HSNT – Chapter 18 / Part 11

Part 11

Siapa yang dapat membayangkan perasaan dalam hati Little Gao dan Zhu Meng pada saat mereka diam-diam menyaksikan gadis muda itu berjalan ke Chang’an Restaurant membawa pipanya?

“Aku pikir dia akan terus bernyanyi,” kata Zhu Meng. “Selama dia masih hidup, dia akan terusmenyanyi.”

“Aku pikir juga begitu,” kata Little Gao. “Dan aku berpikir bahwa jika ada yang mencoba untuk menghentikannya untuk menyanyi, dia mungkin akan mati.”

HSNT – Chapter 18 / Part 10

Part 10

Di bawah sinar matahari, pedang Little Gao nampak seperti air jernih pada musim gugur. (4) Tearstain yang ada pedang itu telah menghilang.

Gao Jianfei menatap bengong kearah pedang itu, berusaha untuk membungkus pikirannya dari segala hal yang telah terjadi sebelumnya.

Dia tak mengerti.

Waktu telah berlalu, dan akhirnya ia sadar bahwa ia ingin bertanya kepada Xiao Leixue.

HSNT – Chapter 18 / Part 9

Part 9

Awan yang begitu padat sekali lagi memblokir sinar matahari. Lentera telah terbakar, langit mendung, niat untuk membunuh bercampur aduk. Bahkan para dewa maupun para hantu akan mustahil untuk menemukan penebusan.

Gao Jianfei melintas maju seperti burung.

Mata Zhuo Donglai  bagaikan jarum itu menatap kearah senjata. Dia tiba-tiba berteriak dan melemparkan “Tearstains” langsung kearah Little Gao. “Ini adalah pedangmu, ambillah kembali!”

HSNT – Chapter 18 / Part 8

Part 8

Zhuo Donglai melihat Little Gao berjalan. Ia tak mencoba untuk menghentikannya, dan tampaknya juga tak bereaksi sedikitpun. Dia tampak sangat bersedia menunggu Little Gao untuk mempelajari Technique of the Broken Sword.

Namun Zhuo Donglai tak akan mempelajarinya, Zhuo Donglai berkata pada dirinya sendiri: Bahkan jika Xiao Leixue benar-benar memiliki semacam Technique of the Broken Sword, ia tak akan bisa mengajarkannya kepada Little Gao dalam waktu yang singkat.

HSNT – Chapter 18 / Part 7

Part 7

Cahaya awal subuh secara bertahap mulai mendekati, membuat cahaya pada lentera tampak lebih dan lebih redup. Diantara puncak-puncak gunung, untaian susu berwarna putih dari sinar matahari pagi mulai muncul.

Dalam kabut tebal tiba-tiba dapat terlihat sebuah bayangan orang yang tak terduga, membawa sebuah kotak yang lebih misterius.

“Xiao Leixue, itukah engkau.”

HSNT – Chapter 18 / Part 6

Part 6

Zhu Meng tak bergerak sama sekali. Sebaliknya ia berpikir dengan tenang.

Sudah pasti ia tak terlihat seperti biasanya. Kematian Sima seharusnya telah memompa darahnya dengan amarah keadilan, Karena ia mengangkat tangannya keatas dan berteriak gila.

Tetapi ia tak bergerak. Karena kematian Sima telah menyebabkan dia berpikir tentang banyak hal, dan masing-masing pikirannya bagaikan tombak panjang yang sedang menusuk jantungnya.

HSNT – Chapter 18 / Part 5

Part 5

Air mata pahlawan itu telah berubah menjadi darah keadilan.

Tak ada darah dipedang itu, hanya ada beberapa tearstains. Tetapi sepertinya sekarang, pedang itu tampak memiliki tearstain misterius yang telah diwarnai merah oleh darah seorang pahlawan.

Zhuo Donglai masih memegang pedang, dan ia melihat kearah tearstains.

Dia tak melihat Sima, dan tak melihat Wu Wan.

