SBKS Chapter 14

 

Hujan pertama yang turun tadi malam amat lebat, deras dan merata sampai puluhan li jauhnya. Hujan yang melegakan hati para petani, melegakan tanah kering yang sudah berbulan-bulan merindukan air. Pagi hari ini udara sangat cerah, seolah matahari lebih berseri dari pada biasanya, seperti wajah seorang kanak- kanak tersenyum dan tertawa sehabis menangis. Kewajaran yang indah tak ternilai.

Seluruh permukaan bumi segar berseri seperti seorang puteri jelita baru keluar dari danau sehabis mandi bersih. Daun-daunan nampak hijau segar dan basah, demikian pula bunga-bunga, walau pun tidak tegak lagi melainkan lebih banyak menunduk karena hembusan air dan angin semalam. Tanah yang barusan disiram air selagi kehausan itu mengeluarkan uapan bau tanah yang sedap, bau yang mengingatkan orang pada masa kanak-kanak ketika dia bermain-main dengan lumpur yang mengasyikkan.

Burung-burung pun lebih lincah pagi itu. Suasana yang menakutkan mereka semalam, hujan dan angin ribut, merupakan bahaya mala petaka yang sudah lewat dan mereka menyambut munculnya matahari pagi dengan kicau saling sahut, dan mereka siap-siap berangkat bekerja mencari makan. Kegembiraan nampak pada wajah para petani yang memanggul cangkul, berangkat ke sawah ladang yang sekarang kembali menjadi subur menumbuhkan harapan hasil panen yang baik.

SBKS Chapter 13

Bagi mereka yang bukan pedagang keliling dan yang tak pernah melakukan perjalanan melintasi Tembok Besar, pastilah menyangka bahwa kekuasaan Kerajaan Ceng yang dipegang oleh bangsa Mancu tentu berhenti sampai di Tembok Besar itu saja. Padahal sesungguhnya tidaklah demikian.

Bangsa Mancu sendiri adalah bangsa yang tinggal jauh di utara yang sangat dingin, di daerah yang keras dan kejam, dan di luar Tembok Besar masih terdapat daerah yang sangat luas. Di sebelah utara Tembok Besar masih ada Propinsi Liaoning dan Jilin yang berbatasan dengan Korea, daerah Mancuria sendiri yang luas, kemudian masih terdapat pula daerah Mongolia Dalam atau Mongol, dan daerah Mongolia yang lebih luas.

Akan tetapi, setelah melewati Tembok Besar memang merupakan daerah yang liar serta kejam, dengan tidak terhitung banyaknya bukit di antara padang pasir yang luas dan merupakan lautan pasir yang ganas.

Padang pasir seperti ini memang ganas, dan bahkan kadang-kadang kejam sekali. Dari tulang-tulang kuda, onta, bahkan manusia yang terdapat berserakan di sana sini dapat diketahui bahwa lautan pasir itu sudah banyak menelan korban. Mayat manusia dan bangkai binatang yang tewas dalam perjalanan melintasi lautan pasir dibiarkan saja berserakan, membusuk dimakan terik panas matahari, atau pun digerogoti anjing-anjing serigala dan binatang buas lainnya, dibiarkan tinggal tulang-tulangnya saja yang lama-lama mengering.

Lautan pasir yang kelihatan tak bertepi itu memang kejam, juga mengandung kesunyian yang mendatangkan suasana menyeramkan penuh keajaiban. Bayangkan saja betapa mengerikan tersesat di lautan pasir seperti itu, di mana tidak dapat ditemukan setetes pun air, sebatang rumput pasir. Yang ada hanya pasir di mana-mana, panas dan silau, tidak diketahui lagi mana utara dan mana selatan. Belum lagi kalau datang badai yang membuat pasir bergulung-gulung dan seakan berombak seperti air di lautan, menelan apa saja yang menghalang di depan.

Para pedagang yang melakukan perjalanan dan kemudian tersesat, kehabisan air minum, kelelahan dan terjebak di dalam lautan pasir tanpa mengetahui ke arah mana mereka harus menuju, saking takut dan ngerinya, banyak di antara mereka yang dapat melihat pemandangan-pemandangan khayal yang aneh- aneh.

Ada yang melihat air terjun dengan air yang melimpah-limpah dan segar sejuk, akan tetapi ketika mereka menghampiri, yang ada hanya pasir belaka! Ada yang melihat anak sungai dengan airnya yang segar, atau melihat kebun dengan pohon-pohon menghijau dan buah-buah yang sudah masak, dan sebagainya. Akan tetapi, semua itu hanyalah bayangan khayal belaka, yang timbul karena alangkah besarnya keinginan hati mereka mengharapkan air, pohon dan sebagainya yang amat mereka butuhkan itu.

SBKS Chapter 12

 

Penilaian, dalam bentuk apa pun juga, tentu dipengaruhi oleh suka dan tidak suka dari si penilai. Dan perasaan suka atau tidak suka ini timbul dari perhitungan rugi untung. Kalau si penilai merasa dirugikan, baik lahir mau pun batin, oleh yang dinilainya, maka perasaan tidak suka karena dirugikan ini yang akan menentukan penilaiannya, sehingga tentu saja hasil penilaian itu adalah buruk. Sebaliknya, kalau merasa diuntungkan lahir mau pun batin, akan timbul perasaan suka dan hasil penilaiannya tentu baik.

Penilaian menimbulkan dua sifat atau keadaan yang berlawanan, yaitu baik atau buruk. Tentu saja baik atau buruk itu bukanlah sifat asli yang dinilai, melainkan timbul karena keadaan hati si penilai sendiri.

Agaknya belum pernah ada kaisar atau orang biasa siapa pun juga yang dinilai baik oleh orang seluruh dunia. Kaisar Kian Liong, seperti dapat dilihat dalam catatan sejarah, adalah kaisar yang terkenal berhasil dalam memajukan kebesaran pemerintahannya. Akan tetapi, dia pun menjadi bahan penilaian rakyat dan karena itu, tentu saja dia pun memperoleh pendukung dan juga memperoleh penentang.

Seperti dalam pemerintahan kaisar-kaisar terdahulu, dalam pemerintahan Kian Liong ini pun tidak luput dari pemberontakan-pemberontakan, baik besar mau pun kecil. Akan tetapi, Kaisar Kian Liong selalu bertindak tegas dalam menghadapi pemberontakan-pemberontakan itu dan karena dalam pemerintahannya terdapat banyak panglima-panglima yang tangguh dan pandai, dengan bala tentara yang cukup besar, maka dia selalu berhasil memadamkan api-api pemberontakan yang terjadi di sana-sini.

SBKS Chapter 11

 

Kaisar Kian Liong atau Chien Lung merupakan kaisar Kerajaan Ceng-tiauw (Mancu) yang paling terkenal dan paling besar sepanjang sejarah Bangsa Mancu, semenjak bangsa yang tadinya dianggap bangsa liar di utara itu menguasai Tiongkok mulai tahun 1644. Kaisar Kian Liong adalah seorang kaisar yang telah terkenal semenjak dia masih menjadi pangeran, dihormati dan dikagumi oleh rakyat dari semua lapisan, bahkan dicinta oleh para pendekar karena pangeran itu memang berjiwa gagah perkasa, mencinta rakyat jelata, adil dan bijaksana. Oleh karena itu, setelah dia diangkat menjadi kaisar dalam tahun 1735, pada waktu itu dia baru berusia sembilan belas tahun, boleh dibilang seluruh rakyat mendukungnya. Biar pun dia juga seorang Bangsa Mancu, namun cara hidupnya, sikapnya dan jalan pikirannya adalah seorang Han tulen.

Baru saja dia memerintah selama lima tahun, sudah nampak kemajuan-kemajuan pesat dalam pemerintahannya. Pemberontakan-pemberontakan rakyat padam dan kehidupan rakyat mulai makmur. Taraf kehidupan rakyat kecil terangkat dan rakyat mulai mengenal pembesar dan pejabat sebagai bapak- bapak pelindung, bukan sebagai pemeras dan penindas seperti di waktu-waktu yang lampau.

