak ataupun tidak, untuk berjaga-jaga, kita harus melakukan persiapan terlebih dahulu. “

Zheng dan yang lainnya berdiri beberapa ratus meter di luar Kuil Abu Simbel. Dia menusuk lubang ketanah dengan tombaknya  lalu melemparkan beberapa granat. Granat-granat itu membuka beberapa lubang yang memiliki kedalaman setidaknya tiga belas meter dan lebar dua puluh meter. Tak memungkinkan bagi patung-patung itu untuk bisa naik kembali begitu sudah terjatuh.

“Itulah yang kukhawatirkan. Misi ini seharusnya tak sesederhana itu. Mereka mungkin bisa memanjat. Patung setinggi delapan meter dilubang sedalam tiga belas meter. Ia hanya perlu mengangkat tangannya untuk memanjat. Sama seperti bagaimana kau sedang terjebak dalam lubang sepanjang dua meter,” kata Zheng.

TI – Volume 11 / Chapter 6.1

“Inilah lokasi target ketiga kita, Kuil Osiris. Semoga saja pemandangan yang kulihat pertama kali adalah wanita-wanita cantik yang sedang menyambut kita. “Kata Jonathan.

Gelang itu terkadang memproyeksikan berbagai gambar ketika Zheng memakainya di pergelangan tangannya. Gambar-gambar ini adalah lokasi kuil yang tersisa di Mesir. Kelompok tersebut harus terus mengikuti petunjuk dan mencarinya satu per satu.

Tak banyak yang bisa dilakukan Zheng. Meskipun ia sudah pernah melihat filmnya, namun ia tak mengetahui dunia ini sepenuhnya. Seperti ketika seseorang di film tersebut menyebutkan sebuah lokasi, apakah kau dapat secara langsung menemukannya ketika kau berada didalam film itu? Kesimpulannya, kau harus terus bertanya kepada orang-orang agar kau bisa sampai ke sana.

TI – Volume 11 / Chapter 5.2

“Ya, kita bisa mencapai perubahan dalam waktu sebulan pada kecepatan ini. Namun, jika benar-benar terdapat tebing yang dalam, tak memungkinkan untuk menggali keseluruhan tempat dalam waktu dua bulan, kecuali jika kau bersedia menggunakan bahan peledak.” Seorang insinyur berkata kepada Zheng.

Zheng mengerti bahwa hal tak masuk akal jika tak menggunakan bahan peledak disaat tebing disana memiliki ketebalan seratus meter. Namun, terdapat sebuah buku kuno disana. Semuanya akan berakhir jika buka itu rusak karena ledakan.

TI – Volume 11 / Chapter 5.1

Kelompok itu kembali ke Hamunaptra dengan balon udara. Petualangan di makam yang terlalu intens ini tak hanya membuat mereka terluka saja, namun juga membuat mereka harus beristirahat penuh. Sepuluh menit dimakam membuat mereka patah semangat.

Zheng tak dapat menolak saran tersebut. Dia memiliki waktu enam puluh hari untuk membunuh Raja Scorpion. Dalam film tersebut, karakter protagonis hanya menghabiskan waktu selama tujuh hari. Jadi, ia merasa tak boleh terburu-buru melakukannya, karena sang Dewa mungkin akan melakukan sesuatu yang lebih menarik lagi.

“Tombak ini begitu bagus, kuat, dan nyaman. Satu-satunya masalah adalah aku harus mendapatkannya kembali setiap saat. Kurasa terdapat item pendukung dari Dewa yang dapat mengembalikan panah kembali setiap kali ditembakan. Aku harus meneliti item pendukung setelah aku kembali.” Zheng bergumam pada dirinya sendiri ketika ia melihat kearah bawah padang pasir.

TI – Volume 11 / Chapter 4.3

Seiring dengan terbukanya pintu air, jalan setapak disisi lain terowongan menjadi terbuka. Zheng mendengar suara itu lalu berkata kepada semua orang. “Cepat, jalan keluar sudah terbuka. O’Connell, pergi dan bawalah istrimu! “

Zheng pergi menuju kearah lubang dan melihat jalan baru disampingnya. Dia masuk tanpa keraguan, lalu tiba-tiba ia merasakan sakit dibahu kirinya. Seluruh lengannya terasa mati rasa. Saat itulah dia melihat kalajengking besar diterowongan. Ekornya menyengat lengannya.

“Sialan!”

Tak ada waktu baginya untuk mengambil kapak dari tangan kirinya. Para karakter film dan air deras muncul dari belakangnya sehingga ia juga tak bisa mundur.

