HSNT – Chapter 10 / Part 2

Part 2

Pada hari yang sama, di Luoyang.

Jalanan ini dulunya pernah begitu sibuk dengan kebisingan dan kegembiraan, suara-suara dari pasar makanan, kedai-kedai teh, pasar pagi dan pasar bunga.

Namun sekarang hal tersebut tak ada lagi.

Sama seperti orang yang kuat dan sehat mendadak orang tersebut jatuh meninggal, demikian juga dengan jalanan yang telah mati ini.

HSNT – Chapter 10 / Part 1

Part 1

Bulan kedua, Hari ke dua puluh dua.

Luoyang.

Pagi hari.

Seekor kuda berlari dengan cepat melalui salju, menuju ke Luoyang. Pengendara kuda tersebut mengenakan sebuah jubah berwarna biru tua, dan topi kerucut lebar dengan corak Luoyang. Pinggiran topi menggantung rendah, menutupi setengah wajah dari pengendara tersebut.

HSNT – Chapter 9 / Part 3

Part 3

Di bagian belakang rumah yang begitu besar dan megah, terdapat sebuah taman yang luas dan indah, yang mana pada bagian itu terdapat sudut terpencil. Di sudut itu terdapat pintu yang sangat sempit, dan dari belakang pintu tersebut biasanya dapat terdengar suatu melodi samar-samar dari sebuah alat musik gesek. Tak ada yang tahu apa yang ada di balik pintu itu, atau siapakah yang memainkan instrument tersebut.

Karena daerah yang berada dibalik pintu itu merupakan area terlarang yang dirancang oleh Zhuo Donglai. Jika ada satupun orang yang berani menginjakkan kakinya kedalam dengan kaki kanannya, maka kaki kanannya akan dipotong. Jika mereka menginjakkan kaki kirinya, maka kaki kirinya akan dipotong.

HSNT – Chapter 9 / Part 2

Part 2

Di bawah langit yang mendung, suara kepingan salju perlahan-lahan jatuh melayang melalui jendela. Suara ini hanya dapat didengar ketika orang-orang merasa sangat kesepian.

Tawa Sima telah lama berhenti, dan tak ada tanda-tanda sukacita yang bisa dilihat di matanya. Sebaliknya, matanya bersinar dengan kesedihan yang tak tergambarkan.

Dia mendengar suara kepingan salju yang jatuh, namun ia tak mendengar suara langkah kaki istrinya

HSNT – Chapter 9 / Part 1

Part 1

Hari ke delapan bulan kedua di kalender lunar.

Chang’an.

Empat burung merpati berterbangan dari Luoyang. Salah satunya kehilangan arah dalam kegelapan yang dingin. Salah satunya mengalami sayap beku karena angin yang dingin dan jatuh hingga mati di pegunungan tinggi di luar Luoyang. Hanya dua dari merpati tersebut yang dapat terbang dengan selamat ke Chang’an, Merpati tersebut tiba sebelum fajar pada hari ke delapan.

HSNT – Chapter 8 / Part 2

Part 2

Little Gao hanya mengenakan sepasang celana panjang yang terbuat dari kain yang kasar. Dan ia telah melemparkan jubah yang berada di atas bahunya.

Wajah dan matanya memerah, terlihat jelas ia tak tertidur dengan pulas.

Namun ia terlihat bersemangat, aman, dan tenang, serta tak jauh berbeda dengan orang-orang terdekat yang telah datang dan meminum teh dipagi hari.

Mereka semua yang telah mengenalinya menatap dengan pandangan terkejut, mata mereka penuh dengan hasrat untuk membunuh.

HSNT – Chapter 8 / Part 1

Part 1

Hari ketujuh bulan kedua di kalender lunar.

Luoyang.

Cai Chong duduk di bangku yang terbuat dari empat potong kayu dan strip kanvas. Dia memandang kerumunan orang-orang di jalanan, wajahnya terlihat murung. Siapa pun dapat melihat bahwa ia tidak dalam kondisi mood yang baik hari ini.

Little Gao bagaikan kura-kura yang berada didalam sebuah toples, seekor ikan yang berada didalam jaring. Siapa yang dapat membayangkan pada saat-saat terakhir yang lalu Little Gao dapat terlepas dari cengkramannya?

HSNT – Chapter 7 / Part 6

Part 6

Pada saat Zhu Meng terbangun, langit terlihat begitu cerah. Cleat telah terbangun sebelumnya, dan pada saat itu juga air telah mendidih dari atas api unggun.

