SBKS Chapter 4 (Part 25)

 

Namun Kwi Lan tidak main-main dan serangannya bertubi-tubi dan hebat. Akhirnya sebuah pukulan membuat Suma Kiat roboh. Kwi Lan menubruknya dan menghujani pukulan. Kalau tidak ingat bahwa orang ini putera gurunya, tentu ia sudah mengirim pukulan maut. Dia masih ingat ini dan pukulan-pukulannya hanya pukulan dengan tenaga luar saja yang membuat Suma Kiat mengaduh-aduh. Mulut dan hidung pemuda itu mengucurkan darah, mukanya bengkak-bengkak dan kaki tangannya lumpuh karena ditotok. Kwi Lan dengan hati sakit dan gemas bukan main terus memukul sampai Suma Kiat pingsan! Kemudian ia menyeret leher baju pemuda itu, terus menarik dan menyeretnya menuju ke pondok di mana tadi ia melihat Pangeran Talibu.

Pangeran Talibu dan Puteri Mimi sedang membicarakan Mutiara Hitam. Hati Pangeran itu gelisah sekali melihat sikap Mutiara Hitam. Ia sudah menceritakan segalanya kepada Mimi dan gadis ini sampai menangis saking terharu kepada Kwi Lan yang nasibnya begitu buruk, dipermainkan keadaan. Dia sendiri begitu bahagia, kehilangan kakak kandung mendapatkan tunangan. Cinta antara saudara berubah menjadi cinta asmara! Pangeran Talibu mengajaknya menyusul Mutiara Hitam, karena menurut Mimi, tidak mengapalah kalau Pangeran itu sendiri menjelaskan duduknya perkara, membuka rahasia saudara kembar kepada Mutiara Hitam.

Akan tetapi, pada saat mereka hendak keluar dari pondok, tampak Mutiara Hitam datang menyeret tubuh Suma Kiat yang pingsan! Pangeran dan puteri itu kaget sekali, memandang dengan mata terbelalak. Kwi Lan menyeret terus kemudian melempar tubuh Suma Kiat ke depan kaki Pangeran Talibu, suaranya dingin matanya berapi ketika ia berkata.

 

SBKS Chapter 4 (Part 24)

 

“Heh-heh-heh, memang omong kosong? Apa sih isinya omongan? Tapi yang kosong berisi, yang isi itu kosong, bukan begitu Bouw Lek Couwsu? Kau menyebut aku gila sebetulnya tidak gila, kau yang menganggap diri tidak gila sebetulnya gila. Anjing bukan manusia dan manusia bukan anjing tapi manusia dan anjing sama! Luka-luka kalian adalah akibat dari getaran ledakan yang disertai asap beracun. Kami yang melompat ke atas tidak terkena, akan tetapi kalian yang berada di bawah, terkena tanpa kalian rasakan. Padahal andai kata kami di bawah dan terkena racun juga, tidak mengapa karena aku mempunyai obat pemunahnya. Kebetulan sekali di antara perbekalanku terdapat Pel Batu Sepasang Goa.”

“Omitohud…!” Bouw Lek Couwsu menyebut nama Buddha, hatinya lega karena ancaman maut yang mencengkeram dia dan anak-anak muridnya ada obat penawarnya, “Bu-tek Lo-jin, kalau begitu pinceng mengharapkan kau suka memberikan obat itu kepada kami.”

“Tadi maki-maki sekarang minta-minta. Inilah watak manusia kalau membutuhkan sesuatu! Obat ini mencarinya juga bertaruhan nyawa. Sepasang goa itu tak seorang pun dapat memasukinya. Aku berani mempertaruhkan kepalaku kalau ada orang yang mampu memasuki sepasang goa itu. Hanya dengan kecerdikan luar biasa barulah batu hitam dikumpulkan sedikit demi sedikit. Dicampur dengan sari bumi dan debu angkasa. Bayangkan saja betapa sukarnya mendapatkan obat ini,” Bu-tek Lo-jin mengeluarkan sekepal ‘obat’ yang sudah ia bungkus kain kuning.

Bouw Lek Couwsu mengilar sekali. Kalau ia tidak ingat betapa lihainya kakek cebol ini, tentu sekali pukul ia membikin mampus padanya dan merampas obatnya. “Lo-jin, sekali lagi pinceng mohon pertolonganmu. Kalau perlu dibeli, katakan saja berapa, pinceng akan sanggup menggantinya.”

SBKS Chapter 4 (Part 23)

 

Begitu goloknya tercabut, golok itu sudah terbang terlepas dari tangannya. Hauw Lam kaget sekali. Ia hanya melihat sinar menyambar dari tangan kakek bertopi tinggi, bertubuh kurus dan berwajah angkuh. Kiranya sinar itu adalah sehelai tali pancing yang sudah melibat goloknya dan pancingnya mengancam tangannya yang memegang golok sehingga terpaksa ia lepaskan dan golok itu terbang, kini terpegang kakek yang sama sekali tidak tersenyum itu!

Hebat bukan main! Biar pun perampasan golok terjadi di kala ia lengah dan tidak menduga namun melihat ini saja sudah menimbulkan keyakinan bahwa kakek ini benar-benar seorang lawan yang amat tangguh! Ia mengharapkan gerakan bantuan Kwi Lan, akan tetapi gadis ini sama sekali tidak bergerak, bahkan memandang ke arah wanita berkerudung dengan kening berkerut gelisah.

“Kwi Lan, apakah engkau hendak melawan aku?” Wanita berkerudung itu bertanya, suaranya dingin seperti suara dari balik kubur, membuat bulu tengkuk Hauw Lam meremang.

Kwi Lan menggeleng kepala. Ia bukan tidak berani, sungguh pun ia tahu percuma saja melawan gurunya ini, melainkan tidak mau. Kalau ia pernah melawan ketika gurunya hendak membunuh Siang Ki, hal ini lain lagi. Kini tidak ada siapa-siapa yang harus ia bela, maka untuk dirinya sendiri tentu saja ia tidak mau melawan gurunya yang betapa pun juga sudah berlaku amat baik terhadap dirinya, seperti seorang ibu sendiri. Apa lagi kalau diingat bahwa guru ini adalah bibinya, bagaimana ia dapat melawannya?

Pak-sin-ong berkata kepada Hauw Lam, “Orang muda, kau benar-benar tak takut mampus, berani membikin huru-hara di sini. Kalau kau menyerah, kau akan kuhadapkan Bouw Lek Couwsu dalam keadaan hidup seperti dikehendakinya, kalau melawan, terpaksa kuhadapkan sebagai mayat!”

SBKS Chapter 4 (Part 22)

 

“Hemmm…!” Bouw Lek Couwsu mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya, tangannya bergerak dan Pangeran Talibu terguling roboh dengan kaki seperti patah rasanya. Pukulan jarak jauh pendeta ini telah merobohkannya.

Bouw Lek Couwsu memberi perintah lagi dalam bahasa Hsi-hsia. Raksasa hidung besar yang menjadi marah sekali karena temannya roboh tewas mentaati perintah itu, lalu bangkit berdiri dan mencabut sebuah cambuk kulit dari ikat celananya. Kemudian ia menghampiri Pangeran Talibu dan terdengarlah suara meledak-ledak ketika cambuk itu melecut dan menghantam tubuh Pangeran Talibu yang juga telanjang bagian atasnya.

Pangeran yang memang sudah luka-luka itu merasa betapa kulit dan sedikit daging di bawah kulit seperti dicacah-cacah, digigiti cambuk, terasa panas dan perih. Saking sakitnya, ia sempat menggeliat-geliat dan bergulingan ke sana ke mari seperti seekor ayam disembelih, akan tetapi ia menggigit bibir sampai berdarah, sedikit pun tidak ada suara keluhan keluar dari mulutnya!

