DM Chapter 3 Intermission

Sihir yang dipanggil membungkus tubuh ku.

Meskipun itu sensasi yang aku kenal, saat ini rasanya menjengkelkan.

Untuk mengkonfirmasi efeknya aku mengambil langkah maju.

Oke, itu bekerja dengan baik.

Bersama-sama dengan angin.

Aku sedang berlari.

 

 

Aku bertemu dengan orang itu kemarin. Meskipun belum sehari penuh sejak saat aku bertemu dengannya, tapi aku merasa telah lama mengenalnya.

Aku berpikir bahwa aku bisa menahan serangan Demon dengan sihir, tapi tubuhku menjadi babak belur sebagai gantinya. kaki dan lenganku berdenyut kesakitan, aku seperti boneka, tidak mampu bergerak.

Aku sedikit memalingkan kepalaku.

Untungnya, sebelum aku terhempas ke tanah, aku terjebak dalam cabang-cabang pohon di pinggir jalan di suatu tempat.

…Untung? Apakah benar-benar seperti itu?

DM Chapter 3-8

Di sini Satou. Aku dulu sering bermain menirukan pahlawan yang dapat berubah bentuk saat kecil, tidak menyangka aku akan menjadi seorang pahlawan pada akhirnya.

Aku kembali ke labirin. Menyamar dengan gaya rambut pirang dan topeng perak(LoL). Aku meninggalkan para gadis beastkin di penginapan, jadi aku sendirian saja. Karena Pochi dan Tama tidak ada disini, maka menyalakan skill [Trap Release].

Membuka peta, aku menandai jalur dimana lengan Demon itu seharusnya berada. Baiklah, dengan begini aku tidak perlu membuka peta saat bertemu persimpangan.

Aku melanjutkan perjalanan, sambil membiarkan skill Trap discovery menemukan seluruh posisi jebakan yang ada. Nampaknya aku bisa mengetahui letak jebakan-jebakan itu sebelum AR menampilkan posisi mereka.

Aku mengarahkan tenagaku untuk melompat, menyeberangi jebakan yang ada.

Sepertinya ada 5 prajurit tengkorak pada ruangan di depan. Karena menarik pedang agak merepotkan, aku tendang saja mereka semua. Para prajurit tengkorak itu segera terpental ke tembok terdekat dan berantakan, tapi mereka segera kembali bersatu.

DM Chapter 3-7

Di sini Satou. Banyak sekali kejadian di mana pahlawan tidak datang untuk menyelamatkan harimu.

Di dunia fantasi ini, aku akan lebih suka akan ending yang berakhir dengan baik.

“Aku gagal membuat kota asalku menjadi makmur menggunakan pengetahuan dari kehidupan sebelumnya.”

“Walaupun aku sekarang seperti ini, aku tadinya adalah seorang putri kerajaan tahu…” Kata Arisa dengan ironisnya.

“Pada awalnya, semua bekerja dengan baik dan lancar. Tapi kemudian, semuanya mulai berantakan dengan tidak wajar dan kerajaannya menjadi hancur, masuk dalam perang sipil, bahkan dikuasai oleh negara tetangga pada akhirnya.”

 

“Apa yang kamu lakukan?”

“Hanya sedikit reformasi dalam bidang pertanian. Seperti membuat pupuk dari daun dan kotoran hewan, Alat pertanian yang memakai roda 4, dan beberapa trik adminstrasi yang standar.”

DM Chapter 3-6

 

Di sini Satou. Hero adalah makhluk yang cuma berada di game, hanya satou yang berpikir seperti itu.

Berapa banyaknya game di luar sana dengan Hero di dalamnya….

“Begitu, jadi yang kedua adalah Hero dari kekaisaran Saga.”

Aku tidak mau berurusan dengannya. kalau aku secara tak sengaja berhubungan dengan dia, aku bisa terbawa-bawa urusan pemusnahan Demon Lord.

“Ya, dengan wajah yang tidak mencerminkan umur 18 tahun,walaupun cukup tampan, dengan bulu-bulu yang ada disekujur tubuhnya yang macho.”