HSNT – Chapter 18 / Part 4

Part 4

Lengan yang terputus itu jatuh, darah-darah berceceran, tetapi Sima Chaoqun masih berdiri disana, tegap seperti tombak, menjulang seperti raksasa.

Pedang aura bersinar, membidik kearah Wu Wan.

Tetapi Sima, menggunakan tangan kosongnya yang masih tersisa, mencengkeram pedang Zhuo Donglai itu.

HSNT – Chapter 18 / Part 3

Part 3

Wajah pucat Sima Chaoqun benar-benar tak berwarna. Melihatnya, Zhu Meng merasa takut.

Sang penari, yang terbanjiri oleh emosi, masih tergeletak di tanah, seolah-olah ia tak mendengar apa yang dikatakan oleh Zhuo Donglai.

Zhuo Donglai menatap penari itu dengan dingin. “Sebenarnya, aku tak menyalahkanmu, karena sebenarnya kami berdua adalah tipe orang yang sama. Kau sudah mengetahuinya sejak lama bahwa ada tiga orang di Great Protection Agency yang menentangku. Dan hanya ketiga orang itu yang mungkin bisa berurusan denganku. Kau bersekongkol dengan mereka secara diam-diam, dan oleh karena itu mereka dapat tiba begitu cepat. “

HSNT – Chapter 18 / Part 2

Part 2

Tarian dan musik telah berhenti. Penari berbaring meringkuk ketanah, seakan tak mau mengangkat kepalanya untuk melihat darah orang mati.

Little Gao memegang pedang yang terhunus. Tak ada jejak darah yang dapat dilihat pada pedangnya yang indah dan panjang itu, hanya ada tearstain (noda air mata).

Gongsun Qi’er menatap kagum orang itu dan pedangnya. Meskipun ia sudah memegang tongkat ditangannya dalam posisi seperti menyerang dengan tombak, ia tak cukup berani untuk menyerang.

HSNT – Chapter 18 / Part 1

Part 1

Bulan kedua, Hari ke-27.

Diluar perbatasan Chang’an, daerah liar, pegunungan tandus.

Masih ada beberapa waktu yang tersisa sebelum fajar. Lembar kegelapan menutupi langit dan bumi.

Di bawah cahaya yang berasal dari puluhan lentera Kongming, bayangan dari kedua orang itu muncul seperti hantu, disertai dengan suara nyanyian. Yang satu membawa pipa, yang lain membawa seruling bambu.

HSNT – Chapter 17 / Part 9

Part 9

Malam hari, dingin dan gelap. Bahkan orang dengan mata yang benar-benar terlatih akan memiliki kesulitan untuk melihat pohon-pohon dan batu-batu, apalagi membedakan jalan dan arah.

Dalam hal apapun, tempat ini tak memiliki jalan.

Jika seseorang mencapai tempat yang tak memiliki jalanan, secara umum berarti bahwa mereka telah mencapai ujung jalan mereka sendiri.

Sima Chaoqun terengah-engah. Meskipun paru-parunya nampak sudah menggebu-gebu, ia masih mencoba untuk mengontrol suara pernapasannya.

HSNT – Chapter 17 / Part 8

Part 8

Ketika para master sedang bertarung, biasanya dalam satu gerakan. Hidup dan mati, kalah dan menang biasanya ditentukan dalam waktu yang singkat.

Pertempuran Sima dan Zhu Meng berbeda.

Pertempuran mereka adalah pertempuran yang pahit.

Mereka berdua kelelahan. Tak hanya perasaan mereka yang lelah, namun tubuh mereka juga tak bertenaga.

HSNT – Chapter 17 / Part 6

Part 6

Zhu Meng berdiri dengan hormat, menghadapi Sima Chaoqun. Hidup dan mati akan ditentukan dalam sekejap mata.

Anehnya, semangat amarah yang hilang diantara mereka berdua bukanlah karena balas dendam, melainkan kejujuran.