Biar pun Kwi Lan tidak mengeluarkan kata-kata sesuatu saking terharu dan sakit hatinya, namun air matanya bercucuran menyaksikan betapa pemuda yang dicintanya ini mengalami siksaan seperti itu. Kemudian ia mendapatkan kembali suaranya lalu memaki-maki nyaring.

“Bouw Lek Couwsu kau manusia iblis! Kau anjing tua berkedok pendeta! Aku bersumpah akan mencabut nyawamu kalau diberi kesempatan!”

Bouw Lek Couwsu hanya tertawa bergelak, kemudian berkata dalam bahasa yang dimengerti Kwi Lan, “Heeii, kau beri rasa sekali dua kali kepada bocah bermulut lancang ini!”

 

SBKS Chapter 4 (Part 21)

 

Akan tetapi pada saat itu terdengar ledakan keras dan… pohon besar di mana Kwi Lan berada itu tiba-tiba roboh! Kwi Lan tentu saja menjadi kaget dan panik. Hendak meloncat turun, takut tertimpa dahan-dahan pohon raksasa ini. Kalau tidak, juga terdapat bahaya terbanting bersama pohon. Biar pun terancam bahaya maut, gadis ini masih tidak kehilangan akal. Ia mempergunakan pandang matanya yang tajam dan terbiasa di tempat gelap, mengikuti robohnya pohon itu sambil berpegang kuat-kuat pada dahan.

Setelah tahu arah pohon roboh, ia cepat menyelinap dan berpindah pada dahan sebelah atas sehingga ia berada di dahan yang akan menjadi bagian teratas apa bila pohon itu sudah rebah di tanah. Kemudian, sambil mengerahkan seluruh ginkang-nya, sebelum pohon itu menimpa tanah, ia sudah mengenjot tubuhnya ke depan, melampaui pohon itu dan melayang turun ke atas tanah sambil menyambar ujung dahan terpanjang.

Untung sekali bahwa dalam seperempat detik terakhir ia ingat untuk menyambar ujung ranting dari dahan terpanjang pohon itu, karena begitu kedua kakinya turun menginjak tanah yang tertutup daun-daun kering, tiba-tiba tanah itu bergoyang dan tubuhnya terjeblos ke dalam lubang sumur yang amat lebar dan dalam! Kwi Lan menahan napas, mengerahkan tenaga menarik tubuhnya ke atas dengan bantuan ujung ranting pohon. Tubuhnya mencelat keluar dari sumur dan ia tidak berani lagi turun ke atas tanah yang banyak jebakannya melainkan memeluk dahan terendah sebatang pohon terdekat!

Kini ia ‘nongkrong’ di atas dahan mengeluarkan sapu tangan dan menghapus dahi dan leher yang penuh dengan keringat dingin. Tangan yang dipergunakan untuk menghapus keringat itu agak gemetar, jantungnya berdebar-debar. Bukan main, pikirnya. Kini terdengar suara hiruk pikuk yang datangnya dari tengah hutan. Bahaya baru lagi mengancam pikir Kwi Lan. Ia berada terlalu dekat dengan mayat lima orang itu, dan hal ini berbahaya. Para penjaga tentu akan memeriksa sekeliling tempat ini. Ia tidak takut menghadapi mereka, akan tetapi ia gentar juga mengingat akan banyaknya alat rahasia yang demikian berbahaya. Di samping ini, ia tidak ingin bertempur dengan mereka sebelum dapat menemukan dan menolong Pangeran Mahkota. Lebih baik ia bersembunyi. Akan tetapi soalnya yang repot, di mana tempat sembunyi?

SBKS Chapter 4 (Part 20)

 

Suma Ceng memandang wajah yang jelita itu dengan pandang mata kagum dan senang. Kemudian berkata, suaranya halus dan matanya sayu termenung. “Aahhh, kau tentu dekat dengan Ratu Khitan, Mimi. Mendengar pun tidak mengapa, karena wanita yang dibicarakan tadi, Kam Sian Eng, adalah enci angkat ratumu di Khitan.”

Kemudian ia memandang putera sulungnya, “Liong-ji, ketika pamanmu Suma Boan dahulu meninggal dunia, di luar tahu siapa pun juga ia meninggalkan Kam Sian Eng dalam keadaan mengandung. Semenjak itu Kam Sian Eng menghilang dan beberapa hari yang lalu di waktu malam dia muncul secara tiba-tiba di sini bersama puteranya, Suma Kiat. Ia minta supaya aku menerima Suma Kiat tinggal untuk sementara di sini dan memperkenalkannya kepada para pembesar di kota raja. Tentu saja aku tidak dapat menolak permintaannya dan pagi hari ini kami memperkenalkan Suma Kiat melalui pesta umum kepada para tamu. Ayahmu tidak setuju, maka terpaksa Suma Kiat sendiri yang menjadi wakil dalam pesta.”

Kiang Liong menghela napas panjang. Sudah lama ia tahu bahwa tentu ada rahasia aneh terselip dalam rumah tangga ibunya, dan di dalam rahasia ini, gurunya memegang peran yang tidak kecil. Gurunya sendiri belum pernah mau bertemu dengan ayah ibunya. Dan ibunya amat sayang kepadanya, melebihi sayangnya kepada dua orang adiknya, Kiang Sun dan Kiang Hoat. Akan tetapi ayahnya jauh lebih sayang kepada dua orang adiknya. Rahasia apakah?

Dia tidak tahu dan tidak pernah ibunya mau bicara tentang itu. Kini adiknya Kiang Sun yang sudah berusia dua puluh tiga tahun, sudah menikah dan bahkan tinggal jauh di selatan, di Sucouw. Ada pun Kiang Hoat adiknya yang bungsu, menjadi siucai (sastrawan) yang pandai, akan tetapi pekerjaannya sehari-hari hanya mengejar wanita-wanita cantik dan menghambur-hamburkan uang saja.

SBKS Chapter 4 (Part 19)

 

Pagi hari itu, pagi hari yang cerah, sebuah pesta diadakan di sebuah taman bunga gedung Pangeran Kiang. Gedung besar dengan taman bunga yang luas dan indah ini adalah sebuah di antara gedung- gedung besar yang paling terkenal di kota raja. Siapakah yang tidak mengenal keluarga Kiang ini? Bukan Pangeran Kiang yang kaya raya ini yang banyak dikenal orang, melainkan puteranya, yaitu Kiang-kongcu (Tuan Muda Kiang), sebutan untuk Kiang Liong. Semua orang mengenal Kiang-kongcu.

Orang-orang gagah di dunia kang-ouw mengenalnya karena sepak terjangnya yang gagah dan lihai, apa lagi karena dia adalah murid pendekar sakti Suling Emas! Penjahat-penjahat mengenalnya karena takut. Penjilat-penjilat mengenalnya karena tangannya selalu terbuka. Pemuda-pemuda mengenalnya karena ia ramah dan pandai bergaul. Bahkan wanita-wanita mengenalnya karena ketampanannya dan sifatnya yang romantis sehingga banyak yang jatuh hati kepadanya!

Dan pagi hari itu, pesta meriah diadakan di taman bunga rumah keluarga Pangeran Kiang ini! Untuk keperluan apa? Kiang-kongcu tidak tampak berada di rumah. Juga Pangeran Kiang dan isterinya yang sudah berusia lanjut dan tidak bernafsu lagi untuk main pesta-pestaan, tidak hadir. Sebagai wakil tuan rumah adalah seorang pemuda yang pakaiannya mewah dan indah dan memang pesta ini diadakan untuk menyambut kedatangannya di gedung itu.

Dia bernama Suma Kiat dan kepada para tamu ia diperkenalkan oleh Pangeran Kiang sebagai anak keponakan Nyonya Kiang yang baru datang berkunjung setelah berpisah belasan tahun. Padahal sesungguhnya baru pertama kali itu selama hidupnya pemuda ini muncul dan mengaku sebagai putera tunggal mendiang Suma Boan, kakak dari Nyonya Kiang. Muncul begitu saja, akan tetapi isterinya, yaitu Nyonya Kiang, tidak ragu-ragu lagi bahwa pemuda yang mengaku bernama Suma Kiat ini benar-benar putera mendiang kakaknya karena mempunyai persamaan wajah yang tidak dapat diragukan lagi.