“Hei, aku tidak perduli dengan penampilannya, aku mau tau sifatnya.”

“Dia adalah Lolicon akut, ketika kita pertama berjumpa, 『YES! Lolita, NO! Touch』., dia sering berteriak itu, dan tak jarang dipukuli oleh pelayan wanita miliknya.”

DM Chapter 3-5

 

Satou di sini. Orang Jepang pada umumnya yang akan sangat senang bila bertemu rekan senegaranya, sehingga dia menjadi lengah. Dengan adanya persamaan bahasa, dan nilai-nilai moral yang sama maka kami menjadi cepat dekat, aku merasa lega.

“Lebih tepat nya, Tachibana Arise mantan orang jepang yang bereinkarnasi di kerajaan Kuboku dengan seluruh memorinya. Apakah kau juga bereinkarnasi? Tidak, menilai dari rambut hitammu, kau adalah hero yang disummon yah? Satou-san?”

AR tidak menampilkan apakah dia asli berasal dari jepang dan nama aslinya,Tachibana Arisa. Karena status ku sendiri juga tidak menunjukkan kalau aku adalah bekas orang jepang, Suzuki Ichhirou juga, apakah ini situasi sama?

“Hei, ada apa? kenapa kau diam saja? Kau adalah orang Jepang kedua yang aku pernah temui.”

Mendengar kata-kata itu, pandanganku tertuju pada Lulu yang sedang tidur di kasur satu lagi.

“Lulu itu berbeda, sepertinya kakek buyutnya adalah orang Jepang, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya. Reinkarnasi memang kejam, dia bisa saja menjadi selebritis idola kalau terlahir di Jepang.”

DM Chapter 3-4

Seorang gadis kecil telanjang sedang menduduki pinggangku…
Apa-apaan ini, apa ini mimpi?

Aku pernah mengalami kejadian serupa dengan sepupuku dulu, ketika liburan panjang di rumah kakek, dulu sekali. Sekarang perbedaannya gadis yang diatas aku ini telanjang, dan auranya tidak seperti sepupuku dulu yang masih lugu.

Gadis ini bergerak perlahan-lahan, lalu dia bergetar kuat dan segera menyusup ke bagian dadaku yang dalam keadaan telanjang juga. Ekspresi wajahnya lebih sepeeri wanita dewasa daripada gadis kecil yang lugu.

Walaupun terlihat tenang, sebenarnya hati ku gemetar. Aku ini bukan lolicon okay! Pasti !, Tapi situasi macam apa ini?

Setelah membeli dua orang itu dari Nidoren-shi, kami sedang….

“Aku akan melayani majikan dengan penuh semangat tanpa henti, siang dan malam.”

Ujar gadis berambut violet itu(Arisa) dalam proses ritual kontrak. Walaupun Liza dan yang lainnya dan (Lulu) Gadis berambut hitam itu semua terdiam saja, apakah anak ini mau mencoba menggoda aku?

Setelah kontrak kerja itu sudah beres semua, aku membayar 1 koin emas kepada Nidoren-shi. Dia bilang akan tetap di sini sampai besok pagi hari, dan segera hubungi dia kalau masih perlu budak yang lainnya.

DM Chapter 3-3: At the Slave Market

Pasar budak ini memiliki luas sebesar 200-300 meter di pusat kota ini, dapat terlihat api unggun menyala di setiap 20 meter. Sama seperti di festival, beberapa tiang kayu nampak terpancang, masing-masing dihubungkan dengan tali dan terlihat plat metal yang tergantung dan memantulkan cahaya dari sihir. Kalau saja tempat ini bukan pasar budak, maka tempat ini akan sangat sempurna sebagai lokasi kencan…

Sebuah tali yang terbentang ditempat yang nampaknya adalah pusat lelang. Lelang budak ini memang belum dimulai, tapi dapat terlihat beberapa musisi di panggung memainkan nada yang begitu sendu.

Kami tidak memasuki pasar lelang itu, dan hanya berjalan di sekelilingnya sambil melihat-lihat keramaian yang ada.