TI – Volume 11 / Chapter 4.2

Zheng tak tahu harus berbuat apa. Memukul dinding akan melepaskan kalajengking- kalajengking tersebut. Dan ia pun tak dapat menghalangi mereka sekaligus. Selain itu, dengan ukuran mereka, tak hanya sekedar masalah racun saja. Sengatannya itu dapat membuat sebuah lubang pada tubuh.

Disaat yang bersamaan, langkah kaki yang melewati terowongan itu memberi isyarat kepada tentara Anubis. Sepertinya semua prajurit didalam makam mendekati mereka. Setiap penundaan dan mereka mungkin terjebak dalam lautan monster. Tentu saja, itu bahkan tidak membutuhkan monster saat sisa empat menitnya habis.

TI – Volume 11 / Chapter 4.1

Zheng tercengang mendengar suara ini. Butuh beberapa saat baginya untuk kembali sadar. Dia langsung berteriak. “Sial, ayo cepat! Semua orang lari ke bagian terdalam makam! “

Evelyn melihat sekeliling dan berkata. “Kesabaran adalah suatu kebajikan. Ini adalah makam. Terdapat perangkap dimana-mana. Kita dapat terbunuh jika kita pergi terlalu cepat. “

Zheng mulai berlari ke depan disaat ia berteriak. “Aku baru saja menerima pemberitahuan misi. Makam ini akan runtuh dalam sepuluh menit jika aku tidak mendapatkan gelang itu. Sial, mengapa aku bisa mendapatkan misi ketika aku menggunakan poinku sendiri untuk dapat sampai ke sini? Ini benar-benar tak masuk akal. Sialan.”

TI – Volume 11 / Chapter 3.3

Para tetua tercengang, bahkan kelompok Ardeth dan O’Connell pun juga demikian. Tombak itu tak bereaksi terhadap semua orang Medjais yang mencoba melemparkannya sesudahnya. Disaat itulah mereka akhirnya menyadari tak ada satupun dari pihak mereka yang bisa mengaktifkan kekuatan tombak itu. Mereka sepakat untuk menyerahkan tombak itu kembali ke Zheng setelah berdiskusi sebentar, serta mengirimkan orang untuk masuk kedalam makam bersama dengan Zheng.

“Apa yang terjadi? Mengapa mereka tiba-tiba setuju? “Tanya Jonathan.

TI – Volume 11 / Chapter 3.2

“Meskipun kau memberiku banyak emas, namun yakinkah kau bahwa skateboard ini dapat menerbangkan kami? Terutama untuk berpergian ketempat yang jauh seperti Hamunaptra? Kau jangan bercanda. Marilah kita tinggal bersama dengan kelompok persediaan. Tak sepertimu yang hanya membutuhkan sedikit waktu saja .” Jonathan menatapnya dengan aneh disaat ia melihat keranjang yang tergantung di bawah Sky Stick.

Zheng tertawa. “Tenang, hoverboard ini dapat mengangkut beban sebesar 800 kg. Kurasa berat badan empat orang diantara kita semua tak melebihi 200 kg. Haha, Aku juga sudah memperkirakan kapasitas berat yang dapat dicapai oleh keranjangku. Jika kau masih khawatir, kita akan terbang dengan kecepatan sedikit lebih rendah.”

TI – Volume 11 / Chapter 3.1

Dalam hal memimpin banyak orang, Ardeth jauh lebih baik daripada Zheng semenjak ia menjadi kepala suku. Hal itu tak berarti bahwa kemampuan kepemimpinannya jauh lebih baik, masing-masing dari mereka memiliki kelebihannya sendiri-sendiri. Zheng akan lebih hebat dalam memimpin kelompok kecil yang jumlahnya kurang dari dua puluh orang dalam pertarungan.

Zheng merasa senang karena Ardeth bersedia memimpin para pekerja. O’Connell dan yang lainnya akan membutuhkan waktu sepuluh hari untuk tiba sehingga Zheng dapat mulai melatih Qi dan energi darahnya. Dia menyadari kurangnya kekuatannya disaat bertempur dengan Tim Devil. Ia lebih rendah daripada kloningnya dalam hal kekuatan, mental, kemauan, dan teknik murni.

TI – Volume 11 / Chapter 2.2

Bahkan bank internasional pun mengalami kesulitan dalam mengambil 19 ton emas, karena dilokasi ini hanyalah terdapat sebuah cabang bank saja. Zheng mengikuti saran kurator untuk membagi emas menjadi tiga bagian, serta menjualnya secara terpisah ke bank-bank Inggris, A.S., dan Prancis dibawah organisasi sipil Mesir.

Organisasi itu cukup terkenal namun dibawahnya terdapat Medjai. Zheng memberi mereka setumpuk emas sebagai ucapan terima kasih.