Tidak mungkin seorang manusia dapat bertindak tanpa ada yang menentangnya. Kalau seorang kaisar bertindak bijaksana terhadap rakyat, melindungi rakyat, secara otomatis dia harus menentang penindasan, harus menentang pembesar-pembesar yang korup dan yang menindas rakyat. Sebaliknya, kalau seorang kaisar berpihak pada penindasan dan korupsi, tentu saja berarti dia pun menjadi penindas rakyat.

Dalam hal pertama, dengan sendirinya kaisar akan ditentang oleh mereka yang merasa dirugikan oleh keadilan kaisar yang tentu saja dapat ditegakkan dengan kekerasan. Dia akan ditentang oleh para koruptor yang merasa terhalang dan terhenti sumber kemuliaannya. Sebaliknya, menindas rakyat tentu akan menghadapi pemberontakan di sana-sini.

SBKS Chapter 10

Puncak-puncak gunung menjulang tinggi di sekeliling, berlomba megah menembus awan. Sinar matahari pagi merah membakar langit di atas puncak di timur, mengusir kegelapan sisa malam dan menyalakan segala sesuatu di permukaan bumi dengan cahayanya yang merah keemasan. Salju yang menutupi puncak-puncak tertinggi seperti puncak-puncak Yolmo Lungma (Mount Everest), Kancen Yunga, dan Kongmaa La, berkilauan dengan sinar merah matahari pagi, seolah-olah perut gunung-gunung itu penuh dengan emas murni.

Daun-daun pohon yang lebat seperti baru bangkit dari tidur, nyenyak dibuai kegelapan malam tadi, nampak segar bermandikan embun yang membentuk mutiara-mutiara indah di setiap ujung daun dan rumput hijau. Cahaya matahari menciptakan jalan emas memanjang di atas air Sungai Yalu Cangpo yang mengalir tenang, seolah-olah masih malas dan kedinginan.

Sukarlah menggambarkan keindahan alam di Pegunungan Himalaya ini di pagi hari itu. Pagi yang cerah dan amat indah. Kata-kata tidak ada artinya lagi untuk menggambarkan keindahan. Kata-kata adalah kosong, penggambaran yang mati, sedangkan kenyataan adalah hidup, seperti hidupnya setiap helai daun di antara jutaan daun yang bergerak lembut dihembus angin pagi.

Seperti biasa, dari semenjak dahulu sekali sampai sekarang ini, yang bangun pagi-pagi mendahului sang surya hanyalah burung-burung, hewan-hewan, dan manusia-manusia petani yang miskin! Orang kaya di kota biasanya baru akan bangun dari kamar mewahnya kalau matahari sudah naik tinggi sekali!

Pegunungan Himalaya merupakan pegunungan yang paling hebat di seluruh dunia ini, paling luas, dan paling banyak memiliki puncak-puncak tertinggi di dunia. Memanjang dari barat ke timur sebagai tapal batas yang sukar diukur dan ditentukan letaknya dari negara-negara India, Tibet, Nepal dan Bhutan. Pegunungan Himalaya memiliki banyak sekali gunung atau puncak-puncak yang amat tinggi, yang tertinggi dan di atas tujuh ribu meter adalah Puncak Dewi, Gurla Mandhayaf Gosainthan, Yolmo Lungma Kamet, Nanda Dhaula atau Giri, Chomo Lungma atau Mount Everest sebagai puncak tertinggi (8882 meter), dan Kancen (Kincin) Yunga. Itu adalah deretan raksasa-raksasa puncak yang amat tinggi di Pegunungan Himalaya. Dan di antara puncak-puncak dan lereng-lereng, di antara lembah-lembah yang amat curam, mengalirlah Sungai Yalu Cangpo atau yang juga dinamakan Sungai Brahmaputera.

Sungai Yalu Cangpo yang mengalir di daerah Tibet menciptakan tanah subur bagi para petani Tibet, sungguh pun mereka yang bekerja di sawah ladang itu hanyalah buruh buruh tani belaka karena semua sawah ladang telah menjadi milik para tuan tanah dan para pembesar yang berkuasa di Tibet, di samping para pendeta yang memiliki kekuasaan besar sekali di negara ini.

Pagi itu, sebuah perahu yang ditumpangi tiga orang didayung meluncur lambat-lambat menentang aliran air, merayap perlahan di tepi di mana arus tidak begitu kuat. Mereka bertiga memakai pakaian tebal karena hawa sangatlah dinginnya. Di sebelah tebing di mana perahu itu meluncur lewat, nampak belasan orang petani Tibet sedang bekerja mencangkul tanah. Sepagi itu mereka sudah bekerja, dan dari pinggang ke atas mereka bertelanjang sehingga nampak otot-otot tubuh yang kekar karena terbiasa bekerja keras. Seorang di antara mereka, yang bertubuh kokoh kekar, menghentikan cangkulnya untuk melempangkan pinggang, mengurut punggung lalu menarik napas panjang.

SBKS Chapter 9

 

Kaisar pertama yang bertahta di Kerajaan Ceng-tiauw, yaitu kerajaan penjajah Mancu yang menguasai Tiongkok, merupakan kaisar yang sampai puluhan tahun lamanya bisa mempertahankan kedudukannya, mengatasi banyak pemberontakan serta perebutan kekuasaan. Kaisar tua ini mulai bertahta dalam tahun 1663 dan dapat mempertahankan kedudukannya ini selama lima puluh sembilan tahun!

 

Pada awal tahun 1700 terjadilah pemberontakan yang dilakukan dua orang pangeran kakak beradik, yaitu Pangeran Liong Bin Ong dan Pangeran Liong Khi Ong, adik-adik tiri kaisar pertama itu, yaitu Kaisar Kang Hsi. Dua orang pangeran yang mencoba untuk berkhianat terhadap kaisar itu melakukan pemberontakan yang nyaris menggulingkan kedudukan kaisar, atau sedikitnya telah menggegerkan kota raja. Akan tetapi akhirnya berkat bantuan para menteri dan panglima yang setia, apa lagi karena bantuan Puteri Milana yang terkenal gagah perkasa dan pandai, pemberontakan itu dapat digagalkan, bahkan dua orang pangeran pengkhianat itu dapat ditewaskan.

 

Akan tetapi, pemberontakan ini dengan segala akibatnya menggores hati kaisar yang sudah tua itu, oleh karena, pertama dia merasa kecewa dan terkejut melihat kenyataan betapa dua orang adik tiri yang dipercayanya itu betul-betul melakukan pemberontakan terhadapnya. Kedua, melihat bahwa dia terpaksa membiarkan dua orang adiknya itu tewas. Dan ketiga, perpecahan-perpecahan yang diakibatkan oleh pemberontakan itu di antara ponggawa dan pembantunya.

 

Lima tahun telah lewat sejak pemberontakan itu dapat ditumpas. Akan tetapi, walau pun pemberontakan sudah dapat dipadamkan dan dua orang pangeran tua itu telah tewas, peristiwa itu mengakibatkan perpecahan di kalangan atas dan mengakibatkan timbulnya sikap curiga-mencurigai di antara mereka, mempunyai pengaruh besar terhadap para pembesar atasan yang mempengaruhi pula para anak buah mereka dan terasa pula ketegangan-ketegangan yang timbul di antara kelompok satu dan kelompok lainnya sehingga rakyat pun merasa gelisah.

 

SBKS Chapter 8

“Haaiiiii… hiiyooooo… huiiiiii…!”

“Eh, Bu-te (adik Bu), jangan main-main! Angin bertiup begini kencang, lekas duduk dan membantu aku. Gulung layar itu, kita bisa celaka kalau angin sebesar ini dan layar tetap berkembang!”

“Yahuuuuu…! Wah, dengar, Lee-ko (kakak Lee), suara terbawa angin tentu terdengar sampai jauh. Hiyooooohhhhh…!”

Mereka adalah dua orang anak laki-laki yang menjelang dewasa, berusia empat belas tahun, berwajah tampan dan bertubuh tegap kuat. Mereka ini kakak-beradik yang mempunyai ciri wajah berbeda sungguh pun sukar dikatakan siapa di antara mereka yang lebih tampan. Yang disebut Lee-ko adalah Suma Kian Lee, sedangkan adiknya itu adalah Suma Kian Bu, dan kedua orang anak laki-laki ini bukan anak-anak nelayan biasa yang bermain-main dengan perahu mereka, melainkan putera-putera Pendekar Super Sakti Suma Han atau yang lebih terkenal dengan julukan Pendekar Super Sakti atau Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es!