“Satou-dono!”

Dono? Aku tidak mengenal orang yang memanggilku seperti itu…. Ternyata adalah pedagang budak yang kami selamatkan dari laba-laba di labirin itu, Nidoren-shi.  Keluar dari sebuah tenda kecil di seberang kereta budak, dia menghampiri kami. Para gadis, yang semuanya dirantai, semuanya berbaris diatas kereta itu.

DM Chapter 3-2: Master of the Beastkin Girls

Setelah beberapa waktu menjawab beberapa pertanyaan, kami akhirnya dilepaskan. Kakak petugas perempuan itu mengembalikan barang-barang kami.

“Barang-barang yang ada disini boleh dibawa pergi. Tapi, semua magic core yang disana akan dijual kepada Earl.”

Apakah aku bisa menolaknya?  Aku sudah coba menanyakannya, tapi dia menjawabnya [Tidak] dengan tersenyum.

“Karena kita tidak bisa memastikan keamanan dari daging-daging monster ini, kami akan menyitanya. Dan karena tombak ini terbuat dari bagian tubuh monster, kami tidak dapat memperbolehkan tombak ini dibawa-bawa didalam kota.”

Liza bereaksi keras akan hal itu dan segera kembali bergabung. Liza yang jarang marah, sedang marah? Karena dia sepertinya benar-benar menyukai tombak itu, mari kita menegosiasikan hal ini untuknya.

DM Chapter 3-1

Satou di sini. Satou tak ingin kembali merasakan petualangan penjara bawah tanah lagi.

Aku memikirkan hilangnya lengan iblis yang terjadi bersamaan dengan munculnya labirin.

Tapi untuk sekarang, aku hanya ingin menikmati kehidupan damaiku.

Kami sampai pada tanah kosong sebesar halaman sekolah saat keluar dari labirin.

Tanah tersebut dikelilingi pagar setinggi 2 meter yang pembuatannya terkesan terburu-buru.

Karena dinding luar dapat terlihat dari sini, tampaknya tempat ini adalah lapangan di mana keributan terjadi.

Saat kulihat kembali pintu masuk labirin, terdapat sebuah batu hitam tajam setinggi 3 meter dengan sebuah lubang. Apakah terbuat dari obsidian?

Terdapat 3 kubah yang jaraknya 50 meter mengelilingi pintu masuknya.

DM Chapter 2-12

Satou di sini. Susah untuk meyakinkan seseorang akan satu hal yang juga tak kuyakini.

Sudah dekat dengan pintu keluar.

Kuingin segera kembali ke kehidupan normalku.

“Pintu keluarnya mungkin setelah ini. Aku punya dua alasan, pertama, terdapat satu monster yang sampai sekarang tak terlihat batang hidungnya. Kedua, jumlah musuhnya berbeda dengan ruangan-ruangan sebelumnya.”

Alasan yang benar-benar lemah~

“…Kenapa kau begitu yakin kalau pintu keluarnya di depan, aku tak mengerti.”

“Bagaimana kalau kita ambil jalan lain seperti yang dikatakan makhluk setengah manusia itu?

Kalian benar… tapi! Kini giliranku!

DM Chapter 2-11

Satou di sini. Di dalam labirin biasanya ditemukan harta karun, monster, dan jebakan tersembunyi.

Saat semakin besar bahaya, keuntungan yang akan kau dapatkan jumlahnya juga besar. Inilah sensasi nyata dari labirin.

Sekelompok kstaria pasti mempunyai keseimbangan yang buruk, kan?

Setelah lebih dari dua kali istirahat, akhirnya kami berhasil menempuh 80% dari labirin.

Sejak istirahat yang terakhir, kami belum melihat mayat korban.

Equipment Pochi dan Tama telah berubah menjadi pedang pendek berornamen. Equipment itu adalah hasil dari perubahan equipment, tapi ketiga beastkin itu sekarang berlevel 13. Sepertinya status mereka sekitar 3 level lebih tinggi dari rata-rata manusia biasa.