SBKS Chapter 4 (Part 18)

 

Song Goat tersenyum dan dari belakang ia memandang kagum. Bukan main! Dia sendiri biar pun akan dapat bertahan dalam air mendidih, namun harus ia kerahkan seluruh lweekang-nya, menggunakan hawa sinkang di tubuh melawan panas dan untuk ini tentu saja ia tidak sanggup untuk bicara. Akan tetapi pemuda ini tidak hanya menyuruh besarkan api, malah masih dapat enak-enak bicara dan berkelakar! Pemuda hebat!

Sementara itu, pemilik kedai yang gendut dan merasa amat gelisah itu tak dapat menahan hatinya lagi dan bahkan tidak berani berada di dalam kedainya. Ia keluar dan sebentar saja banyak kenalan dan langganannya datang bertanya. Saking tak dapat menahan kegelisahannya, ia menceritakan kejadian aneh di dalam dapur kedainya dan ramailah mereka bercakap-cakap dan berbisik-bisik di luar kedai. Ibu-ibu yang mendengar bahwa ada orang merebus daging manusia, menjadi pucat dan berlarilah mereka ketakutan mencari anak-anak masing-masing, melarang mereka bermain di luar rumah dan menyembunyikan mereka ke dalam kamar. Setan pemakan daging manusia tentu lebih suka akan anak- anak yang dagingnya masih lunak!

“Tentu dia perempuan siluman rase!” bisik seorang kakek sambil mengangguk-anggukkan kepala penuh keyakinan.

“Tapi… Kongcu itu menurut saja direbus,” kata si Gendut pemilik kedai.

“Uuuhh, kau tahu apa? Siluman rase tentu saja pandai ilmu hitam. Sekali senyum dan sekali kerling, laki- laki akan terpikat dan disuruh apa pun juga takkan membantah,” kata pula si Kakek yang tahu segala.

SBKS Chapter 4 (Part 17)

 

Dua orang gadis remaja yang cantik jelita itu lalu duduk di atas batu-batu besar tidak jauh dari pondok itu. Song Goat mengeluarkan dua buah kantong dari saku bajunya. “Kau lihat ini, yang sekantong terisi jarum-jarum biasa, dan kantong kedua terisi jarum-jarum hijau beracun. Jangan kira bahwa aku mencuri jarum- jarummu, Adik Kwi Lan. Kau tentu mengerti bahwa ayahku adalah seorang yang ahli dalam hal segala macam racun, dan agaknya secara kebetulan saja jarum-jarum kita menggunakan racun hijau yang sama. Akan tetapi ada perbedaannya di antara kita.”

“Apa bedanya?”

“Kau selalu menggunakan jarum hijau beracun, akan tetapi aku hanya menggunakan jarum biasa tanpa racun, kecuali kalau harus merobohkan orang jahat yang patut dibunuh.”

“Seperti yang kau lakukan kepada hwesio-hwesio dalam kuil itu? Kau mau bilang bahwa pendeta-pendeta itu adalah orang-orang jahat?” Kwi Lan mengejek.

“Lebih jahat dari pada penjahat biasa, Adik manis! Penjahat biasa memang penjahat, akan tetapi penjahat- penjahat keji itu berkedok di balik Agama Buddha yang suci, benar-benar menjemukan sekali! Apa kau belum dapat menduga bahwa mereka itu adalah sekutu orang-orang Thian-liong-pang dan perampok- perampok di bawah pengaruh Siauw-bin Lo-mo? Apakah kau tidak tahu bahwa kedatangan orang-orang Thian-liong-pang yang menginap di rumah mereka itu mengorbankan belasan orang gadis baik-baik yang mereka tangkap untuk disuguhkan kepada orang-orang Thian-liong-pang? Kebetulan Ayah dan aku tahu akan hal ini, maka kami turun tangan membunuh mereka membebaskan gadis-gadis itu. Para tamu, orang- orang Thian-liong-pang itu, segera bubar melarikan diri. Karena sepak terjangmu bersama… eh, Pangcu itu, Ayah mengajak aku diam-diam mengikuti karena khawatir kalau-kalau kalian terjebak oleh orang-orang Thian-liong-pang yang lihai dan curang. Dugaan Ayah ternyata terbukti. Kami tak dapat segera turun tangan karena tidaklah mudah membebaskan kalian dari tangan dua belas orang tokoh Thian-liong-pang itu, apa lagi setelah ternyata mereka itu berkumpul dengan Siauw-bin Lo-mo si iblis tua…”

SBKS Chapter 4 (Part 16)

 

“Ah, maafkan percobaan kami, Cianpwe. Ternyata Cianpwe sakti seperti diceritakan kedua panglimaku. Siapakah nama julukan Cianpwe?”

“Hamba tidak ingat lagi nama hamba, orang hanya menyebut hamba Bu Beng Lojin (Kakek Tak Bernama).”

Ratu Yalina mengangguk-angguk. “Bu Beng Lojin, apakah engkau tidak mempunyai saudara muda atau keponakan atau putera?”

Hati Suling Emas berdebar. Ternyata pandang mata tajam dari Yalina dapat mengenal persamaan muka penyamarannya. Cepat ia menggelengkan kepala. ”Hamba hidup sebatang kara di dunia ini. Apakah maksud pertanyaan Paduka?”

Ratu Yalina menarik napas panjang. “Tidak apa-apa, hanya kau mengingatkan aku akan seseorang…“ Ia berhenti termenung sejenak, wajahnya terliputi kedukaan, kemudian menyambung. “Mulai sekarang kau kuangkat menjadi pengawal dalam istana. Keselamatan kami sekeluarga kuserahkan ke dalam penjagaanmu.”

Suling Emas menunduk, hatinya terharu. “Terima kasih atas segala kebaikan dan kurnia Paduka”

Demikianlah, mulai saat itu Suling Emas menjadi kepala pengawal dan tinggal pula di lingkungan istana. Dia diberi pakaian yang sesuai dengan pangkatnya. Seperangkat pakaian yang indah dan gagah, dengan hiasan sulaman-sulaman benang emas dan di dadanya tersulam gambar sebagai tanda bahwa pangkatnya adalah panglima pengawal. Kepalanya memakai topi bundar berhias bulu kuning, hiasan bulu bagi panglima yang tinggi.

SBKS Chapter 4 (Part 15)

 

“Kau akan mencelakai dirimu dengan minuman seperti itu!”

“Ha-ha-ha, mana bisa celaka? Darah ular salju amat besar khasiatnya, tentu saja terutama sekali kepadaku. Kau tahu, aku ahli Im-kang aku membutuhkan racun dingin untuk memperkuat tenagaku, tidak seperti kau yang suka akan yang panas-panas, ha-ha-ha!”

Pada saat itu terdengar pintu terketok dari luar. Han Ki yang sejak tadi mengintai dan mendengarkan dengan wajah pucat dan tubuh menggigil saking gelisahnya mendengar dua orang kakak perempuannya juga tertawan, menjadi makin kaget dan cepat-cepat ia menarik kepalanya, mendekam di bawah jendela yang gelap. Ia hanya mendengarkan sambil menahan napas. Akan tetapi ternyata bahwa yang datang memasuki kamar itu adalah seorang pendeta jubah merah anak buah Bouw Lek Couwsu dan mereka bicara dalam bahasa Tibet yang sama sekali tidak dimengerti Han Ki. Kemudian terdengar Bouw Lek Couwsu memaki-maki, juga Siang-mou Sin-ni berseru marah.

“Mari kita lihat bagaimana macamnya iblis itu!” Terdengar mereka meninggalkan kamar.