Pendekar Super Sakti yang mengasingkan diri dari dunia ramai selama bertahun-tahun, tinggal di Pulau Es bersama dua orang isterinya, yaitu Puteri Nirahai dan Lulu, dua orang isteri yang cantik jelita dan mencinta suaminya dengan sepenuh jiwa raga mereka. Di dalam cerita Sepasang Pedang Iblis diceritakan betapa suami dengan kedua orang isterinya ini baru berkumpul kembali di pulau itu setelah mereka berusia empat puluh tahun dan hidup bertiga di pulau kosong itu, mengasingkan diri dari dunia ramai dan saling mencurahkan kasih sayang yang terpendam selama belasan tahun berpisah!

Dari curahan kasih sayang yang amat mendalam dan mesra itu, terlahirlah dua orang anak laki-laki itu. Lulu melahirkan puteranya lebih dahulu, dan anak itu diberi nama Suma Kian Lee. Setengah tahun kemudian, Nirahai juga melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Suma Kian Bu. Tentu saja kelahiran dua orang anak laki-laki itu menambah rasa bahagia di dalam kehidupan mereka bertiga sehingga tidak begitu terasalah kesunyian di pulau itu. Dan setelah kedua orang anaknya terlahir, demi kepentingan dua orang anaknya, Suma Han tidak lagi pantang bergaul dengan orang lain, bahkan sering kali dia mengajak kedua orang puteranya pergi meninggalkan Pulau Es mengunjungi pulau-pulau lain di dekat daratan besar yang dihuni oleh nelayan-nelayan.

Karena kedua orang anak itu lebih mirip dengan ibu masing-masing, maka biar pun keduanya sama tampan, namun terdapat perbedaan dan ciri khas pada wajah mereka, juga semenjak kecil sudah tampak perbedaan watak mereka yang menyolok sekali. Suma Kian Lee, putera Lulu, berwatak lembut dan halus, sabar dan tidak pernah melakukan kenakalan, juga pendiam. Sebaliknya, Suma Kian Bu, putera Nirahai, amat nakal dan periang, mudah tertawa dan mudah menangis, bandel dan berani, akan tetapi juga amat mencinta kakaknya dan betapa pun nakalnya, akhirnya dia selalu tunduk dan taat kepada kakaknya. Padahal dia berani membangkang terhadap ibunya sendiri, bahkan kadang-kadang dia berani menentang ayahnya!

Pada pagi hari itu, ketika kedua orang ibu mereka sedang sibuk di dapur dan ayah mereka seperti biasa di waktu pagi hari duduk bersemedhi dalam kamar semedhinya, mereka berdua bermain-main dengan perahu mereka. Kemudian timbul niatan tiba-tiba dalam kepala Suma Kian Bu untuk pergi menggunakan perahu ke daratan besar dan mencari enci-nya (kakak perempuannya) yang tinggal di kota raja!

SBKS Chapter 7

 

Kuil tua itu berdiri di tepi Sungai Fen-ho, di lembah antara Pegunungan Tai-hang-san dan Lu-liang-san, di sebelah selatan kota Taigoan. Sunyi sekali keadaan di sekitar tempat itu, sunyi dan gelap sehingga kuil yang amat kuno dan sudah bobrok itu cocok sekali dengan keadaan alam yang sunyi dan liar di sekelilingnya. Biasanya, kuil ini kosong dan bagi yang percaya, tempat seperti itu paling cocok menjadi tempat tinggal setan iblis dan siluman.

Akan tetapi, pada sore hari itu keadaan di sekeliling kuil tampak amat menyeramkan karena ada bayangan- bayangan yang berkelebatan. Begitu cepat gerakan bayangan-bayangan itu sehingga agaknya iblis-iblis sendiri yang sedang sibuk mengadakan persiapan sesuatu. Akan tetapi kalau diperhatikan, bayangan- bayangan itu sama sekali bukanlah setan melainkan manusia-manusia, sungguh pun manusia-manusia yang menyeramkan karena mereka yang berjumlah lima orang itu bertubuh tinggi besar, bersikap kasar dan berwajah liar. Gerakan mereka tidak seperti orang biasa, karena selain cepat juga membayangkan kekuatan yang jauh lebih dari pada manusia-manusia biasa. Golok besar yang terselip di punggung dan golok lima orang tinggi besar itu menandakan bahwa mereka adalah orang-orang yang sudah biasa mempergunakan kekerasan mengandalkan ilmu silat dan senjata mereka.

Memang sesungguhnyalah bahwa lima orang tinggi besar ini bukan orang-orang sembarangan. Mereka adalah lima orang bajak laut yang sudah terkenal bertahun-tahun lamanya menjadi setan sungai Fen-ho. Kepandaian mereka amat tinggi karena mereka ini yang berjuluk Fen-ho Ngo-kwi (Lima Iblis Sungai Fen- ho) adalah anak buah yang sudah menerima gemblengan dari mendiang Kang-thouw-Kwi Gak Liat, datuk iblis yang terkenal dengan nama poyokan Setan Botak itu! Sejak tadi lima orang ini berkelebatan di sekitar kuil tua, seperti hendak menyelidiki keadaan kuil yang sunyi dan kelihatan kosong itu.

“Twako, tidak kelirukah kita? Apakah benar kuil ini yang dimaksudkan dalam pesan Gak-locianpwe?” Tiba- tiba seorang di antara mereka, yang mempunyai tahi lalat besar di dagunya, bertanya kepada orang tertua di antara mereka yang matanya besar sebelah.

SBKS Chapter 6

 

Anak laki-laki berusia kurang lebih sepuluh tahun itu mengintai dari kaca jendela dengan muka marah, mata merah dan gigi berkerot saking marah dan sedihnya menyaksikan keadaan di ruangan dalam rumah gedung ayahnya. Ruangan itu luas dan terang-benderang, suara tetabuhan musik terdengar riuh di samping gelak tawa tujuh orang pembesar Mancu yang sedang dijamu oleh ayahnya. Dari luar jendela ia tidak dapat menangkap suara percakapan yang diselingi tawa itu karena amat bising bercampur suara musik, akan tetapi anak ini menjadi marah dan sedih menyaksikan sikap ayahnya terhadap para tamu pembesar itu.

Ayahnya bicara sambil membungkuk-bungkuk, muka ayahnya yang biasanya bengis terhadap para pelayan dan angkuh terhadap orang lain, kini menjadi manis berlebih-lebihan, tersenyum-senyum dan mengangguk- angguk, bahkan dengan kedua tangan sendiri melayani seorang pembesar yang brewok tinggi besar, menuangkan arak sambil membungkuk-bungkuk.

Ayahnya yang dipanggil ke kanan kiri oleh para pembesar menjadi gugup dan kakinya tersandung kaki meja. Guci arak yang dipegangnya miring, isinya tertumpah dan sedikit arak menyiram celana dan sepatu seorang pembesar lain yang bermuka kuning. Anak itu dari luar jendela melihat betapa pembesar ini memelototkan mata, mulutnya membentak-bentak dan tangannya menuding-nuding ke arah sepatu dan celananya. Ayahnya cepat berlutut dan menggunakan ujung bajunya menyusuti sepatu dan celana itu sambil mengangguk-angguk dan bersoja seperti seekor ayam makan padi! Tak terasa lagi air mata mengalir ke luar dari sepasang mata anak laki-laki itu, membasahi kedua pipinya dan ia mengepalkan kedua tangannya.

SBKS Chapter 5 Part 25

 

Lebih dari dua bulan dia hidup di atas perahunya yang mengarungi lautan bebas dan asing. Bekal makanannya sudah lama habis, dan untuk menyambung hidupnya Suma Hoat terpaksa makan ikan laut.

 

Kadang-kadang dia mendapatkan binatang darat di atas pulau karena sudah banyak sekali pulau dia datangi dan yang ternyata bukan Pulau Es, melainkan pulau-pulau kosong yang tidak ada penghuninya.