Pochi memiliki keahlian [Enemy Search], [Throwing], [Dismantling], dan [Short Sword], Tama memiliki [Dismantling], [Collecting], dan [Short Sword], sementara Liza [Cooking], [Dismantling], [Spear], dan [Thrusting].

DM Chapter 2-10

Satou di sini. Orang lemah yang sangat merindukan matahari, Satou.

Ruang bawah tanah yang baik jika di dalam sebuah permainan.

Melawan serangga, serangga, katak, serangga, ular di dalam ruang bawah tanah yang basah dan lembab yang mulai melelahkan.

Kami sudah melewati 6 ruangan, tapi tak menemui satupun manusia yang hidup. Kami hanya melewati beberapa mayat…

“Tuan, pengambilan magic core sudah selesai.”

“Baiklah, kita istirahat sebentar.”

Liza dan beastkin lainnya menyalurkan botol minuman setelah minum semulut penuh.

Sebelum aku mengetahuinya, mereka mengganti sebutanku dari [Danna-sama (Mister)] menjadi [Goshujin-sama (master)]. Kubiarkan saja mereka memanggilku seperti itu karena kupikir itu mudah bagi mereka.

DM Chapter 2-9

Satou di sini. Aku menyerah pada ide bahwa ini adalah mimpi, tapi sekarang kupikir bahwa hal ini tidaklah nyata melainkan seperti di dalam sebuah permainan. Keraguanku muncul setelah kebingungan. Tampaknya lebih baik aku hidup di dunia eroge saja, Satou.

Untung saja musuh pertamaku hanyalah seekor jangkrik di labirin, meskipun aku berharap bisa keluar dari labirin dengan selamat dan lebih mudah.

Tanpa menarik perhatian.

“Apa Magic Core itu?”

“Magic Core dapat menjadi uang. Jika kau memberikan sesuatu yang kau dapat dari monster ke pedagang keliling, kau akan mendapat beberapa benda.”

Jawaban Liza tak sepenuhnya salah, tapi bukan itu yang ingin kudengar. Aku mengharapkan jawaban seperti nona Nadi dari jack-of-all trade adalah mustahil.

DM Chapter 2-8

Satou di sini. Sementara memikirkan bahwa hal ini akan menjadi petualangan, tiba-tiba serangan muncul, aku tak bisa mengikuti keadaannya, Satou.

Labirin itu terbentuk dengan mudah tapi aku berpikir apakah jalan keluarnya berada di pusat kota?

Kelompok petualang mungkin akan terbentuk beberapa tahun ke depan.

Saat aku memastikan kebenaran petanya, muncul [Labirin Setan, Lapisan Bawah], tetapi lorongnya tidak muncul.

…Akan sulit, bukan?

Para beastkin terlihat cemas.

Pertama-tama, mari kita selesaikan hal ini.

DM Chapter 2-7

Di sini Satou. “Aku harus berhati-hati terhadap lengan-lengannya”, bahkan setelah aku berbicara seperti itu, aku sudah lupa setelah beberapa lama.

Bagaimanapun, itu hanya lengan. Jika aku hancurkan dan ini akan segera berakhir.

**

“Apa-apaan tangan itu?!”

Pendeta gendut yang sudah tercabik oleh cakar tajam itu hingga organ dalamnya keluar seketika mati.
Dan, Uusu yang membawa cakar beracun itu tampak seperti tidak tahu apa yang terjadi….

“Le,.. lengan itu!”
“Bukankah itu yang kemarin,ya kan?”

Zena mengangguk.

DM Chapter 2-6

Satou disini. “Di Zaman apapun, penghasut tidak pernah menghilang.”, Kata – kata itu benar adanya, tidak hanya di setiap zaman, bahkan di dunia lain pun tidak pernah menghilang.

Baiklah kalau begitu, mari kita selesaikan ini.

Menambahkan halaman lain tentang sejarah kota Seryuu…

**

Dengan melihat ketiga gadis beastkin itu, aku bisa menemukan Tuan dari gadis – gadis itu.

Tuan mereka bukan pendeta gendut itu.

Lalu, dimana Tuan dari gadis – gadis itu?