Setelah keadaan di situ sunyi, barulah Han Ki berani menggerakkan lehernya mengintai. Kamar itu kosong. Hatinya berdebar. Kedua orang kakaknya tertawan pula. Di mana? Dengan hati-hati ia lalu naik ke atas jendela, lalu memasuki kamar itu. Tubuhnya masih gemetar dan jantungnya masih berdebar. Lehernya seperti dicekik, amat kering dan haus. Keadaan sudah amat sunyi dan agaknya ia akan dapat melarikan diri, akan tetapi ia mendengar bahwa dua orang kakaknya tertawan, lenyaplah keinginan hatinya untuk melarikan diri. Ia lama menyelidiki dan mencari di mana kedua orang kakaknya ditahan dan ia akan berusaha menolongnya!

Bau harum sedap menarik perhatiannya. Cawan emas itu masih di atas meja dan isinya penuh. Agaknya Bouw Lek Couwsu tidak sempat meminumnya, keburu datang pelapor yang membuatnya marah-marah dan meninggalkan kamar. Mencium bau sedap dan melihat isi cawan yang kuning kemerahan dan jernih, makin kering rasa tenggorokannya. Sebagai putera pendekar yang dilatih silat sejak kecil Han Ki tidak asing dengan arak, karena sering kali ia diharuskan minum arak obat untuk memperkuat tulang-tulangnya dan membersihkan darahnya.

SBKS Chapter 4 (Part 14)

 

Dusun itu ternyata ramai karena merupakan pelabuhan perahu-perahu yang berlayar di sepanjang sungai. Di dekat pantai terdapat sebuah kelenteng. Kwi Lan merasa heran karena tidak melihat belasan orang Thian-liong-pang tadi di dalam dusun. Apakah mereka itu hanya lewat saja di dalam dusun lalu melanjutkan perjalanan melalui pintu sebelah sana? Mungkin sekali dan ia tidak peduli, juga tidak bertanya- tanya tentang mereka.

Karena dusun itu banyak dilewati orang-orang asing yang melakukan perjalanan, dan karena pada masa di mana perang selalu mengancam daerah perbatasan, maka semua orang, juga wanita-wanita membawa pedang. maka munculnya Kwi Lan tidaklah amat mengherankan orang. Kalau orang memandangnya, adalah karena terpesona oleh kecantikannya saja, bukan mengherankan pedangnya dan kejanggalan seorang wanita muda melakukan perjalanan sendirian saja. Kwi Lan yang tidak bermaksud menginap di dalam dusun ini langsung pergi ke pantai untuk mencari perahu.

Dalam perjalanan mencari perahu inilah ia lewat di depan kuil dan melihat tiga huruf Ban Hok Tong di depan kelenteng, juga melihat beberapa orang hwesio sibuk melayani orang-orang yang bersembahyang di kelenteng. Sebetulnya Kwi Lan tidak akan mempedulikan kelenteng ini, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar ringkik kuda di sebelah belakang kelenteng sehingga hatinya tertarik dan teringatlah ia akan belasan orang Thian-liong-pang tadi. Hemm, agaknya mereka itu tadi masuk ke dalam kelenteng ini, pikirnya. Mengapa orang-orang Thian-liong-pang yang jumlahnya belasan, orang itu bermalam di dalam sebuah kelenteng?

“Ah, peduli amat dengan mereka!” Akhirnya ia berkata dalam hati dan kembali melangkahkan kaki meninggalkan depan kelenteng menuju ke pelabuhan di mana terdapat banyak perahu-perahu besar kecil dan kesibukan orang-orang yang mengangkut dan membongkar muatan. Mereka yang sibuk di pelabuhan itu semua adalah laki-laki dan mulailah Kwi Lan dihujani pandang mata yang seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat. Di dalam dusun seperti itu memang jarang terdapat wanita cantik seperti Kwi Lan dan kalau pun ada di antara para tamu, mereka itu tidak datang seorang diri dan secara berterang seperti ini, memberi kesempatan kepada setiap orang untuk memandangnya.

SBKS Chapter 4 (Part 13)

 

Kaisar ke tiga dari Kerajaan Sung ini sama sekali buta terhadap ancaman-ancaman yang selalu mengelilingi kerajaannya, tidak melihat betapa banyak kekuatan-kekuatan yang mengilar menginginkan kerajaannya. Karena itu ia pun tidak melihat atau tidak acuh terhadap munculnya bangsa Hsi-hsia di perbatasan barat. Bangsa Hsi-hsia ini adalah bangsa perantauan seperti keadaan bangsa Khitan, yang muncul dari barat. Sebagai bangsa perantau mereka ini ulet dan tahan uji.

Mereka melihat akan kelemahan Kerajaan Sung, melihat pula akan politik Kaisar Sung yang selalu mengalah serta murah hati, oleh karena itu mereka mulai dengan petualangannya ke pedalaman. Di antara para pimpinan bangsa Hsi-shia ini terdapat banyak orang pandai dan sakti dari barat dan mereka ini sudah mulai memperlihatkan kepandaiannya untuk mencari pengaruh dan kekuasaan di antara penduduk pedalaman di sekitar tapal batas sebelah barat.

Hanya karena desakan dan peringatan para panglima dan menteri yang setia kepada kerajaan dan yang masih ingat akan kewaspadaan saja maka akhirnya Kaisar Chen Cung menaruh perhatian dan akhirnya diperintahkan kepada Kiang Liong untuk melakukan penyelidikan. Inilah sebabnya maka Kiang Liong melakukan perjalanan keluar kota raja dan secara kebetulan pemuda ini bertemu dengan Tang Hauw Lam dan Kwi Lan yang hampir celaka dalam tangan Bu-tek Siu-lam.

Kini Kiang Liong dan Hauw Lam melakukan pengejaran terhadap Thai-lek Kauw-ong yang membawa lari Kwi Lan. Akan tetapi sampai jauh mereka mengejar, belum juga mereka dapat menyusul Thai-lek Kauw- ong. Sudah terlalu lama kakek gundul itu pergi sehingga mereka terlambat dan tidak tahu betul arah mana yang diambil kakek itu. Kiang Liong yang tadi terpaksa menahan kecepatan geraknya untuk mengimbangi kecepatan Hauw Lam akhirnya menarik napas panjang dan berkata.

SBKS Chapter 4 (Part 12)

 

“Hi-hi-hik, bocah tampan dan halus. Kau siapakah dan mengapa menyerangku? Apakah kau sahabat dia… eh, si Berandal mentah ini?”

Sebelum pemuda baju putih yang pendiam dan berwajah serius itu menjawab, Hauw Lam yang dimaki berandal mentah sudah mendahului dan mengejek. “Ha-ha-ha! Manusia banci yang tak tahu malu! Makin banyak datang pemuda tampan kau makin hendak bergenit! Ataukah engkau hendak menggunakan lagak perempuan lacur untuk merayu dan menyembunyikan rasa takutmu? Tentu saja Enghiong (Pendekar) ini membantuku dan menyerangmu karena semua orang gagah di dunia maklum belaka bahwa Bu-tek Siu- lam adalah seorang manusia iblis yang selain jahat, juga banci cabul tak bermalu dan patut dibasmi…”

“Siuuutt… klik-klik…!” gunting besar itu menyambar hebat dan dua kali menggunting ke arah leher dan pinggang Hauw Lam.

“Haya… sayang tidak kena…!” Hauw Lam berhasil menangkis guntingan pertama ke arah lehernya dengan goloknya, namun goloknya sempat terlepas dari tangannya yang terasa panas. Karena itu, pada saat guntingan ke dua ke arah pinggangnya mengancam, jalan satu-satunya baginya untuk menyelamatkan diri hanya membuang diri ke belakang dan bergulingan, hal yang pada saat seperti itu amat memalukan karena berarti ia kalah. Mendadak pensil bulu di tangan pemuda baju putih itu menolongnya, menangkis gunting sehingga pemuda nakal yang biar pun mukanya pucat dan dahinya mengeluarkan keringat dingin, masih sempat mengejek juga!