Little Gao telah pergi.

Zhu Meng duduk tegak, melihat sekeliling dengan matanya yang memerah. Dan ia tak melihat Little Gao.

Dia mengeluarkan suara geraman bagaikan seekor hewan kecil dari tenggorokannya.”

HSNT – Chapter 7 / Part 5

Part 5

Sebuah tombak besi, panci tembaga, panci berisi sake yang belum tersaring, dan unggun api.

Cleats menggantung panci tersebut di atas api unggun dengan tombak untuk memanaskan sake. Angin dingin berhembus melalui cabang-cabang pada pohon pinus. Dan pada saat itu juga anggur itu masih belum panas.

Namun darah Little Gao memanas.

“Zhuo Donglai,” kata Zhu Meng. “Bajingan itu benar-benar orang yang aneh.” Zhu Meng telah meminum tiga pot penuh sake dan mabuk. “Meskipun ia telah menyerang markasku, aku harus mengaguminya.” Perutnya terisi dengan sake, semangat heroiknya mulai pulih. “Kagum atau tidak, cepat atau lambat, akan tiba saatnya nanti dimana aku akan memenggal kepalanya dan menggunakannya sebagai pispot.”

HSNT – Chapter 7 / Part 4

Part 4

Di suatu hutan yang layu dan terselimuti oleh salju, beserta batu-batu karang yang terlihat menyeramkan.

Didepan batu karang tersebut terbakar sebuah api unggun dan di atas batu karang itu terdapat seseorang yang sedang duduk.

Orang ini nampak seperti telah kehilangan esensi dalam diri mereka, bagaikan seekor burung pemakan bangkai dalam waktu yang sangat lama tak melihat mayat-mayat.

Api itu berkedip-kedip ke wajah orang tersebut.

HSNT – Chapter 7 / Part 3

Part 3

“Tuan muda Gao, Aku tak pernah menyangka bahwa kau akan datang.” Cleats berhenti berlari. Ia berlutut ke permukaan tanah yang tertutup oleh salju. “Ketua klan berkata bahwa kau akan mencarinya, namun aku tak berpikir bahwa Tuan muda Gao akan datang.”

Butuh kekuatan yang cukup bagi Little Gao untuk menarik temannya yang setia keatas dari permukaan tanah bersalju dan menuju kakinya.

“Yang harusnya berlutut adalah aku,” kata Little Gao kepada Cleats. “Kau menyelamatkanku.”

HSNT – Chapter 7 / Part 2

Part 2

Momen dimana sebelumnya ia tak menemukan tanda-tanda kehidupan di gang yang begitu sunyi, sekarang mendadak ia menemui begitu banyak orang-orang.

Seseorang yang mengenakan pakaian berwarna coklat muncul; tingginya tak lebih dari empat kaki, dengan bentuk wajah mirip seperti kuda dengan lebar satu kaki. Alisnya tampak seperti dua sapu yang diikat secara bersamaan oleh sepotong tali simpul.

Orang itu tak terlihat sangat tua, namun mempunyai sikap yang dewasa. Mata sipit yang berada di bawah alis lebat itu berkilauan. Begitu ia melihat ke arah Little Gao, pandangannya selalu tetap ke arahnya layaknya sebuah paku.

HSNT – Chapter 7 / Part 1

Part 1

Luoyang merupakan lokasi dari ibukota Dinasti Zhou Timur, Dinasti Wei Utara, Dinasti Jin Barat, Keadaan Wei selama periode peperangan, Dinasti Sui yang nantinya berubah nama menjadi Dinasti Tang, beserta tujuh lainnya. Di timur terdapat Tiger Cage Pass, di barat terdapat Guanzhong Plain, di utara terdapat Yanyun Sixteen Prefectures, dan di selatan terdapat Jiangnan region. (1)  Istana dan menara pengawas yang berada disana sangatlah megah.

Tempat lahir Kaisar Song Taizu’s berasal dari Jia Ma Ying, yang merupakan sebuah kuil terbesar di timur dan dibangun pada masa Dinasti Tang, Fu Fei berasal dari “Rhapsody of the Goddess of Luo” dan diciptakan oleh sang penyair Cao Zhi, pemukiman kuno Laozi yang berada di Copper Camel alley, jembatan kuno “Spring Water under Tianjin,” semuanya masih berada disana.