Pada hari itu, secara tiba-tiba badai mengamuk dan menimbulkan gelombang-gelombang sebesar bukit. Betapa pun kuatnya kedua lengan Suma Hoat menggerakkan dayung, namun sama sekali tidak ada artinya bagi lautan yang sedang mengganas itu. Dia sama sekali tidak berdaya, seperti seorang bayi dan akhirnya, setelah dia hampir tidak kuat bertahan lagi, Suma Hoat mengikat tubuhnya, melibatkan tali dengan erat pada tubuhnya, diikat pada perahu kemudian menyerahkan nasibnya kepada lautan.

Tubuhnya yang terikat pada perahu itu dipermainkan gelombang, diangkat tinggi-tinggi dan dihempaskan kembali, disambut gelombang lain, dilontarkan ke atas dan dibanting lagi sampai dia pingsan dan tidak tahu apa yang terjadi dengan perahu dan tubuhnya. Dia tidak tahu berapa lama dia dijadikan permainan gelombang dan sampai berapa jauh dia dihanyutkan.

Sungguh mengerikan melihat keadaan Suma Hoat pada waktu badai mengamuk itu. Semua yang melihatnya tidak akan ada yang menduga bahwa dia akan dapat keluar dari keadaan itu dengan selamat. Akan tetapi apakah yang dapat menentukan mati hidupnya seorang manusia? Kalau belum tiba saatnya dia mati, tiada kekuasaan di dunia ini yang akan dapat mematikannya, sebaliknya kalau sudah tiba saatnya dia mati, tiada kekuasaan apa pun yang akan dapat menyelamatkannya.

SBKS Chapter 5 Part 24

 

“Heeii, berhenti dulu! Kalian mau apa menerobos masuk tanpa permisi?” para pengawal penjaga gedung Panglima Suma Kiat membentak dan mereka sudah memalangkan tombak menodong pasukan pengawal berseragam biru yang masuk ke halaman gedung seenaknya itu.

”Minggir kalian dan biarkan kami masuk!” Komandan pasukan itu balas membentak sambil meraba gagang pedangnya.

”Apa? Kalian pun hanya pasukan pengawal, sama dengan kami. Biar pun engkau komandan pasukan, akan tetapi kau bukan komandan kami. Siapapun tidak boleh masuk sebelum ada perkenan dari Suma-tai-ciangkun!”

”Wuuuuttt… ciattt!” Komandan pasukan pengawal istana Suma-tai-ciangkun itu roboh dengan leher hampir putus disambar sinar yang tiba-tiba menyerangnya.

Tampaklah seorang laki-laki tinggi besar yang berpakaian mewah telah muncul di situ. Ketika para pengawal melihat laki-laki ini, mereka lebih kaget dari ketika melihat komandan mereka tewas tadi. Serta-merta mereka menjatuhkan diri berlutut karena laki-laki itu bukan lain adalah Bu-koksu! Kini bermunculan pembantu-pembantu Koksu, para panglima tinggi, dan perwira yang memimpin banyak sekali pasukan pengawal yang telah mengurung gedung itu.

Biar pun para pengawal telah menjadi ketakutan ketika melihat Koksu dengan banyak pasukannya, namun ada di antara para pengawal yang berhasil menyelinap masuk ke dalam gedung dan dengan muka pucat, melaporkan kepada Suma Kiat.

”Celaka… Koksu dengan pasukan besar datang menyerbu…!”

SBKS Chapter 5 Part 23

 

Han Ki dan Siauw Bwee tertawa juga. Mereka lalu melompat bangun dan tiga orang itu lalu membangun sebuah pondok sederhana. Berkat kepandaian mereka, dengan mudah mereka menumbangkan pohon-pohon, mengumpulkan balok-balok dan membuat sebuah pondok yang sederhana namun cukup kokoh untuk melindungi mereka dari angin, hujan, panas dan hawa dingin.

Mulai hari ini, Han Ki diobati oleh Coa Leng Bu dan dirawat dengan sabar oleh Siauw Bwee. Setiap pagi, tak lama setelah lewat tengah malam, dia dibangunkan oleh Siauw Bwee dan setengah dipaksa pergi ke air terjun. Gadis itu menanti agak jauh ketika Han Ki menanggalkan pakaian dan dengan bertelanjang bulat duduk bersila di bawah air terjun, membiarkan air jatuh menimpa ubun-ubun kepalanya seperti yang dianjurkan oleh Coa Leng Bu.

Kalau bukan seorang yang sudah memiliki sinkang amat kuat seperti Han Ki, tentu tidak akan kuat lama-lama di pagi buta ditimpa air terjun yang amat dinginnya seperti itu. Namun Han Ki adalah seorang pemuda sakti, murid Bu Kek Siansu yang sudah bertahun-tahun berlatih sinkang di Pulau Es, dalam keadaan yang jauh lebih dingin dari pada bersemedhi di bawah air terjun itu, bahkan telah memiliki tenaga Inti Es yang disebut Swat-im-sinkang.

Kalau matahari mulai menyinarkan cahayanya di ufuk timur, barulah Han Ki menghentikan semedhinya, mengenakan pakaian lagi, menghampiri Siauw Bwee yang duduk menunggu agak jauh, lalu bersama-sama kembali ke pondok di mana Coa Leng Bu telah menyediakan masakan obat yang pahit rasanya.

Di samping pengobatan air terjun dan obat, Siauw Bwee membantu pemulihan ingatan Han Ki dengan mengajaknya bercakap-cakap tentang masa lalu. Dan terjadilah suatu keanehan! Hubungan di antara mereka makin akrab dan Siauw Bwee merasa seolah-olah jatuh cinta untuk kedua kalinya! Timbullah keinginan hati yang luar biasa, yaitu dia ingin agar Han Ki tidak berubah lagi! Kini cintanya terhadap pemuda itu makin mendalam, karena diperhalus oleh rasa iba melihat kekasihnya menderita kehilangan ingatan!

 

SBKS Chapter 5 Part 22

 

Dia, Jai-hwa-sian yang dapat memperoleh gadis-gadis cantik yang mana saja, baik dengan rayuan mau pun dengan kekerasan, kini tergila-gila kepada dua orang gadis yang tidak mungkin didapatkannya!

 

Mengapa hatinya jatuh cinta kepada dua orang gadis yang jelas menolaknya, sedangkan banyak gadis-gadis cantik hanya ingin ia dapatkan untuk memenuhi nafsu birahi dan sebagai balas dendam belaka?

Karena tidak sampai hati menyaksikan Maya dikeroyok, pula dia juga tidak berdaya menolongnya karena hal ini selain akan membahayakan dia sendiri, juga akan membahayakan kedudukan ayahnya dan membocorkan rahasia mereka bahwa sesungguhnya mereka itu memusuhi Kerajaan Sung Selatan dan bersekutu dengan Yucen, maka Suma Hoat tidak mau mendekati Maya, sebaliknya dia membantu Siangkoan Lee untuk menangkap pemuda yang lihai itu. Kini, menghadapi Yan Hwa, timbul gairah di hatinya.

Dia tertarik dan ingin mendapatkan gadis ini. Dia sudah bosan dengan gadis-gadis cantik yang lemah, yang hanya menangis kalau diperkosanya tanpa mampu melawan, yang tersenyum-senyum malu dan penuh pura-pura kalau gadis itu kebetulan suka kepadanya. Kini, gadis ini memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat! Dia sendiri belum tentu akan dapat mengalahkan gadis itu, apa lagi gadis itu memiliki sebatang pedang yang hebat bukan main, pedang yang bentuk dan sinarnya serupa benar dengan pedang yang dirampasnya dari tangan pemuda tadi. Aku harus mendapatkan gadis ini pikirnya. Maka dia lalu melompat maju sambil menghunus pedang Lam-mo-kiam yang telah dirampasnya.

SBKS Chapter 5 Part 21

 

“Heiiii, Nona…” Tunggu…!” Melihat dara perkasa yang telah mengguncang jantungnya itu melompat pergi, Suma Hoat cepat meloncat pula mengejar.

“Apakah dia mata-mata?” tanya Siangkoan Lee.

“Mata-mata hidungmu!” Suma Hoat memaki. “Dia sahabatku! Katakan kepada Ayah nanti aku datang menghadap!” Tanpa menoleh Suma Hoat melanjutkan pengejarannya terhadap bayangan hitam yang meloncat-loncat ke atas genteng rumah-rumah penduduk itu.