DM Chapter 2-5

Satou disini. “Every cloud has a silver lining”, Aku merenungkan peribahasa itu.

Di sore yang tenang aku menikmatinya kemarin dan tiba tiba berubah.

Baiklah kalau begitu, cerita di sore hari, masalah akan dimulai…

**

Sedikit lebih jauh dari kedai – kedai yang ada di pinggir jalan, ada kuil Parion.
Di timur jalan ini, hanya ada beberapa kedai di pinggir jalan utama.

Ada beberapa orang berkumpul di kuil.

DM Chapter 2-4

Satou disini. Daripada menjadi pahlawan, aku lebih ingin menjadi penyihir.

Membaca mantera, adalah permainan yang tidak mungkin, membuatku patah hati.

Sakit hatiku sudah terobati sedikit setelah telibat perbincangan dengan nona Zena dan teman – temannya.

**

“Aku minta maaf atas keributan kemarin. Mereka gadis – gadis yang nakal, semua itu karena aku memang sangat jarang terlihat bersama laki – laki..”

Dia mendekati sambil memutar bola matanya. Dia tidak seperti sebelumnya, kali ini dia terlihat malu – malu.

“Mereka tampaknya orang yang menyenangkan. Aku tidak membenci mereka.”

DM Chapter 2-3

Satou disini. Mengayun – ayunkan tongkat sihir, daripada seorang penyihir aku lebih mirip seorang conductor.

Tapi skill conductor tidak muncul. Aku jadi sedikit kecewa.

Tanda – tanda adanya harem juga masih sangat lama.

**

Setelah aku kembali dari hotel, aku mengeluarkan peralatan alchemy.

Aku ingin meletakkannya di dalam <<Thirty Holding Bag>>, tapi dari yang kudengar selama berkeliling bersama nona Nadi, item seperti ini sangat terkenal dikalangan orang kaya saat zaman raja Yamato, bahkan sampai sekarang pun, yang memiliki barang ini hanya para pasukan, pejabat tinggi, atau pedagang yang sangat kaya.

DM Chapter 2-2

Satou kembali lagi, walaupun banyak yang telah kuhadapi, sayang sekali ini sudah berakhir, Satou.

Itu wajah! Bukankah itu sebuah wajah!

**

Karena ada banyak peristiwa yang terjadi kemarin, aku menjadi sangat cepat tertidur setelah makan malam.

Hari ini adalah hari untuk membaca!
… Hanya perasaanku saja atau memang ruangan ini gelap. Ada jendela untuk cahaya masuk tapi masih tidak cukup cahaya untuk membaca, terlalu redup.

Jika tidak salah ada café dengan teras terbuka di sebelah penginapan ini.
Mari kita sarapan istimewa di coffee shop. Aku tidak tahu apakah benar ada tapi…

DM Chapter 2-1

Satou disini. Rasanya seperti pahlawan veteran, tapi bagaimanapun aku hanya penduduk biasa, Satou.

Walaupun tidak bisa dibilang kemenangan juga, tapi setidaknya, pertempuran ini sudah selesai.
Yang tersisa dari pertempuran hanyalah menyelamatkan yang bisa diselamatkan dan membangun desa kembali.

Tinggal menunggu seorang gadis muncul, kan?

**

Aku melepaskan jubah dan mantel yang compang – camping di belakang gang. Kemudian menggunakan all map exploration untuk mengecek tanda tanda manusia, aku juga melepaskan samaranku.

Walaupun hanya wig dan topeng…

DM Chapter 1-10

“Salam dari medan tempur, komentator dari pertempuran ini adalan Suzuki Ichirou, melaporkan keadaan disana, Satou.”

Mengharapakan mendapatkan skill lagi dengan tensi yang semakin meningkat, disini Satou.
Sembari berpura pura mati di balik mantelku, aku mengaktifkan banyak skill.
Aku tidak mengharapkan situasi seperti ini!

Baiklah, mari kita mulai “Let’s Dance With the Demon [Final Part]”!