HSNT – Chapter 6 / Part 6

Part 6

Pada tatapan pria yang tak berekpresi dan nampak lesu itu tiba-tiba memunculkan sedikit cahaya. Sama seperti bintang yang bergantung selamanya pada cakrawala diujung utara; terpencil, misterius, dan cerah.

“Peristiwa-peristiwa pada masa lalu lenyap bagaikan asap; pedang yang begitu terkenal di masa lampau telah terkubur dalam-dalam. Pedang milikmu adalah senjata yang tak tertandingi. Tak ada satupun pedang yang dapat mengalahkannya di masa lima ratus tahun silam. “

HSNT – Chapter 6 / Part 5

“Xiao Leixue!”

Alkohol yang dingin terbakar layaknya api didalam hati dan urat nadi Sima Chaoqun. Namun ia tidak berada dalam kondisi ramah sekarang. “Orang macam apakah dia? Apakah kau pernah melihatnya? “

“Aku belum pernah melihatnya. tak ada satupun orang yang pernah melihatnya. Bahkan jika ada sekalipun, mereka tak akan mengetahui siapa dirinya.”

HSNT – Chapter 6 / Part 3

Part 3

Salju telah berhenti turun dan seorang biarawan tua membawakan teh kemudian pergi.

Terkadang mereka terlihat bermunculan, berpergian, berjatuhan, dan berhenti. Kepingan salju yang begitu kejam dan biarawan tua yang bersikap cuek itu keduanya terlihat sama.

Bagaimanakah dengan orang-orang lainnya?

Bukankah orang-orang juga seperti demikian?

HSNT – Chapter 6 / Part 2

Part 2

Selama masa pemerintahan Dinasti Tang, Gao Zong memiliki Great Wild Goose Pagoda yang dibangun untuk mendiang ibunya, Empress Wende (1). Biksu terkenal Xuan Zang atau yang sering disebut sebagai Buddha sutra disana (2). Pada mulanyan gedung ini hanya memiliki lima lantai, dan juga sebagai tempat untuk menyembah kepada Buddha di daerah wilayah barat. Pada suatu saat nanti, gedung itu dibangun menjadi 7 lantai, dan menjadi Seven Story Buddhist Pagoda.

HSNT – Chapter 6 / Part 1

Part 1

Hari pertama di bulan kedua kalender lunar.

Li Village, the Temple of Maternal Grace.

Pagi hari.

Salju tak henti-hentinya turun sejak tengah malam. Halaman candi tersapu bersih, namun halaman itu tertutupi oleh lapisan perak berwarna putih.

Suara bel pada pagi hari telah dibunyikan. Hawa sejuk membawakan suara bel bersamaan dengan iringan suara pujian untuk Buddha. Suara-suara itu mengalir hingga ruang meditasi yang berada pada sisi kanan halaman.

HSNT – Chapter 5 / Part 6

Part 6

Little Gao tak bisa tertidur. Hal Itu bukan dikarenakan kedua kaki yang panjang, indah, dan berada di sisi sampingnya, juga bukan karena ia gugup atau cemas tentang pertempurannya besok pagi.

Ia tertidur lebih awal.

Ia percaya diri dan percaya kepada wanita yang berada di sisi sampingnya.

“Aku tahu kau akan menungguku untuk kembali,” katanya kepada wanita itu. “Mungkin pada saat kau terbangun, aku sudah kembali.”

HSNT – Chapter 5 / Part 5

Part 5

Di malam yang dingin dan disuatu jalanan yang tenang.

Mereka berdua berjalan bergandengan tangan menyusuri jalanan yang tertutup oleh salju, Disana mereka menemukan sebuah warung kecil. Dibawah atap warung itu mereka makan semangkuk sup roti daging domba yang panas, harum, dan pedas. (5)

Mereka tak meminum anggur.

Mereka tak perlu anggur untuk membangkitkan perasaan mereka.

HSNT – Chapter 5 / Part 4

Part 4

Halaman rumah itu berukuran menengah. dan rumah itu ditempati oleh enam belas keluarga. (4)

Enam belas keluarga yang jelas-jelas tak mempunyai uang. Hanya orang-orang miskin yang akan tinggal ditempat seperti ini.

Jika anda tidak dapat membayangkan bagaimana delapan keluarga bisa hidup di sebuah ruangan kecil seukuran kandang merpati, maka Anda harus datang ke kompleks ini, dan melihat bagaimana beberapa orang di dunia ini dipaksa untuk hidup.