Kembali Bu-tek Siu-lam tercengang. Tangkisan Hauw Lam tadi, sungguh pun cukup kuat, akan tetapi tidak mengherankan karena senjata pemuda itu adalah sebatang golok besar yang berat. Akan tetapi, biar pun hanya ditangkis dengan pena bulu, guntingnya terpental dan ia merasa tenaga yang tersalur pada guntingnya membalik sehingga lengannya terasa kesemutan! Inilah hebat! Ia makin kagum dan sinar matanya memandang wajah pemuda itu dengan penuh perhatian.

SBKS Chapter 4 (Part 11)

 

“Cringgg…!”

Sinar kecil putih itu terpental kembali ketika tertumbuk oleh sinar kecil kuning yang meluncur dari tangan kanan Bu-tek Siu-lam. Ternyata tali yang ujungnya terdapat sebuah pancing itu tertangkis oleh jarum besar yang diikat benang. Kembali kedua orang ini mendapat kenyataan bahwa lawan masing-masing selain memiliki tenaga yang kuat, juga sama-sama ahli dalam menggunakan senjata rahasia bertali itu.

Melihat betapa dua orang yang sudah bergebrak dua kali itu kini saling pandang dan kelihatan ragu-ragu, Siauw-bin Lo-mo tertawa terpingkal-pingkal tanpa menggerakkan mulutnya. Melihat ini, diam-diam bulu tengkuk Pak-sin-ong meremang. Benar-benar kakek kecil itu menyeramkan sekali, pikirnya.

“Huah-ha-ha-ha, belum juga lecet kulitnya, kenapa sudah ragu-ragu dan takut-takut? Setelah kita datang, hayo kita putuskan siapa di antara kita bertiga yang patut menjadi Bengcu, ha-ha-ha!” Kakek kecil itu kini sudah melangkah maju di antara kedua orang calon lawannya, memasang kuda-kuda dan siap untuk menerjang. Dua orang lawannya yang maklum bahwa kakek kecil ini biar pun bertangan kosong namun amat berbahaya, sudah siap menanti serangan untuk menjaga diri.

Pada saat itu, datang angin besar bersuitan yang membuat pohon-pohon di sekitar tempat itu tergoncang hebat. Seakan-akan datang angin taufan mengamuk dan di antara angin besar ini terdengar jelas langkah kaki seorang manusia yang terdengar berat seperti langkah kaki gajah! Tiga orang itu saling pandang dan karena mereka semua adalah orang-orang yang berilmu tinggi serta maklum akan datangnya seorang yang lihai, maka mereka menunda gerakan saling serang, menanti penuh kewaspadaan.

SBKS Chapter 4 (Part 10)

 

Gadis itu dengan gerakan lincah lalu duduk bersila di atas papan dan berkata lagi, “Dia bersila seperti ini, hanya bedanya, setelah menerima pukulan curang dan pengecut kalian, dari mata, hidung, mulut dan telinganya mengalir darah segar. Kemudian ia berkata begini. Kwi Lan duduk bersila setengah memejamkan mata dan meniru lagak dan suara Bu Kek Siansu sedapatnya. “Anak-anak yang baik. Tidak ada pengorbanan apa-apa. Yang keras kalah oleh yang lunak, itu sudah sewajarnya. Yang lenyap diganti oleh yang muncul, yang mati diganti oleh yang lahir. Apa bedanya? Paling penting, mengenal diri sendiri termasuk kelemahan-kelemahan dan kebodohan-kebodohannya, sadar insyaf dan kembali ke jalan benar. Yang lain-lain tidakkah penting lagi. Selamat berpisah.”

Kwi Lan meloncat bangun dan kembali menudingkan ujung pedangnya ke arah hidung dua orang kakek itu berganti-ganti. “Nah, betul tidakkah demikian?”

“Memang betul. Nah, bagaimana kau bilang kami melanggarnya? Kami memang sudah sadar dan insyaf,” bantah Pak-kek Sian-ong.

“Wah, kalian tebal muka benar-benar! Kalian datang mengacau di sini masih bilang sadar dan insyaf? Bukankah perbuatan kalian hari ini merupakan pelanggaran sumpah itu? Bukankah kalian kembali menggunakan kepandaian untuk berbuat jahat dan mengacau?”

“Tidak! Jembel-jembel busuk ini jahat dan menyeleweng, saling memperebutkan kedudukan, sudah sepatutnya dihajar! Kalau kami yang menjadi raja jembel dan memimpin para jembel busuk ini ke jalan benar, bukankah itu merupakan perbuatan baik?” Lam-kek Sian-ong membantah.

SBKS Chapter 4 (Part 9)

 

“Singgggg… Krak-krak-krak-krak-krak…!”

Semua orang kaget dan berdongak melihat lima batang tongkat yang kini terbang di udara dan jatuh jauh
dari tempat itu. Ketika mereka memandang ke depan, lima orang pengemis baju kembang itu sudah roboh tak berkutik lagi, sedangkan Suling Emas masih berdiri enak-enak seperti tadi memanggul tongkatnya!

Sampai lama keadaan menjadi sunyi. Pihak lawan tak berani bersuara saking kaget dan gentar, sebaliknya pihak kawan juga sampai tak dapat bersuara saking heran dan kagum. Kemudian meledaklah sorak-sorai penuh kegembiraan dari beberapa puluh orang pengemis anggota Khong-sim Kai-pang yang setia, sedangkan para anggota Khong-sim Kai-pang yang menyeleweng atau setidaknya telah takluk kepada lima orang ketua baru itu kini menjadi pucat mukanya dan makin banyak pula kini yang menjatuhkan diri berlutut.

“Yu Kang Tianglo, kau terlalu sombong!” bentakan ini keras sekali.

Kiranya dua orang berpakaian tosu tadi telah maju, yang seorang menghadapi Suling Emas, sedangkan yang kedua dengan gerakan tak acuh menggunakan kakinya melemparkan mayat lima orang pimpinan Khong-sim Kai-pang itu ke bawah panggung! Perbuatan yang kejam ini disambut suara berbisik dari mereka yang pro dan anti di golongan anggota, baik yang kini sudah berpakaian bersih mau pun yang masih berpakaian butut.

“Trakk! Trakk! Trakk!”

 

SBKS Chapter 4 (Part 8)

 

Kwi Lan membedal terus kudanya menuruni puncak. Ketika mendengar derap kaki banyak kuda mengejarnya, ia segera mempersiapkan jarum-jarumnya dan menoleh. Mau tidak mau ia tertawa sendiri melihat bahwa yang mengejarnya adalah kuda-kuda tanpa penunggang. Kiranya banyak kuda yang karena bingung lalu mengikuti saja kuda yang ditunggangi Kwi Lan. Gadis ini lalu menahan kudanya dan menghalau belasan ekor kuda yang mengikutinya itu sehingga mereka lari kacau-balau ketakutan.

Sambil tersenyum-senyum Kwi Lan melanjutkan perjalanannya. Senyum kepuasan menghias bibirnya. Ia telah berhasil merobohkan orang yang telah menghina ibu kandungnya. Biar pun ia belum pernah bertemu dengan ibu kandungnya dan belum pernah ada yang bercerita tentang ibunya, namun ia tidak percaya bahwa ibunya seorang berwatak rendah seperti dibualkan oleh si Brewok tadi. Ia puas bahwa ia telah membunuh orang itu dan di samping ini telah mendapatkan seekor kuda tunggangan.

Biar pun tidak sebaik kuda keturunan Hek-liong-ma yang hilang ketika ia dikeroyok bajak sungai anak buah Huang-ho Tai-ong, namun kuda ini juga seekor kuda yang baik. Agaknya tunggangan orang-orang utara tadi. Mereka itu jelas adalah orang-orang dari golongan sesat, maka Kwi Lan tidak merasa malu untuk merampas kuda mereka.