**

Aku mengeluarkan pedang panjang dan memegangnya dengan 2 tanganku dari balik mantelku.
Diwaktu yang bersamaan para penyihir menyiapkan serangan balasan, setelah terlalu lama berdiri dibelakang formasi.

DM Chapter 1-9

Satou disini. Akhirnya aku menemukan apa yang menjadi kelemahanku, Satou.

Iblis asli itu terlalu menyeramkan.

Terutama raungannya!

Coba kalian dengarkan raungan singa saat kau berdiri sangat dekat dengan kandangnya di kebun binatang. Tidak peduli seberapa amannya dirimu sebenarnya, jika kau tidak mempersiapkan hatimu, menyeramkan ya tetap saja menyeramkan.

**

Aku menuju ke atap sebuah gedung di mana seluruh pasar bisa dilihat.
Dari sini aku dapat melihat selusin prajurit mengepung sang iblis.
Terlebih lagi, prajurit yang berada di gerbang melndungi penyihir yang ada dibelakang mereka.
Mungkin para prajurit itu menunggu kesempatan untuk menyerang, kavaleri bergabung membentuk formasi dengan pasukan di belakangnya.

DM Chapter 1-8

Di sini Satou. Aku tercengang karena jalan yang sudah lama ditunggu, tiba – tiba terpaksa ditutup.

**

Penampilan yang tampak seperti iblis.

Memiliki tanduk seperti domba, bermata merah menyala, dan bertubuh hitam legam yang mengkilat. Dengan empat tangan, sayap bagaikan kelelawar, dan ekor tajam yang bercabang. Benar benar seperti iblis.

Iblis itu menghabisi para ksatria dengan mudah.

Keadaan pasar menjadi kacau, kereta kuda berserakan dan mayat – mayat yang bergeletakan…

DM Chapter 1-7

“Satou di sini. Seseorang yang picik dan tidak ingin terlibat dengan budak yang bertampang berbahaya, Satou.”

Ini cuma mimpi! Aku hampir menyerah bilang ini bukan mimpi.

Pikiranku yang lain mengatakan ini hanya dunia lain yang hampir tampak seperti mimpi. Ya, sekecil apapun kemungkinannya, aku tidak akan menyerah.

**

Hatiku hancur saat Martha mengatakan tidak ada kamar mandi yang tersedia kecuali di Istana raja. Karena disini makanan dan budaya kebersihan sangat dijaga, kupikir kamar mandi juga sesuatu yang penting disini.

DM Chapter 1-6

Satou disini. Namaku adalah Suzuki tapi aku saat ini namaku adalah Satou. Ini sebuah mimpi kan? Johny, tolong katakan ini sebuah mimpi.

**

Sedikit kegelisahan muncul di pikiranku, saat aku belanja di daerah milik bangsawan di tengah kota Seryuu.
Jaraknya tidak begitu jauh, hanya beberapa menit berjalan kearah timur dari penginapan milik ibunya Martha.
Setelah dipikir-pikir, aku belum tahu apa nama penginapan itu, peta menunjukkan Monzen Inn; apakah benar itu namanya?

DM Chapter 1-5

Aku akhirnya sampai di kota Seryuu.

Mari kita lihat keadaan seisi kota ini dengan [All Map Exploration]!

Populasi disini sekitar 120.000 jiwa. Kota ini adalah sebuah kota kecil yang merupakan bagian dari Kerajaan Shiga yang dipimpin oleh seorang bangsawan. Human tribe yang paling banyak disini sekitar 95%, sisanya 5% terdiri dari beast tribe, scale tribe, dan fairy tribe. Rata – rata level mereka 2 – 3. Level tertinggi di kota ini dimiliki oleh seorang penyihir tua yang mencapai level 48. Ada sekitar 5 hingga 20 orang ksatria disini..

DM Chapter 1-4

“Halo, Suzuki disini. Sangat kesepian disini, aku mungkin akan mati dalam kesunyian.”

Sungguh, aku sangat menginginkan seorang teman saat ini.
Setelah mencapai jalan raya, aku tidak tahu arah mana yang harus dituju; sudah 7 hari aku berjalan dan masih belum menemukan peradaban manusia.