“Meskipun kami adalah keturunan Firaun yang dikenal karena kekayaan, namun sebagian besar orang kami hidup dibawah garis batas kelaparan. Kami tak dapat membantu mereka. Tempat ini adalah padang pasir. Tak ada lahan yang cocok untuk produksi. Aku berterima kasih atas nama bangsaku, teman.” Ardeth datang bersama-sama dengan beberapa tetua yang memakai jubah.

TI – Volume 11 / Chapter 2.1

Didalam museum, kurator itu mengeluarkan tehnya yang berharga, dengan hati-hati menyalakan kompor yang berisi alkohol, lalu menyeduh teh itu kedalam panci kecil. Aromanya harum menyegarkan.

“Tren di Eropa yang terkenal pada saat ini adalah memasukkan gula dan susu kedalam teh. Aku telah menerima beberapa wisatawan yang berasal dari timur dan mereka menyeduhkan teh polos semacam ini untukku, rasanya begitu lezat, inilah rasa teh yang sebenarnya. Orang-orang yang berasal dari timur sama misteriusnya dengan dirimu. Zheng, dapatkah kau memberi tahu diriku darimanakah kau mempelajari tentang harta Raja Scorpion itu? Aku tak percaya bahwa Medjais akan membocorkan hal apapun. Mungkinkah itu berasal dari keturunan para biksu Imhotep? “Kurator itu menyesap teh sambil bertanya kepada Zheng sambil tersenyum.

TI – Volume 11 / Chapter 1.2

Melihat Lori yang terlihat tak begitu paham, Zheng menjelaskan. “Berdasarkan analisis, enhancements merupakan elemen terkuat ditahapan terakhir. Sedangkan senjata-senjata ilmiah, merupakan elemen terkuat ditahapan awal hingga pertengahan. Yang berarti, sebelum kau mencapai tingkatan enhancements, ada baiknya untuk memiliki senjata-senjata berat agar dapat bertahan hidup.

Jadi, senjata-senjata itu sangat berguna dalam pertempuran tim. Lupakan saja hal itu, kurasa tim kami membutuhkan satu atau dua senjata tersebut. Aku memilih grenade laucher dengan peluru mini nuklir. Senjata ini hanya dapat digunakan sekali, ukurannya sama dengan grenade laucher yang biasanya, memiliki jarak tembak sepanjang 10 km, radius ledakan 5 km, membutuhkan biaya 3000 poin dan Rank C Reward. Senjata ini merupakan senjata sekali pakai yang mana sesuai dengan harganya, jadi ini akan menjadi senjata rahasia kita.”

TI – Volume 11 / Chapter 1.1

Zheng membunuh dua anggota Tim Devil yang tak terkunci. Ia memperoleh Reward 14.000 poin dan 2x rank B. Namun, Tim China berakhir dengan skor 4 negatif sehingga angkanya berkurang menjadi 8000 poin. Ditambah lagi dengan apa yang telah ditinggalkan oleh tim itu sebelumnya, poin yang didapat dari membunuh para zombie, dan dikurangi dengan biaya penyembuhan, ia memiliki poin sekitar 8.500 diakhir dan Reward 2x rank B.

Dewa telah meninggalkan bekas luka diwajah Zheng selama penyembuhan. Dan luka Itu tak terlihat begitu jelas seperti yang ada dikloningnya, hanya berupa garis merah yang terlihat samar-samar. Ia mencoba untuk mengingat segalanya, untuk menghidupkan kembali rekan-rekannya, untuk membalas dendam, dan untuk tak pernah mengalami hal yang serupa lagi. Bekas luka diwajahnya tak akan pernah hilang sebelum ia dapat mengalahkan Tim Devil!

TI – Volume 10 / Chapter 14.2

Clone menarik napasnya dalam-dalam selama beberapa saat sebelum menenangkan dirinya setelah berteriak. Zheng tahu betapa gelisahnya dirinya karena Clone telah mencengkeramnya begitu erat pada saat itu. Namun untungnya, ia dapat menguasai kembali emosinya dengan sangat cepat, akan tetapi, Zheng masih merasakan dirinya begitu terpuruk setelah tercengkeram oleh Clone.

“Aku tersalin setelah kau menyelesaikan film perdanamu, yaitu setelah Resident Evil. Lebih tepatnya pada saat setelah kau selesai menciptakannya. Kau tak terlalu banyak berpotensi sebelumnya, namun potensimu tiba-tiba melonjak beberapa derajat setelah kau membuatnya. Aku menjadi pendatang baru di Tim Devil, termasuk poinmu, enhancements-mu, item-item milikmu, dan orang-orang yang telah kau buat.”