Akan tetapi, setelah melarikan kuda beberapa lama belum juga Kwi Lan berhasil turun dari Cheng-liong- san. Ia merasa heran dan bingung sekali. Sudah lama ia membalapkan kuda, naik turun dan membelok ke kanan kiri, namun ia hanya berputar-putar di sekitar lereng gunung. Ia memang berhasil melarikan diri dari para pengejarnya, namun ia tidak berhasil turun dari gunung!

 

SBKS Chapter 4 (Part 7)

 

“Benar sekali, Sute (Adik Seperguruan). Agaknya orang-orang jahat yang datang menyelundup. Kau ingat pesan Suhu (Guru)? Tahun ini hukuman dua orang musuh besar kita telah habis, maka Suhu berpesan agar kita semua berjaga dengan hati-hati. Siapa tahu kakek jahat itu masih belum kehilangan kebuasannya dan menjelang habisnya hukuman, teman-temannya yang jahat datang untuk menimbulkan kekacauan di sini.”

“Kau benar, Suheng (Kakak Seperguruan). Kata Suhu mereka itu lihai bukan main. Gerakan dua bayangan tadi pun amat lihai. Jelas piauw kita mengenai sasaran, mengapa mereka tidak roboh malah lenyap seperti setan? Lebih baik kita lekas-lekas melaporkan kepada Suhu agar dapat dikerahkan tenaga untuk mengepung dan mencari mereka!”

Mendadak saja kedua orang hwesio itu roboh terguling. Pedang mereka terlempar dan tubuh mereka lemas dan lumpuh karena jalan darah mereka telah tertotok oleh sambaran dua butir kerikil! Siapa lagi kalau bukan Siangkoan Li yang melakukan hal ini. Memang pemuda ini memiliki keahlian menotok jalan darah dengan sambitan kerikil, seperti pernah ia pergunakan untuk membebaskan dan menolong Kwi Lan di dalam goa yang terancam kehormatannya oleh tiga orang anak buah Thian-liong-pang. Setelah merobohkan dua orang hwesio itu, Siangkoan Li menarik tangan Kwi Lan dan cepat-cepat mengajaknya berlari ke luar dari taman itu menuju ke sungai yang melintang di belakang.

“Terpaksa kutotok mereka agar jangan melapor sehingga usahaku menemui kedua Suhu-ku terhalang.” kata Siangkoan Li.

 

SBKS Chapter 4 (Part6)

 

“Huh, bocah bermulut lancang! Siapa hendak memperkosa? Lancang kau menuduh orang…” “Engkau masih berani menyangkal? Melihat keadaan Nona ini….“
“Ha-ha-ha! Memang dia kutelanjangi, akan tetapi aku tidak berniat memperkosanya. Melihat pandang mata anak buah Thian-liong-pang, mungkin mereka itu mempunyai niat demikian! Ha-ha, aku sama sekali bukan hendak memperkosa, melainkan ingin menggunakan dia membantu menyempurnakan ilmu silat yang sedang kucipta! Dia seorang gadis yang memiliki Iweekang tinggi, memiliki hawa sakti yang kuat dan darah yang sehat. Dia juga telah mengacau Thian-liong-pang, maka baik sekali kuambil semua kekuatan Im-kang dari tubuhnya…”

“Keji! Aku tahu, Ma-totiang, orang mengabarkan bahwa engkau sedang mencipta dan melatih Ilmu Bi- ciong-kun (Ilmu Silat Menyesatkan) yang kau lengkapi dengan pukulan Tok-hiat-ciang (Pukulan Darah Beracun)…, akan tetapi mengapa menggunakan Im-kang seorang gadis…?”

“Ha-ha-ha, Siangkoan Li! Kau kira akan mudah saja mencari rahasia ilmuku itu? Tidak perlu, hanya perlu kau ketahui bahwa aku perlu hawa murni dan darah gadis ini untuk I-kin Swe-jwe (Ganti Obat Cuci Sumsum). Sudahlah, kau pergi saja dan jangan menggangguku lagi.”

“Tidak! Kalau engkau lebih dulu membebaskan Nona ini, kemudian bertanding dengannya secara jantan, biar dia kalah dan mati di tanganmu, aku Siangkoan Li bersumpah tidak akan turut campur. Akan tetapi melihat dia ditawan dengan akal keji dan kini akan menjadi korban ilmu iblismu, aku tidak akan tinggal diam saja!”

 

SBKS Chapter 4 (Part5)

 

Ciam Goan menghela napas dan berkata, “Aku harus tahu diri, tak mungkin dapat melawan kalian. Biarlah dua belas orang gadis ini tersiksa di sini, aku tidak berdaya menolong. Akan tetapi ingat, Ciam Goan bukan seorang yang mudah melupakan kejahatan macam ini. Lain kali kita bertemu pula!” Setelah berkata demikian, Ciam Goan memungut pedangnya lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Ci-lan Sai-kong sudah ditolong dan diobati lengannya yang buntung, tempat itu sudah dibersihkan oleh pelayan dan Ci-lan Sai-kong sudah disuruh mengaso di kamar belakang.

“Cu-wi sekalian dipersilakan berdiri, upacara akan dilakukan sekarang juga!” Sin-seng Losu berseru keras dan semua tamu bangkit berdiri dari tempat duduk masing-masing.

Biar pun merasa tak senang, Kwi Lan yang melihat Hauw Lam berdiri dengan muka melucu terpaksa bangkit juga. Suasana kembali menjadi sunyi sehingga langkah seorang murid kepala Thian-liong-pang yang membawa panci, diikuti saudara-saudaranya, terdengar nyata. Sambil berlutut murid itu memberikan panci kepada Sin-seng Losu yang sudah bangkit berdiri dari kursinya. Dengan kedua tangan ia memegang panci itu.

Pada saat itu Thai-lek-kwi Ma Kiu maju dan berlutut menghadap para tamu. Seorang murid lain datang pula dari belakang dan terdengarlah hiruk-pikuk suara anjing menggonggong. Kiranya murid ini datang menyeret seekor anjing hitam ke depan gurunya. Tanpa berkata sesuatu Sin-seng Losu menggerakkan tangan kiri dengan dua jari terbuka, menusuk leher anjing hitam itu. Terdengar anjing itu menguik keras akan tetapi oleh murid tadi ekornya dipegang dan tubuhnya diangkat ke atas. Dari lehernya yang berlubang bercucuran darah yang ditampung oleh Sin-seng Losu ke dalam panci tadi. Anjing tadi meronta-ronta dan menguik-nguik, akhirnya darahnya habis dan ia berhenti berkelojotan. Bangkainya lalu dilemparkan ke sudut oleh si Murid yang lalu mengundurkan diri.

SBKS Chapter 4 (Part4)

 

“Siapakah Ratu kalian yang mulia?” Hauw Lam bertanya, tertarik karena ia tidak mengerti bahasa mereka.

 

“Ratu kami adalah Sang Ratu di Khitan.”

“Ohhh…!” Suara seruan kaget ini keluar dari mulut Kwi Lan. Akan tetapi ketika Hauw Lam menengok, gadis ini sudah dapat menekan perasaannya kembali dan hanya memandang penuh perhatian.

“Dan tahukah engkau kuda ini hendak kami bawa ke mana? Akan kami antarkan ke Yen-an sebagai barang sumbangan kepada ketua baru dari Thian-liong-pang!”

Diam-diam Hauw Lam terkejut juga. Kiranya bukan kuda sembarangan dan ia maklum bahwa tujuh orang ini sengaja menyebut nama Thian-liong-pang untuk membuat ia kaget dan jeri. Akan tetapi ia berpura-pura tidak mengenal Thian-liong-pang, bahkan ia lalu berkata, “Wah, barang sumbangan saja mengapa kuda yang begini bagus? Yang kalian tunggangi itu semua juga sudah lebih dari cukup untuk sumbangan. Yang hitam ini kalau boleh, harap jual kepadaku.”