Zhu Meng tiba-tiba bertanya, “Selama hampir sepuluh tahun, kau tak pernah kalah, dan kau belum pernah bertemu lawan yang sebanding dengan dirimu. Senjata yang kau gunakan untuk menghadapi musuh-musuhmu adalah Thousand Hammers Great Iron Sword, benar? “

“Ya.”

HSNT – Chapter 17 / Part 5

Part 5

Hembusan angin semakin dingin.

Pergunungan dan pemakaman gelap menjadi dingin. Orang-orang berdiri disana dan merasakan angin yang sangat dingin, namun hati mereka penuh dengan darah yang panas.

darah panas ini tak akan pernah menjadi dingin.

Karena didunia ini ada orang-orang yang memiliki darah yang tak akan pernah menjadi dingin sehingga kita tak akan pernah memiliki perasaan takut, karena selama orang-orang seperti itu ada, maka kebenaran juga tetap akan ada.

HSNT – Chapter 17 / Part 4

Part 4

Langit tertutup oleh awan pada sore hari. Gunung-gunung dan bukit-bukit berada dalam kesenjaan yang tak terbatas, seperti yang dilakukan oleh Zhu Meng. Dia berdiri didepan tumpukan tanah berwarna kuning.

Itu adalah tumpukan tanah berwarna kuning yang masih baru. Tak ada rumput-rumput musim semi yang tumbuh dipemakaman, dan tak ada batu nisan yang dibangun. Mungkin orang di dalam kubur sudah berubah menjadi seekor kupu-kupu dan terbang jauh.

Mungkin apa yang terkubur disana adalah seorang pendekar yang telah hilang selama bertahun-tahun, ataukah seorang pemuda yang baik hati.

HSNT – Chapter 17 / Part 3

Part 3

Para tamu yang telah mabuk karena anggur telah berangkat. Di halaman dan aula terdapat beberapa jepit rambut rusak dan kalung terbuang, beberapa ikat pinggang dan stoking kasa bersamaan dengan botol tembakau rusak dan kotak pemerah pipi beserta beberapa benda lain yang tak dikenali. Tampaknya seolah-olah mereka semua telah ditempatkan sehingga tuan rumah akan tahu bahwa semua orang benar-benar mabuk.

Dan bagaimanakah dengan tuan rumah itu?

Jika tuan rumah itu tidak mabuk, bagaimana bisa para tamu itu bisa bersenang-senang?

HSNT – Chapter 17 / Part 2

Part 2

Ketika Zhuo Donglai memanggil Zheng Cheng masuk, pada saat itu sudah hampir memasuki pertengahan hari.

Zheng Cheng tak dapat melihat sesuatu yang berbeda tentang dia. Seolah-olah semua kejadian yang tragis dan menakutkan kemarin tak ada hubungan dengannya. Apa yang sebenarnyan Zhuo Qing ingin lakukan untuk membalas dendam? Dia tak menyebutkan atau bertanya tentang hal itu sama sekali.

Dia hanya bertanya kepada Zheng Cheng, “Apakah Gao Jianfei masih menunggu?”

“Ya. Dia masih menunggu,” kata Zheng Cheng. “Namun permintaannya sangat mustahil untuk dipenuhi.”

HSNT – Chapter 17 / Part 1

Part 1

Bulan kedua, hari ke-26.

Chang’an.

Gao Jianfei menunggu.

Zheng Cheng mengatakan kepadanya, “Tuan Zhuo tak dapat menemuimu pada saat ini, namun ia mengatakan bahwa kau bisa menunggu di sini.”

Little Gao tertawa, senyumannya begitu lembut dan tenang. “Aku bisa menunggu. Aku jamin, Kau tak akan pernah melihat orang-orang yang lebih sabar daripada aku. “

HSNT – Chapter 16 / Part 6

Part 6

Kupu-kupu berterbangan, dan kemudian terbang kembali lagi. Apakah kupu-kupu itu datang? Apakah kupu-kupu itu pergi? Apakah kupu-kupu itu adalah seseorang? Ataukah itu hanya seekor kupu-kupu saja?