HSNT – Chapter 5 / Part 3

Part 3

Ketika gadis itu tersadar, ia menemukan dirinya terbaring di atas ranjang papan kayu Little Gao di penginapan kecil. Luka itu teroles oleh obat-obatan dan tertutup oleh potongan kain kasar.

Dia memandang Little Gao dalam waktu yang lama, dan kemudian dengan lembut bertanya, “Kau belum mati?”

“Masih belum.”

“Lalu, aku juga belum mati?”

HSNT – Chapter 5 / Part 2

Part 2

Little Gao siap untuk memberikan kotak itu kembali kepadanya setiap saat, sehingga ia selalu membawa kotak itu bersama dengan dirinya. Tapi ia kuatir bahwa ia mungkin tak akan pernah melihat orang itu lagi, dan dengan begitu kotak itu akan berubah menjadi sebuah beban bagi dirinya.

Tapi Little Gao tak terlalu khawatir tentang hal itu.

Sepertinya tak ada sesuatu hal di dunia yang dapat mempengaruhi suasana hatinya.

HSNT – Chapter 5 / Part 1

Part 1

Hari ke dua puluh lima di bulan pertama kalender lunar.

Chang’an.

Gao Jianfei tak mati.

Keputusannya telah benar, dan ia pun juga cukup bernyali, sehingga ia tak mati.

Satu-satunya hal yang ia sesali adalah ia tak mengetahui bagaimana akhirnya ia bisa meninggalkan tempat tersebut, Juga tak mengetahui dimana letak dari gua misterius itu berada.

HSNT – Chapter 4 / Part 2

Part 2

Little Gao ingin bangun dari mimpinya, akan tetapi di bahunya muncul seorang gadis yang hadir dengan lembutnya bagaikan liontin pada kipas, gadis itu sedang menahan bahunya.

Little Gao tak berani menyentuhnya.

Little Gao tahu bahwa ia bukanlah tipe orang yang bisa dengan mudah menahan godaan.

Hal yang membuat dirinya menjadi gila adalah seorang gadis berambut pirang, bermata biru, yang meraba wajahnya dengan kedua tangan dan meniup lembut ke telinganya.

HSNT – Chapter 4 / Part 1

Part 1

Hari ke-18 di bulan pertama kalender lunar.

Di suatu tempat yang tak seorangpun mengetahuinya.

Bagaimana bisa kumpulan dari bagian logam yang berbentuk secara acak dapat menjadi sebuah senjata yang sangat menakutkan di bumi?

Little Gao belum tersadar sepenuhnya, tapi pertanyaan ini masih melilit didalam hatinya seperti ular berbisa.

HSNT – Chapter 3 / Part 3

Part 3

Bagian dalam pada kereta itu luas, nyaman dan mewah. Kereta itu bergerak sangat cepat dan stabil; empat kuda yang menariknya, beserta sopir, semuanya telah mendapat pelatihan yang sangat baik. Pikulan dan kereta itu sendiri dibangun dengan sangat baik; bahkan kereta kaum bangsawan terkaya yang paling stabil tak dapat menandingi kereta itu.

Bagaimana bisa orang yang terlihat biasa ini, mengenakan pakaian tenunan sendiri, bisa memiliki sebuah kereta yang begitu megah?

Little Gao memiliki banyak pertanyaan yang ia ingin tanyakan, tetapi segera setelah ia memasuki kereta tersebut, pria itu menutup matanya dan jatuh tertidur lelap.

HSNT – Chapter 3 / Part 2

Part 2

Ketika Gao Jianfei bangun, tangan dan kakinya terlihat hampir membeku.

Ruangannya yang sempit dan berada di penginapan murah terdapat sebuah tungku arang kecil didalamnya, namun arang tersebut sudah lama terbakar.

Ia berdiri dari tempat tidurnya dan melakukan enam atau tujuh gerakan yang aneh, tubuhnya tampak seperti mengikuti jalan pikirannya untuk berputar dan berbolak-balik seperti mie. Setelah ia berada pada posisi kesebelas, tubuhnya mulai merasakan kehangatan, disaat ia selesai, jiwanya seperti bangkit, wajahnya bersinar, dan suasana hatinya menjadi sangat bahagia.

Ia sepenuhnya percaya bahwa pada hari ini ia akan menemukan orang misterius yang membawa kotak soliter tersebut.