Tiba-tiba seorang di antara mereka berbicara dengan bahasa mereka, suaranya lantang dan telunjuknya menuding-nuding ke arah Kwi Lan yang masih duduk di atas akar pohon. Begitu selesai ia berbicara, tujuh orang itu tertawa bergelak-gelak. Semua kuda mereka kaget dan meringkik-ringkik sambil berdiri di atas kedua kaki belakang sehingga hampir saja dua orang di antara mereka terlempar ke bawah. Hal ini membuat mereka tertawa makin riuh rendah.

“Orang muda, mengertikah engkau apa yang dimaksudkan teman-temanku? Ha-ha-ha! Engkau sendiri sudah memiliki seekor kuda betina yang demikian cantik jelita, mengapa masih ingin membeli kuda hitam ini? Apakah artinya kuda hitam ini kalau dibandingkan dengan kudamu yang putih kuning dan cantik molek itu? Ha-ha-ha!” Kembali tujuh orang itu tertawa-tawa karena mereka tahu bahwa temannya si Ompong sudah menterjemahkan ucapan mereka.

SBKS Chapter 4 (Part3)

 

Kwi Lan juga tersenyum lebar dan mengambil lagi segenggam. Keduanya kini tidak berkata-kata lagi karena ikut merasa tegang dengan pertandingan yang makin seru itu. Mereka seperti lupa diri, makan kacang sambil menonton ke bawah, persis seperti lagak para penonton permainan sepak bola yang ramai. Mereka seperti dua orang anak nakal yang sudah sejak kecil menjadi kawan bermain.

Memang pertandingan itu makin seru. Tepat seperti yang dikatakan pemuda itu, gerakan pengemis baju butut yang memegang tongkat amat lincah, tubuhnya sering kali mencelat ke atas dan menyambar- nyambar dengan tongkatnya. Pengemis botak yang berbaju bersih, agaknya kewalahan dan terdesak sehingga ia hanya mampu mengelak dan menangkis, sukar untuk dapat membalas. Namun harus diakui bahwa pertahanan pedangnya cukup kuat sehingga semua terjangan si Pengemis kurus kering selalu tidak mengenai sasaran. Tiba-tiba pengemis baju kotor itu mengeluarkan seruan keras dan ilmu tongkatnya berubah, membentuk lingkaran-lingkaran yang makin lama makin sempit sehingga mengurung tubuh lawannya.
“Hah, mampus sekarang jagomu!” kata Kwi Lan.

“Heh, belum tentu! Lihat saja…,” jawab si Pemuda.

“Lihat, nah…kena!” Berbareng dengan ucapan Kwi Lan yang tentu saja dapat mengikuti jalannya pertandingan dengan jelas dan bahkan dapat menduga pula perkembangan setiap gerakan, benar saja tongkat pengemis pakaian kotor itu dapat menusuk leher pengemis botak.

Akan tetapi, ketika pengemis botak itu berusaha menangkis dengan sia-sia, tiba-tiba dari gagang pedangnya meluncur sinar hitam dan kakek pengemis kurus kering itu pun berseru kesakitan dan roboh bersama-sama lawannya. Kalau lawannya dapat ia tusuk dengan tongkat tepat mengenai leher, adalah dia sendiri menjadi korban tiga batang jarum beracun yang menyambar ke luar dari gagang pedang ketika lawannya menekan alat rahasia di gagang pedang itu. Tiga batang jarum berbisa memasuki perutnya!

SBKS Chapter 4 (Part2)

 

Wanita itu segera menerima anak perempuan tadi dari tangan Sian Eng. Memang benar, anak itu mungil dan cantik sekali. Phang Bi Li menahan isak teringat akan anaknya sendiri yang ditinggalkan dalam usia dua bulan! Segera Kwi Lan, anak itu merampas hatinya dan dirawatnya penuh cinta kasih seperti anaknya sendiri. Juga Kam Sian Eng biar pun kadang-kadang kumat gilanya, tak pernah lupa akan segala keperluan Kwi Lan sehingga karena Bi Li sudah tidak menyusui Kiat-ji lagi, wanita aneh itu lalu merampas lembu betina, dibawa masuk ke dalam istana bawah tanah dan dipelihara untuk diambil air susunya.

Karena tempat persembunyian itu merupakan gudang pusaka-pusaka berupa kitab pelajaran pelbagai ilmu silat yang tinggi dan aneh-aneh, maka kedua anak itu, Kiat-ji dan Kwi Lan, semenjak kecil digembleng oleh Kam Sian Eng. Bahkan Bi Li, wanita dusun yang tadinya hanya seorang wanita muda yang lemah, karena setiap hari berkumpul dengan Sian Eng, mulai pula memperhatikan dan belajar ilmu silat!

Setelah dua orang anak itu mulai besar, berusia sepuluh tahun, Phang Bi Li menyatakan kekhawatirannya. “Sian-kouwnio, aku tidak peduli kalau kau akan mengeram dirimu selama hidup dalam gedung kuburan ini! Juga aku tidak memikirkan lagi diriku sendiri yang sudah kau paksa tinggal bersamamu di sini. Aku anggap diriku sudah mati seperti engkau sendiri mati dari dunia luar. Akan tetapi, engkau harus ingat kepada puteramu! Juga harus ingat kepada Kwi Lan. Dua orang anak itu, anak-anak yang tidak punya dosa, yang tidak tahu apa-apa, mengapa hendak kau kubur hidup-hidup di tempat ini? Mereka berhak menikmati hidup di atas tanah di dunia ramai seperti semua anak lain di dunia ini !”

“Hik-hik, engkau salah besar, Enci Bi Li! Tempat ini aman tentram, penuh damai dan di sini kita tidak usah mengkhawatirkan apa-apa. Sekali kita muncul di atas tanah dan bertemu dengan orang, akan timbullah keributan dan mala-petaka. Bergaul dengan manusia di dunia ramai berarti terjun ke dalam jurang penuh keributan dan penderitaan!” Setelah berkata demikian, tiba-tiba Sian Eng menangis tersedu-sedu dan tidak mau bicara lagi kepada Bi Li!

SBKS Chapter 4 (Part1)

 

Jalan kecil itu menuju ke kota Tai-goan. Jalan yang buruk dan becek, apa lagi karena waktu itu musim hujan telah mulai. Udara selalu diliputi awan mendung, kadang-kadang turun hujan rintik-rintik, sambung menyambung menciptakan hawa dingin. Seperti biasa, segala keadaan di dunia ini selalu mendatangkan untung dan rugi, dipandang dari sudut kepentingan masing-masing. Para petani menyambut hari-hari hujan dengan penuh kegembiraan dan harapan, karena banyak air berarti berkah bagi mereka. Akan tetapi di lain fihak, para pedagang dan pelancong mengomel dan mengeluh karena pekerjaan atau perjalanan mereka terganggu oleh jatuhnya hujan rintik-rintik yang tak kunjung henti.

Hujan rintik-rintik membuat jalan kecil itu sunyi. Dalam keadaan seperti itu, orang-orang yang melakukan perjalanan melalui jalan kecil itu lebih suka menunda perjalanan, beristirahat di warung-warung sambil minum arak hangat, di kuil-kuil atau setidaknya di bawah pohon rindang, pendeknya asal mereka dapat terlindung dari hujan. Kalau pun ada yang melakukan perjalanan melalui jalan kecil itu di waktu hujan rintik- rintik, mereka tentu bergesa-gesa agar cepat tiba di tempat tujuan.

Beberapa ekor kuda dibalapkan lewat, juga serombongan kereta lewat dengan cepatnya melalui jalan kecil, sejenak memecahkan kesunyian dengan suara roda kereta, derap kaki kuda dan cambuk, diselingi suara pengendara yang menyumpahi jalan buruk dan hawa dingin.