“Heii, Nona! Tunggu, aku mau bicara…!”

Maya mengerutkan kening. Kalau dia menggunakan ginkang-nya, biar pemuda itu memiliki kepandaian tinggi, tak mungkin pemuda itu dapat menyusulnya. Juga kalau dia menghadapi pemuda itu, biar pun dia tahu bahwa pemuda itu cukup lihai namun dia percaya akan dapat membunuhnya. Akan tetapi, kalau hal itu terjadi, Si Pemuda tentu akan mengejar dan berteriak-teriak, dan kalau sampai dia kedapatan oleh para penjaga, padahal malam telah hampir pagi, dia bisa celaka. Maya mengigit bibir menahan kesabaran hatinya, demi keselamatannya sendiri. Mengingat bahwa pemuda ini adalah putera Suma Kiat yang amat dibencinya, ingin dia menggerakkan pedang membunuhnya!

Dia terpaksa berhenti dan membalikkan tubuh. “Engkau mau bicara apakah?”

Kebetulan sekali mereka berhenti di atas genteng rumah yang terkena sorotan sinar dari bawah sehingga wajah dara itu tampak jelas di bawah sinar remang-remang. Sekali lagi jantung di dalam dada Suma Hoat seperti jungkir-balik. Wajah ini… luar biasa cantiknya. Kecantik-jelitaan yang aneh, asing dan belum pernah selama hidupnya ia bertemu dengan seorang gadis berwajah seperti ini.

SBKS Chapter 5 Part 20

 

Tahulah dia bahwa lawannya ini telah melatih sinkang-nya dengan tenaga menyedot dan menempel, maka dia cepat miringkan kepala dan mendahului dengan sodokan tangan kiri ke arah perut lawan.

“Plakkk!”

Lengannya yang tertempel itu terlepas, akan tetapi dapat dibayangkan betapa heran dan kagumnya hati Leng Bu ketika merasa betapa sodokannya ke perut yang mengenai sasaran dengan tepat tadi seolah-olah tidak terasa oleh lawan, bahkan jari tangannya terasa nyeri. Dailuba menggerakkan kakinya yang panjang dan besar menyerang kaki lawan. Leng Bu cepat meloncat ke atas, akan tetapi angin yang menyambar dari kaki Si Tinggi Besar membuat dia hampir terpelanting!

Coa Leng Bu menjadi penasaran sekali, lalu dia menyerang dengan cepat, menggunakan jurus-jurus simpanan dan mengerahkan tenaga Jit-goat-sinkang. Namun, melihat betapa Dailuba dapat menahan serangannya dengan gerakan lambat dan seenaknya, kedua lengan besar yang digerakkan lambat itu telah menciptakan hawa yang merupakan perisai sehingga semua pukulan Leng Bu menyeleweng, maka tahulah Leng Bu bahwa tingkat kepandaian lawannya ini masih jauh lebih tinggi dari pada tingkatnya. Maka dia merasa terkejut dan khawatir, bukan takut kalah, melainkan takut kalau-kalau Siauw Bwee sendiri tidak akan mampu menanggulangi mereka.

Kalau sampai mereka kalah, tentu mereka terpaksa menerima undangan dan perkenalan mereka, padahal dia tahu bahwa Siauw Bwee tidak menghendaki hal itu terjadi. Maka dia lalu mempercepat serangannya dan kini dia menggunakan Im-yang-sinkang.

 

SBKS Chapter 5 Part 19

 

Pada saat itu, terdengar suara gaduh sekali di luar gedung. Mula-mula suara itu terdengar dari jauh, makin lama makin dekat. Terdengar teriakan-teriakan, bahkan tanda bahaya dipukul gencar dan derap kaki kuda hilir-mudik disambut suara orang-orang berlari-lari bingung. Semua orang yang berada di ruangan itu menoleh ke arah pintu dengan heran, akan tetapi Han Ki dan Siauw Bwee tetap bertanding dengan hebat. Dapat dibayangkan betapa hancur hati Siauw Bwee menghadapi peristiwa itu. Kalau saja Han Ki tidak dalam keadaan kehilangan ingatan seperti itu, kalau saja dalam keadaan wajar suheng-nya itu menyerangnya, tentu dia akan menyerah dan tidak berani melawan.

Akan tetapi keadaannya sekarang lain lagi. Suheng-nya itu bergerak atas perintah lain orang, bergerak di luar kesadarannya dan seolah-olah bukan suheng-nya yang menyerangnya, melainkan orang lain, seorang pengawal dari Koksu! Karena inilah maka Siauw Bwee melawan sekuatnya, mengerahkan seluruh tenaganya dan kepandaiannya, bukan hanya untuk menjaga diri, melainkan juga kalau mungkin untuk merobohkan dan menawan suheng-nya untuk melarikannya.

Akan tetapi ternyata olehnya bahwa biar pun Han Ki kehilangan ingatannya, namun sama sekali tidak kehilangan ilmu kepandaiannya! Dan baru sekarang setelah bertanding benar-benar, bukan main-main dan bukan latihan, Siauw Bwee mendapat kenyataan betapa hebat kepandaian suheng-nya. Dia yang sudah merantau dan banyak mempelajari ilmu tambahan yang tinggi-tinggi tingkatnya, terutama ilmu gerakan kilat, kini berhadapan dengan suheng-nya dia benar-benar tidak berdaya!

Dia hanya mampu mempertahankan diri, mengelak dan menangkis, sama sekali tidak diberi kesempatan membalas. Bahkan dia mengerti benar bahwa kalau suheng-nya itu tidak memiliki dasar watak yang baik, kalau suheng-nya kejam dan bermaksud membunuhnya, agaknya pertandingan itu tidak berjalan terlalu lama! Hanya karena suheng-nya bermaksud menawan tanpa membunuhnya sajalah yang membuat dia masih dapat bertahan sampai ratusan jurus lamanya!

SBKS Chapter 5 Part 18

 

Namun pengeroyokan itu benar-benar membuat Yu Goan dan Ouw-pangcu terdesak hebat. Kepandaian orang-orang penderita kusta itu tinggi, gerakan mereka cepat, dan tiga orang Han itu pun lihai sekali ilmu pedangnya. Mereka berdua dikeroyok di tempat yang sempit oleh belasan orang dan betapa pun mereka mengamuk, dan berhasil merobohkan tiga orang lain, namun Yu Goan terkena tusukan pedang di paha kirinya sedangkan Ouw-pangcu juga terluka oleh bacokan pedang yang dilawan dengan sinkang-nya, namun tetap saja membuat kulit punggungnya terluka dan mengeluarkan darah.

“Gihu, kita keluar!” Yu Goan berteriak sambil merobohkan seorang pengeroyok lagi dengan sebuah tendangan yang mengenai pusar.

“Tidak sudi lari sebelum membunuh iblis-iblis ini!” Ouw-pangcu menjawab dan mengamuk lebih hebat.

“Bukan melarikan diri, melainkan mencari tempat luas!”

“Hemm, baiklah!” Sambil berkata demikian, Ouw-pangcu mencontoh perbuatan anak angkatnya, membuka jalan sambil memutar kedua rantai baja yang sudah berlepotan darah lawan, kemudian bersama Yu Goan dia lari menaiki anak tangga itu, dikejar oleh sebelas orang lawan, sisa para pengeroyok tadi. Akan tetapi, baru tiba di tengah-tengah, dari atas muncul pula banyak orang musuh! Kini mereka berada di tengah-tengah, dikepung dari atas dan bawah sehingga keadaan Ouw-pangcu dan Yu Goan menjadi repot!

Sementara itu, Siauw Bwee yang pergi lebih dulu mencari Ouw-pangcu, di mana-mana bertemu dengan orang-orang penderita kusta yang mengeroyoknya. Diam-diam Siauw Bwee terkejut juga karena tidak mengira bahwa hampir semua anggota lembah itu agaknya telah dikuasai oleh Ang-siucai dan kawan-kawannya. Dia tidak tahu bahwa di antara mereka ada yang belum dapat dibujuk oleh Ang-siucai, akan tetapi mereka yang masih setia kepada ketuanya juga mengeroyoknya karena kedatangannya sebagai orang luar ternyata merupakan pelanggaran bagi para penghuni tempat itu, pelanggaran yang harus dihukum dengan kematian.