“Aku di sini, aku di sini. Aku selalu disini.”

Zhu Meng berada disana.

Pedangnya menghilang, Lion Clan menghilang, Seorang pahlawan yang sangat kasar dan arogan itu juga menghilang.

HSNT – Chapter 16 / Part 4

Part 4

Sima Chaoqun ingin berjuang demi kakinya ketika ia sadar bahwa ada seseorang lain yang berdiri dilorong gelap, menatapnya dengan aneh.

“Apakah kau benar-benar Sima Chaoqun yang tak tertandingi? Bagaimana bisa kau berakhir seperti ini? “

Sima Chaoqun memutuskan untuk mengabaikannya, berpura-pura bahwa ia tak melihatnya. Namun pria itu tampak bersikeras dan berusaha untuk dapat terlihat olehnya. Pria itu berjalan ke depan dan mengangkat Sima dengan lengannya.

HSNT – Chapter 16 / Part 3

Part 3

Dari jarak yang sangat jauh, terdengar suara drum dari seseorang penjaga malam. Jam ketiga telah berlalu.

Ketukan drum itu terdengar membosankan, redup dan datar. Setelah jam ketiga tiba, maka tak akan ada seorangpun yang tertinggal pada jam kedua.

Sima Chaoqun dapat teringat dengan jelas dengan hanya mendengarkan suara ketukan dari drum itu, dan ia ingat bahwa pada saat itu adalah jam kedua.

HSNT – Chapter 16 / Part 2

Part 2

Zhuo Donglai tak seperti orang-orang lainnya.

Dalam situasi dimana orang-orang lain sedang patah hati atau marah, dia akan tertawa. Dalam situasi dimana orang-orang lain kagum dan gembira, reaksinya menjadi luar biasa muram, sampai-sampai terkadang dia tak memiliki reaksi sama sekali.

Dia tahu Gao Jianfei telah tiba, dan ia menantinya dengan semangat bagaikan seorang pemuda yang menunggu kekasihnya.

HSNT – Chapter 15 / Part 9

Part 9

Pedang-pedang berkilauan, menimpa bagaikan kilat.

Zhuo Donglai tak ragu-ragu, dan tak bergeming. Aura pedang bagaikan petir tak memikat dirinya.

Dia telah berada diujung pedang bersinar yang berkelap-kelip.

Ujung pedang: jantung pedang.

Kekuatan dan variasi dari serangan pedang ini mengikuti ujungnya, dan variasi serangan tersebut adalah kekuatan hidup pedang.

HSNT – Chapter 15 / Part 8

Part 8

Pedang itu berkilauan, memotong kebawah bagaikan kilat.

Ini merupakan gerakan ternama yang paling kuat milik Sima Chaoqun “Nine Thunderbolts Forms.”, “Great Thunderbolt.” yang ganas. Siapa yang akan mengetahui berapa banyak pendekar-pendekar di Jianghu yang telah dikalahkan oleh wujud pedang seperti ini?

Dia tak menggunakan Great Iron Sword miliknya, disisi lain daya serangnya menjadi lebih lemah ketika menggunakan pedang pendek. Namun pedang pendek itu sangatlah tajam, dengan kecepatan dan fleksibilitas dari berbagai variasi serangan dapat menutupi kelemahan tersebut.

HSNT – Chapter 15 / Part 7

Part 7

Semua orang di Jianghu mengetahui bahwa Sima Chaoqun menggunakan jurus “Thousand Hammers Great Iron Sword.”

Penyempurnaan dari Thousand Hammer Blow (Pukulan seribu palu) telah menyempurnakannya.

Kekuatan daya serangnya bagaikan kekuatan seribu palu yang berjatuhan, begitu cepat dan ganas. Sepuluh ribu orang yang bersama-sama tak akan bisa menahannya.