Akan tetapi pada pagi hari itu, seekor kuda kurus berjalan perlahan melalui jalan kecil itu. Kuda yang kurus dan buruk, berjalan seenaknya seakan-akan menikmati air hujan yang berjatuhan jarang di atas kepalanya. Warna kulit kuda ini agaknya dahulunya merah, kini penuh debu basah sehingga warnanya menjadi coklat dan kotor. Penunggangnya sama dengan kudanya dalam menghadapi gangguan hujan. Tidak merasa terganggu sama sekali. Duduk di atas punggung kuda sambil meniup suling! Aneh, mana ada orang lain berhujan-hujan meniup suling?

SBKS Chapter 3 (Part 25)

 

“Lin-moi, jangan mengejar mereka, berbahaya sekali. Biarlah aku membantumu….”

Lin Lin mengibaskan tangannya terlepas dari pegangan Suling Emas. Matanya terbelalak penuh kemarahan karena munculnya pendekar ini mengingatkan ia akan segala pengalamannya yang pahit dan mematahkan hatinya, terutama sekali ketika Suling Emas membela Suma Ceng. Tak tertahankan lagi tangan kirinya bergerak menampar pipi kanan Suling Emas yang tidak mengelak dan hanya memandang dengan mata sedih.

“Plakkk!” tangan kiri Lin Lin meninggalkan tapak tangan kemerahan pada pipi Suling Emas. “Lin Lin! Gila engkau?” Bu Sin membentak marah sambil lari menghampiri.

“Pergi…! Pergi…!” Lin Lin berteriak-teriak sambil melarikan diri. Air matanya mulai bercucuran membasahi pipinya.

“Lin Lin, tunggu…!” Bu Sin mengejar. Sedangkan Suling Emas, setelah berdiri dengan muka pucat dan seperti kehilangan semangat, akhirnya ikut pula mengejar di belakang Bu Sin.

Lin Lin berlari secepatnya ke arah utara, tidak peduli betapa daerah ini makin sukar dilalui, merupakan padang rumput yang makin lama makin jarang pohonnya, hanya rumput-rumput belaka dan di sana­sini mulai tertutup pasir. Karena tempat ini terbuka, mulailah terasa angin bertiup keras dari arah depan, menyesakkan napas. Namun Lin Lin tidak merasakan ini semua dan berlari terus mendaki bagian yang menanjak.

Ah, mengapa dia datang? Mengapa aku mesti berjumpa kembali dengan dia? Aku benci dia! Ah, aku benci dia…! Keluhnya sambil menangis, karena betapa ia mengeraskan hati memaksa diri mengaku benci, perasaannya tahu bahwa ia membohongi dirinya sendiri. Ia mencinta Suling Emas, demikian mencintanya sehingga ia menjadi benci karena Suling Emas tidak membalas cinta kasihnya!

“Lin-moi, tunggu!” Kembali Bu Sin berteriak keras dengan napas terengah-engah karena ia harus mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk dapat mengejar Lin Lin yang lari seperti terbang, apa lagi angin mulai mengamuk di padang rumput itu, membawa terbang butiran-butiran pasir.

SBKS Chapter 3 (Part 24)

 

Bukan panglima ini saja yang terkejut, juga semua perwira yang mengiringkannya kelihatan kaget dan para prajurit juga ribut mendengar ucapan Lin Lin itu. Suasana menjadi gaduh karena mereka kini saling bicara sendiri dan keadaan baru tenang kembali setelah Pek-bin-ciangkun membentak, menyuruh mereka diam. Kemudian panglima ini menghadapi Lin Lin dan bertanya.Bukan panglima ini saja yang terkejut, juga semua perwira yang mengiringkannya kelihatan kaget dan para prajurit juga ribut mendengar ucapan Lin Lin itu. Suasana menjadi gaduh karena mereka kini saling bicara sendiri dan keadaan baru tenang kembali setelah Pek-bin-ciangkun membentak, menyuruh mereka diam. Kemudian panglima ini menghadapi Lin Lin dan bertanya. “Nona, semenjak kecil Nona terpisah dari lingkungan kami, bagaimana Nona bisa mengatakan bahwa lo- ciangkun adalah… Bayisan?” Panglima yang sudah banyak pengalaman ini tidak mau percaya begitu saja.
Sebaliknya, menyaksikan sikap mereka yang kaget dan mendengar pertanyaan Pek-bin-ciangkun yang demikian sungguh-sungguh, diam-diam Lin Lin menjadi heran tak mengerti. Mengapa mereka semua tidak tahu bahwa Hek-giam-lo adalah Bayisan seperti yang ia dengar dari iblis itu sendiri, dan mengapa pula hal itu membuat mereka kaget? Tentu ada rahasia hebat yang ia tidak ketahui. Dengan hati berdebar penuh harapan Lin Lin bergantung kepada kesempatan ini, lalu ia bercerita dengan suara sungguh-sungguh.
“Pek-bin-ciangkun, memang tadinya aku sendiri tidak tahu. Akan tetapi ketika aku menjadi tawanan Hek- giam-lo dan kutanya mengapa dia begitu membenciku, dia membuka kedok iblisnya, memperlihatkan muka yang lebih buruk mengerikan dari pada kedoknya sendiri, muka yang rusak sama sekali. Hanya sebentar dia memperlihatkan mukanya yang rusak sambil mengaku bahwa namanya Bayisan, dan bahwa di waktu mudanya dahulu ia jatuh cinta kepada ibuku, akan tetapi ibu menolaknya. Menurut cerita dia, ibu malah menyiram mukanya dengan racun yang membuat mukanya menjadi terbakar dan rusak. Akan tetapi aku dapat menduga bahwa tentu ia bermaksud hendak kurang ajar terhadap ibu, maka ibuku melakukan hal itu kepadanya.”

SBKS Chapter 3 (Part 23)

 

Lin Lin tertegun karena melihat betapa kedudukan kaki dan gerakan tangan enci-nya itu mirip sedikit dengan ilmu barunya! Hal ini sebenarnya tidak aneh karena sebuah di antara kitab yang dipelajari Sian Eng di dalam goa adalah kitab ilmu silat Beng-kauw peninggalan Tok-siauw-kui yang tentu saja dasarnya sama dengan ilmu yang ia warisi dari Pat-jiu Sin-ong. Karena ini ia menjadi gembira dan mainkan pedangnya.

Secara aneh sekali, gerakan mereka seimbang dan setelah mereka menyerang bersama, maka serangan itu merupakan rangkaian yang cocok dan daya serangannya hebat bukan main. It-gan Kai-ong yang sudah terluka parah dalam pertandingannya melawan Suling Emas beberapa hari yang lalu menjadi terkejut sekali. Biar pun dua orang gadis itu sudah mewarisi ilmu-ilmu kesaktian yang luar biasa, namun andai kata ia tidak terluka parah, agaknya tidaklah mudah bagi mereka untuk dapat mengalahkannya.

Akan tetapi, apa hendak dikata, ia terluka hebat dan luka itu belum sembuh, maka sekarang ia menghadapi keroyokan ini dengan berat. Beberapa kali ia terhuyung dan pada saat ia menangkis Pedang Besi Kuning dengan tongkat yang ia buat dari dahan pohon, kedua senjata itu saling tempel tak dapat dipisahkan lagi. Inilah saat yang celaka bagi It-gan Kai-ong karena pada detik berikutnya, pukulan tangan kanan Sian Eng dengan hebat menghantam lambungnya.

“Blukkk…!”

It-gan Kai-ong memekik aneh dan mulutnya menyemburkan darah segar, lalu tubuhnya terjengkang ke belakang. Pedang Besi Kuning yang sudah terlepas dari tempelan tongkat, menyambar dan sebuah bacokan membuat pundak kiri It-gan Kai-ong hampir putus. Kakek itu roboh dan pingsan seketika.