SBKS Chapter 5 Part 17

 

Kakek itu sudah tua sekali, jenggot dan rambutnya yang tidak terpelihara baik-baik itu sudah putih. Matanya cekung dan tubuhnya yang jangkung itu amat kurus, akan tetapi sepasang matanya

mengeluarkan sinar yang aneh, lebih mencorong dari pada mata orang-orang liar itu! Pakaiannya juga sederhana sekali sehingga tampak jelas betapa bedanya dengan pakaian Si Sastrawan.

“Jala-jala itu kubikin untuk menangkap binatang buas, untuk memenuhi kebutuhan perut kita. Mengapa sekarang kalian pergunakan untuk menangkap manusia-manusia? Bukankah aku sudah melarang kalian bertanding dengan orang luar?”

Para pengeroyok tadi tidak ada yang menjawab, hanya berlutut dan menundukkan muka, akan tetapi beberapa orang di antara mereka melirik ke arah Si Sastrawan, seolah-olah menyerahkan jawabannya kepada sastrawan itu.

Kakek itu dapat menangkap sikap anak buahnya ini, maka dia menoleh ke arah sastrawan itu dan berkata, “Ang-siucai, engkau adalah tamu terhormat di sini, mengapa membawa anak buah kami untuk mengeroyok dua orang muda ini?”

Sastrawan itu menjura dan menjawab dengan suara tenang, “Harap Pangcu (Ketua) suka memaafkan saya. Karena dua orang ini melanggar wilayah Pangcu dan sikap mereka mencurigakan, maka saya mengusulkan kepada kawan-kawan untuk menangkap mereka dan membawa mereka ke depan Pangcu untuk diadili. Akan tetapi mereka berdua tidak mau menyerah, bahkan melawan sehingga terjadilah pertempuran.”

SBKS Chapter 5 Part 16

 

“Manusia sombong! Makanlah gembrengku seorang satu!” bentak Hoat Bhok Lama yang menjadi marah sekali dan menyerang ke depan, kedua gembrengnya sebelum menyerang saling beradu sehingga terdengar suara yang menggetarkan jantung menulikan telinga, kemudian tampak sinar kuning menyambar ke arah Im-yang Seng-cu dan Suma Hoat.

“Cringgg! Tranggg!” Pedang di tangan Suma Hoat dan tongkat di tangan Im-yang Seng-cu menangkis.

Dua orang muda perkasa itu terdorong mundur, tanda bahwa tenaga sinkang kakek itu benar-benar amat hebat, mereka terkejut dan balas menyerang, maka terjadilah pertandingan yang amat seru dan dalam sekejap mata saja lenyaplah bayangan mereka bertiga, terbungkus oleh sinar senjata masing-masing. Dua gulungan sinar kuning dari sepasang gembreng Hoat Bhok Lama saling belit dengan sinar putih pedang Suma Hoat dan sinar hijau tongkat Im-yang Seng-cu!

Hoat Bhok Lama adalah keturunan langsung dari Thai-lek Kauw-ong yang mempunyai dua orang murid. Murid kedua adalah Pat-jiu Sin-kauw yang pernah bentrok dengan dua orang muda itu ketika mereka menyerbu tempat Coa-bengcu, ketua perkumpulan hitam di pantai Po-hai dahulu. Namun dibandingkan dengan Hoat Bhok Lama kepandaian Pat-jiu Sin-kauw masih terlalu rendah karena murid pertama ini benar-benar telah mewarisi kepandaian Thai-lek Kauw-ong yang hebat.

Setelah kini bertanding mati-matian, tahulah Im-yang Seng-cu dan Suma Hoat bahwa tingkat mereka masih kalah oleh Ketua Beng-kauw palsu ini, maka mereka mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaian mereka untuk mengimbangi gerakan sepasang gembreng yang benar-benar dahsyat sekali itu.

SBKS Chapter 5 Part 15

 

Pasukan berkuda dari bala tentara Sung ini langsung dipimpin oleh Panglima Suma Kiat dan dua orang pembantunya yang setia, yaitu selirnya, Ci Goat, dan muridnya, Siangkoan Lee. Tentu saja pasukan berkuda ini amat kuat dan terdiri dari orang-orang terlatih yang rata-rata memiliki ilmu silat lihai dan tidak akan gentar kalau hanya menghadapi serigala-serigala. Setiap orang dari pasukan ini akan dapat membunuh seekor serigala dengan mudah.

Akan tetapi, kalau di dalam perang itu tlba-tiba muncul ratusan ekor serigala liar yang langsung menerjang mereka, menyerang kaki-kaki kuda membuat kuda tunggangan mereka panik ketakutan, serigala-serigala yang seperti manusia saja dapat diatur oleh seorang laki-laki gundul yang juga berloncatan merangkak seperti serigala, tentu saja pasukan yang bagaimana kuat pun akan menjadi kacau-balau. Lebih lagi karena saat itu dipergunakan oleh Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa untuk menerjang pasukan berkuda yang merupakan andalan seluruh barisan Sung, maka Suma Kiat sendiri menjadi marah dan juga bingung menyaksikan keadaan pasukannya.

Ia berteriak-teriak membagi tugas. Hatinya makin panas dan marah ketika ia menerima laporan bahwa yang menyerang dari belakang, kanan dan kiri adalah Pasukan Maut yang amat terkenal dipimpin oleh Panglima Wanita Maya. Tentu saja Suma Kiat sudah pernah mendengar kehebatan Pasukan Maut ini yang kabarnya adalah pasukan anak buah pasukan armada di timur yang memberontak.

“Biar kuhadapi sendiri pemberontak itu!” bentaknya.

Di atas kudanya, panglima ini bersama selir dan muridnya menyerbu ke depan. Gerakan pedang tiga orang ini hebat bukan main dan entah berapa puluh ekor serigala tewas oleh mereka bertiga. Bahkan dengan kemarahan meluap Suma Kiat sudah melepas senjata jarum-jarum hitam ke arah Theng Kok. Jarum-jarum beracun hitam dari Suma Kiat amat dahsyat, tentu saja tak dapat dielakkan oleh laki-laki gundul itu sehingga dadanya terkena tiga batang jarum hitam yang membuatnya terjungkal, berkelojotan dan mengeluarkan suara meraung-raung seperti serigala marah. Raungan ini membuat sisa barisan serigala menjadi seperti gila.

SBKS Chapter 5 Part 14

 

Akan tetapi Suma Hoat tertawa dan dengan gerakan mesra mulailah ia membelai dan menciumi. Liang Bi meronta-ronta, memaki-maki dan menangis. Melihat betapa gadis itu sama sekali tidak tergerak hatinya oleh cumbu rayunya, Suma Hoat menghentikan perbuatannya.

“Hemm, engkau benar keras hati dan keras kepala. Hendak kulihat sampai di mana kekerasanmu!” Pemuda yang kalau berhadapan dengan wanita menjadi keji dan ganas seperti iblis itu lalu mengambil secawan arak, yaitu obat perangsang yang sudah dipersiapkan. “Kau minumlah arak obat ini, manis!”

“Tidak sudi! Engkau telah menipu, menjatuhkan hati Sumoi yang lemah dengan tipuanmu. Jarum itu sama sekali tidak mengandung racun berbahaya. Tanpa pengobatan pun akan lenyap sendiri rasa gatal dan panas, namun engkau membohongi Sumoi. Engkau katakan bahwa racun itu akan membuat muka menjadi bopeng, buktinya aku tidak apa-apa! Aku tidak sudi minum obatmu yang terkutuk!” Liang Bi membuang muka ke samping.

Akan tetapi sambil tertawa Suma Hoat menggunakan tangan kiri memegang dagu, dengan jari-jari tangannya yang kuat ia memaksa mulut Liang Bi terbuka dan ia menuangkan isi cawan ke dalam mulut dara itu. Liang Bi gelagapan terpaksa menelan arak obat itu sampai habis. Ia terbatuk-batuk dan memaki-maki.

“Binatang! Iblis! Aku bersumpah untuk membunuhmu! Engkau telah menghina murid-murid Siauw-lim-pai!” ia meronta-ronta dan memandang penuh kebencian kepada Suma Hoat yang tertawa-tawa.

Suma Hoat hanya duduk dan memandang sambil tersenyum. Tak lama kemudian obat itu mulai bekerja. Liang Bi menjadi gelisah. Seluruh tubuhnya terasa panas dan jantungnya berdegup kencang, pandang matanya kabur, kepalanya pening. Makin lama makin panas rasanya sehingga ia mengira bahwa tubuhnya telah kemasukan racun dan ia akan mati. Akan tetapi ia tidak peduli.

SBKS Chapter 5 Part 13

 

Mata para perwira, apa lagi para prajurit sudah berkunang-kunang karena silau menyaksikan sinar kilat pedang Yan Hwa berkelebatan di ruangan itu dan seratus jurus telah lewat tanpa ada yang tampak terdesak. Hal ini sebetulnya memang disengaja oleh Maya. Kalau ia mau, dengan sinkang-nya yang amat tinggi dan kuat, tentu saja dia dapat merobohkan lawannya dengan pukulan yang membahayakan bagi keselamatan Yan Hwa, namun dia tahu bahwa jika dia mengalahkan Yan Hwa dalam waktu singkat, tentu hati dara yang angkuh ini akan tersinggung.

“Yan Hwa, inikah Siang-bhok Kiam-sut dari mendiang Bibi? Hebat bukan main…!” Maya cepat mengelak karena kembali ada sinar kilat menyambar ke arah lehernya.

“Singggg! Wuuuusssshhhh!”

Diam-diam Yan Hwa terkejut dan juga kagum sekali. Kini tahulah dia bahwa Maya benar-benar amat hebat kepandaiannya. Ilmu pedangnya aneh dan dalam hal ginkang, Maya bahkan melampaui tingkatnya! Seperti juga Ji Kun, dia terheran-heran mengapa bocah yang dahulu ikut bersama Panglima Khu Tek San itu kini telah menjadi seorang yang begini lihai. Tentu Menteri Kam Liong, kakak subo-nya yang kabarnya lebih lihai dari subo-nya itu yang menjadi gurunya.

“Maya, engkau pun hebat! Agak berkurang ketidak-percayaanku. Akan tetapi aku belum kalah!” kata Yan Hwa yang sudah menyerang lagi dengan hebat, agaknya dia hendak menguras semua kepandaiannya untuk mencapai kemenangan.

Maya maklum bahwa untuk menundukkan orang seperti Yan Hwa ini harus mengalahkannya, maka ia lalu mengeluarkan suara melengking keras dan tiba-tiba tubuhnya berkelebatan sedemikian cepatnya sehingga Yan Hwa mengeluarkan seruan kaget dan pandang matanya berkunang-kunang. Cepat Yan Hwa memutar pedang pusakanya sehingga tubuhnya terlindung dan terkurung oleh benteng sinar kilat.

SBKS Chapter 5 Part 12

 

Akan tetapi Maya menggoyang tangan berkata, “Kwa-huciang, kau mundurlah dan biar aku sendiri yang memberi hajaran kepada bocah nakal bau domba ini. Hei, bocah! Engkau kira bahwa engkau sudah paling jempolan setelah mengalahkan beberapa orang perwiraku yang memang sudah kelelahan dan kehabisan tenaga. Coba kau melawan aku! Lihat, aku akan tetap berdiri di sini, sedikit pun tidak akan memindahkan kedua kakiku. Kau boleh menyerangku, kalau sampai aku merubah kedudukan kedua kakiku, aku mengaku kalah padamu!”

“Kalau hanya mengaku kalah saja apa gunanya bagiku?” Pemuda itu membantah dan memandang Maya penuh selidik, seolah-olah ia dapat merasa bahwa biar pun hanya seorang wanita muda, panglima itu agaknya tidak boleh dibuat sembrono. Kalau tidak berkepandaian tinggi, mana mungkin bersikap demikian takabur?

Kembali Maya tersenyum. “Eh, pecinta domba. Kalau sampai kau dapat merubah kedudukan kakiku, selain aku mengaku kalah, aku akan memerintahkan pasukanku mengambil jalan memutar dan akan kuganti harganya semua dombamu yang terluka atau hilang. Akan tetapi bagaimana kalau kau tidak mampu merubah kedudukan kakiku malah kau akan roboh olehku kurang dari sepuluh jurus? Apa yang akan kau pertaruhkan?”

Mata yang lebar penuh kepolosan itu terbelalak. “Aku? Roboh dalam waktu kurang dari sepuluh jurus olehmu? Mana mungkin ini? Kalau sampai begitu, aku akan berlutut dan menyembah seratus kali kepadamu!”

“Kalau hanya disembah seratus kali oleh orang seperti kau saja apa gunanya bagiku?” Maya membalas bantahan pemuda penggembala itu.

 

SBKS Chapter 5 Part 11

 

Orang itu mengangguk-angguk. “Engkau benar-benar memiliki keberanian luar biasa, Nona. Nah, dengarlah ceritaku. Seratus tahun lebih yang lalu, nenek moyang tiga empat keturunan dari kaum kaki satu dan lengan satu adalah dua orang saudara seperguruan yang berilmu tinggi. Entah mengapa, kedua saudara seperguruan itu bercekcok sehingga terjadilah pertempuran antara mereka berdua. Pertempuran hebat yang mengakibatkan seorang buntung kaki kanannya dan yang seorang lagi buntung lengan kirinya. Dendam antara kedua orang ini amat hebat. Mereka lalu mengasingkan diri melatih ilmu, juga masing-masing mengambil murid-murid, kemudian mereka berjanji untuk mengadu ilmu setiap tahun, untuk menentukan siapa yang lebih unggul di antara mereka. Karena makin lama jumlah mereka makin banyak, maka permusuhan itu menjadi berlarut-larut dan setiap tahun tentu diadakan pertandingan mengadu ilmu. Demikianlah, keturunan kedua orang itu melanjutkan permusuhan aneh ini dan terbentuklah kaum kaki buntung dan kaum lengan buntung yang saling bermusuhan.”

“Akan tetapi, mengapa mereka itu masing-masing dapat mengumpulkan orang-orang kaki buntung dan orang-orang lengan buntung sebanyak itu? Siauw Bwee bertanya heran.

“Bukan dikumpulkan, Nona. Melainkan dibuat, sengaja dibikin buntung!”

Mata Siauw Bwee terbelalak lebar. “Apa? Murid-murid mereka dibuntungi sebelah kaki atau lengannya?”

Orang itu mengangguk. “Begitulah. Syarat pertama menjadi murid kedua kaum ini haruslah dibuntungi kaki atau lengannya.”

“Apakah mereka gila? Mengapa mau saja dibuntungi kaki atau lengan agar bisa menjadi murid mereka?”

SBKS Chapter 5 Part 10

 

“Suheng! Berterus teranglah, apakah engkau mencinta Maya-suci?” Siauw Bwee bertanya.

“Suheng, engkau bilang aku paling cantik di dunia ini! Bukankah engkau mencintaku? Ataukah… engkau cinta kepada Sumoi?” Maya juga menuntut jawaban pasti.

Wajah Han Ki menjadi pucat. Kemudian ia menggunakan kedua tangan menutupi mukanya karena pandang matanya terasa berkunang-kunang. Sambil menggelengkan kepalanya ia berkata, “Aku tidak tahu… aku tidak tahu. Kalian adalah kedua orang sumoi-ku, seperti adik-adikku sendiri… aku tidak cinta siapa-siapa…!”

Ia hanya mendengar isak tertahan dan mendengar berkelebatnya gerakan tubuh mereka pergi dari situ. Dia tidak peduli, bagi dia asalkan kedua orang dara itu tidak saling serang pada saat itu, cukuplah. Akan tetapi ketika sampai lama dia tidak mendengar gerakan mereka, ia membuka kedua tangannya dan memandang. Kedua orang dara itu tidak tampak lagi dan keadaan di sekelilingnya sunyi. Sunyi dan dingin karena angin yang bertiup membawa datang salju-salju tipis.

Ia mulai merasa khawatir, lalu melangkahkan kaki mencari kedua orang sumoi-nya, khawatir kalau-kalau mereka itu pergi untuk melanjutkan pertandingan mati-matian di bagian lain dari pulau itu. Akan tetapi mereka tidak ada di pulau dan betapa kaget hatinya ketika melihat dua buah perahu berlayar, jauh dari pantai, yang sebuah ke barat, yang sebuah lagi selatan. Ia mengenal perahu lama dengan layar hitam itu membawa Maya menuju ke barat, sedangkan yang sebuah lagi adalah perahu buatan Siauw Bwee, dengan layar kuning meluncur pergi membawa dara itu ke selatan!

Han Ki berlari ke pantai, berteriak nyaring, “Sumoiiii…!”

Akan tetapi samar-samar dia hanya melihat kedua orang sumoi-nya itu menoleh dan melambaikan tangan, kemudian tangan yang melambai itu menyentuh muka, seperti menghapus air mata! Tak terasa lagi kedua mata Han Ki menjadi basah dan dia memandang sampai kedua buah perahu itu lenyap dari pandang matanya. Di dalam hatinya, semenjak tinggal di situ dia sudah mengambil keputusan untuk tidak kembali ke dunia ramai. Akan tetapi kini kedua orang sumoi-nya, dua orang yang paling dicintainya di dunia ini, meninggalkan Pulau Es, menempuh hidup menghadapi dunia ramai yang penuh bahaya.

SBKS Chapter 5 Part 9

 

Namun segera menjadi kenyataan pahit bagi Kerajaan Sung bahwa Kerajaan Cin yang baru ini ternyata lebih bengis dan sewenang-wenang dari pada Kerajaan Khitan yang sudah runtuh. Biar pun dahulu Kerajaan Khitan juga merupakan kerajaan kuat yang selalu menjadi ancaman untuk Kerajaan Sung, dan setiap tahun Kerajaan Sung mengirim upeti sebagai tanda persahabatan, namun Raja Talibu dari Kerajaan Khitan yang masih ingat akan darahnya yang separuh darah Han tidak terlalu mendesak dan selalu memperlihatkan sikap yang bersahabat dan saling menghormat. Kini bangsa Cin yang tahu akan kelemahan Sung menuntut upeti yang lebih besar dan yang sifatnya memaksa, seolah-olah upeti harus dlberikan sebagai tanda pengakuan kebesaran kerajaan baru Cin.

Kalau dahulu bangsa Khitan tidak pernah mengganggu Kerajaan Sung, kini Kerajaan Cin mulai memperlihatkan keserakahannya, bersikap menghina kepada bangsa Han, bahkan sedikit demi sedikit daerah-daerah di utara yang termasuk wilayah Sung dirampas dengan kekerasan. Kerajaan Sung tak dapat mempertahankan daerah ini dan selalu didesak mundur ke selatan.

Melihat keadaan ini, bangsa Han pada umumnya, terutama sekali kaum patriot dan orang gagah, menjadi cemas dan kecewa sekali. Tentu saja kekecewaan ini terutama mereka tujukan kepada pemerintah Sung yang amat lemah. Kaisar telah berada dalam cengkeraman para pembesar tinggi yang korup. Hidup Kaisar dan keluarganya terlalu mewah, yang diperhatikan hanyalah kesenangan-kesenangan pribadi saja, seolah-olah tidak mempedulikan betapa rakyatnya di sebelah utara ditindas, dirampok, ditawan dan dipaksa oleh bangsa Yucen yang kini mempunyai Kerajaan Cin yang makin kuat. Pesta pora, bersenang-senang, melakukan pemilihan dara-dara muda jelita setiap bulan memperbanyak isi haremnya dengan dara-dara cantik, membuang-buang kakayaan semena-mena tanpa mempedulikan bahwa semua itu adalah hasil keringat rakyat jelata, hanya inilah yang dikerjakan oleh kaisar dan keluarganya setiap saat.

SBKS Chapter 5 Part 8

 

Ia duduk di atas lantai batu dekat peti dan mulai membaca. Huruf-huruf itu adalah huruf yang sudah agak kuno, akan tetapi Han Ki dapat membacanya dan menangkap artinya. Memang benar seruannya tadi. Kitab itu adalah kitab catatan yang menceritakan keadaan nenek moyang penghuni. Pulau Nelayan. Agaknya kitab-kitab itu tidak ada gunanya bagi para penghuni di situ karena tiada seorang pun di antara mereka dapat membaca.

Dengan penuh perhatian Han Ki membaca isi kitab yang ditulis rapi dan indah itu. Dan ia menjadi kaget sekali, juga girang karena ternyata dugaannya tidak keliru bahwa penghuni Pulau Nelayan itu masih mempunyai hubungan dengan Bu Kek Siansu! Kiranya mereka itu adalah keturunan orang-orang yang mengungsi dari Pulau Es di jaman dahulu. Juga di dalam kitab itu dituturkan sejelasnya tentang kerajaan kecil di Pulau Es, yaitu raja sakti seperti dewa yang menjadi nenek moyang gurunya Bu Kek Siansu.

Menurut catatan dalam kitab itu, di jaman dahulu, ratusan tahun yang lalu, seorang pangeran pelarian dari daratan bersama keluarganya menduduki Pulau Es dan membangun sebuah istana di situ. Pangeran ini amat sakti dan bersama para pengikutnya ia tinggal di Pulau Es sebagai seorang raja kecil. Mereka hidup aman tenteram dan penuh kebahagiaan di pulau itu. Para pengikutnya membentuk keluarga-keluarga yang hidup aman dan tidak kekurangan sesuatu. Karena kesaktian raja ini, tidak ada golongan atau kerajaan lain yang berani mengganggu Pulau Es dan sekitarnya. Raja ini tinggal di Pulau Es turun-temurun dan ilmu kepandaiannya pun menjadi ilmu warisan yang turun-temurun dipelajari anak cucunya.

Akan tetapi, pada waktu keturunan ke empat berkuasa menjadi raja dan keluarga di Pulau Es sudah mulai berkembang, terjadilah mala-petaka yang amat dahsyat di pulau itu. Badai taufan mengamuk, tak tertahankan oleh manusia yang bagaimana kuat pun, menyapu habis Pulau Es berikut semua penghuninya! Seluruh keluarga raja dan para pengikutnya yang berada di pulau itu habis dan terbasmi semua!

SBKS Chapter 5 Part 7

 

Akan tetapi karena kini ia bergerak di depan mulut terowongan pintu gerbang, ia menghadapi pengeroyokan yang amat banyak. Seluruh serbuan kini dia tahan seorang diri. Di dalam hatinya Menteri Kam Liong sudah mengambil keputusan nekat. Ia akan mempertahankan mulut terowongan pintu gerbang itu sampai napas terakhir untuk memberi kesempatan muridnya melarikan Han Ki.

Dia sudah tua, tidak ada seorang pun keluarganya, maka kematian bukan apa-apa baginya, juga tidak akan menyedihkan hati orang lain. Akan tetapi muridnya belum begitu tua, mempunyai anak isteri pula, sedangkan Han Ki masih seorang pemuda remaja. Mereka itu harus hidup, dan dia rela mengorbankan nyawanya demi dua orang yang disayangnya itu.

Setelah merobohkan tiga orang penjaga lagi yang merupakan orang-orang terakhir penjaga pintu gerbang, Khu Tek San terpincang-pincang menghampiri pintu gerbang. Tenaganya sudah hampir habis dan darah yang mengucur dari luka di pahanya terlalu banyak, membuat ia menjadi lemas dan pandang matanya berkunang. Ada pun Kam Liong menghadapi pengeroyokan terlalu banyak orang, tidak sempat memperhatikan muridnya. Dia seorang yang sakti, akan tetapi dia pun hanya seorang manusia dari darah daging sehingga melakukan pertempuran menghadap pengeroyokan orang-orang pandai terus menerus semenjak malam sampai pagi benar-benar amat melelahkan.

Apa lagi setelah pundaknya terluka, maka dalam pengeroyokan terakhir yang merupakan pengepungan paling hebat ini, biar pun ia telah berhasil melukai pangkal lengan Suma Kiat dengan gagang kipasnya, merobohkan Siangkoan Lee yang patah tulang pundaknya karena pukulan suling, membinasakan banyak sekali pengeroyok lain, namun kakek sakti ini sendiri menerima hantaman-hantaman yang cukup banyak, membuat ia terluka di beberapa tempat dan seluruh tenaganya diperas hampir habis, napasnya terengah-engah dan pandang matanya menjadi kabur.