CD – Book 4 / Chapter 16

 

Masih berbaring ditengah rerumputan, Linley menahan napasnya selagi dia memperhatikan. “Gundukan itu setidaknya sekitar lima puluh atau enam puluh Blueheart Grass.” Linley dengan paksa mengubur kegembiraan liar yang dia rasakan. Tapi hal yang paling mengherankan bagi Linley adalah…

Bebe sepertinya merasa kalau itu tidak cukup, dan terus menarik lagi dan lagi Blueheart Grass.

“Mungkinkah Bebe dapat membawa gundukan besar itu dengan cakarnya yang kecil?” Linley bertambah bingung. Dengan segera dia memanggil Bebe melalui pikiran. “Bebe, itu sudah cukup. Kembali kesini.”

Bebe mengangkat kepalanya dan menatap Linley, dan kemudian mengerutkan hidung imut mungil nya. “Jangan terburu-buru. Masih ada banyak yang harus diambil.”

Pada saat itu juga, seekor Velocidragon yang sedang minum air di sungai terdekat kebetulan melihat kearah sini. Pandangannya jatuh ke arah Bebe, sudah jelas sekali menyadarinya, dan dia bangkit dari air, mendenguskan asap tebal saat dia menancapkan pandangan dinginnya diatas bayangan kecil itu.

“Tidak bagus.” Jantung Linley langsung berdegub kencang.

Jika Bebe memulai pertempuran dengan Velocidragon, ada kemungkinan lebih banyak magical beasts yang akan tertarik kesini. Pada saat itu, situasinya akan menjadi lebih buruk.

Bebe juga menyadari Velocidragon. Setelah melihatnya, Bebe terlihat ketakutan, dan dengan seketika bersembunyi dekat dengan Blueheart Grass, “gemetar”.

CD – Book 4 / Chapter 15

Di bawahnya terdapat kabut putih yang bergulung-gulung. Ia berdiri di tebing jurang, yang tidak nampak dasarnya.

Dengan pahat lurus di tangan, Linley mengintip ke bawah menuji Foggy Valley. Linley telah menghabiskan 3000 koin emas untuk membeli pahat lurus, dan dalam segi ketajaman melebihi pisau hitam yang digunakan oleh Linley sebelumnya. Bahkan bagi Linley, pahat ini lebih cocok di tangan Linley jika dibandingkan dengan sebilah pisau.

CD – Book 4 / Chapter 14

Reynolds, George, dan Yale menatap patung dengan tampang bodoh. Mereka kagum dengan pahatan batu ini, dan di mata mereka, lima sosok manusia di patung seakan-akan memiliki jiwa.

Sosok di kiri, pembawaannya lembut, penuh kasih sayang, dan membuat orang yang melihatnya merasa iba.

Sosok kedua pembawaannya manis, menggugah hati orang-orang yang melihatnya ingin memuja.

CD – Book 4 / Chapter 13

Sesampainya di Ernst Institute, Linley mengambil ransel yang biasa ia pakai dari kamarnya, lalu pergi menuju ke pegunungan di belakang Ernst Institute. Di dalam ranselnya, terdapat pakaiannya, kartu magicrystalnya, dan sebuah pahat lurus.

“Saudara kedua, saudara keempat, tolong jaga saudara ketiga.” Yale memberikan instruksi kepada kedua saudaranya.

CD – Book 4 / Chapter 11

Fragrant Pavilion Road dipenuhi dengan orang-orang, tetapi Yale, George, dan Reynodls secara jelas dapat melihat jelas sosok perempuan tidak jauh dari mereka. Sejak Linley dan Alice bersama, Yale, George, dan Reynolds telah dikenalkan kepada Alice. Dengan jelas, mereka tahu bahwa perempuan itu adalah Alice.

CD – Book 4 / Chapter 10

Langit berubah gelap, tapi Linley masih duduk dan minum perlahan. Alice masih belum muncul juga, dan pengunjung bar mulai berkurang dan berkurang jumlahnya. Di sebelahnya, Bebe sangat menikmati minum alkohol, biasanya Linley tidak akan mengijinkannya untuk minum sebanyak ini. Ini pertama kalinya Bebe dapat minum sepuas hati.

CD – Book 4 / Chapter 9

“Yang Mulia Raja?” Linley langsung melihat ke arah datangnya klan royal.

Berpakaian baju emas yang berkilau, berbadan tinggi dan berotot, raja adalah seorang pria paruh baya dengan rambut emas seperti singa. Orang ini tidak hanya raja dari Kingdom of Fenlai, dia juga seorang Warrior Ranking 9. Hal ini tidak dapat dibayangkan.

Sebagai warga dari Kingdom of Fenlai, Linley telah mendengar kabar tentang kebanggaan Fenlai, seorang legenda ‘Golden Lion’, Clayde. Untuk sebuah kerajaan yang memiliki seorang raja yang juga petarung hebat, tanpa ragu, adalah sumber kebanggan untuk warga negara tersebut.

CD – Book 4 / Chapter 8

Linley sedikit terkejut.Dia ragu-ragu. Di benaknya, banyak kata terlintas. Namun pada akhirnya, dia tetap mengangguk. “Ya.Namanya Alice.”

Mata Delia memerah.“Selamatya.”

Delia pun cepat berbalik, air matanya keluar, tak dapat terbendung lagi. Secepat mungkin, dia keluar dari ruang baca.

Linley tidak sempat melihat air mata Delia.

CD – Book 4 / Chapter 7

Di bawah paksaan interogasi saudara-saudaranya, Linley dengan jujur mengungkapkan semuanya antara dia dan Alice. Cerita ini membuat dua playboy, Yale dan Reylonds berdecak  kagum.

Semenjak berpacaran dengan Alice, Linley yang berpisah dengan Alice selama masa sekolah membuat janji temu di setiap akhir bulan.

Dalam sekejap, satu bulan telah berlalu. 28 Desember, suasana hati Linley sedang sangat baik, karena dia akan menemui Alice di Fenlai City lagi.

CD – Book 4 / Chapter 6

Bersama Alice, Linley merasa sangat senang dari lubuk hati yang terdalam. Hingga akhirnya, malam telah usai. Tidak Linley, tidak juga Alice merasa lelah walaupun begadang semalaman.

Seiring dengan terbitnya matahari dari ufuk mulai berpendar dengan warna biru terang.

“Matahari telah terbit. Alice, aku harus pergi.” Linley berdiri.

CD – Book 4 / Chapter 5

Sore itu, Linley dan ketiga saudaranya berjalan menuju sebuah penginapan. Sesuai dengan kebiasaan mereka, mereka akan pergi ke Jade Water Paradise bersama-sama.

“Bos Yale, kalian bertiga pergilah duluan tanpaku. Aku hendak berkeliling,” kata Linley kepada mereka bertiga setelah meninggalkan penginapan.

Yale, Reynolds, dan George memandang Linley penuh kejut.

CD – Book 4 / Chapter 4

Di Dry Road, Fenlay City, Alice berdiri di atas balkoni rumah tingkat dua-nya. Kepalanya bertumpu pada kedua tangannya sambil melihat jalan di bawah dan orang-orang yang melintasinya.

Sejak Linley pergi, Alice datang disini setiap hari untuk melihat orang-orang di jalan, berharap Linley akan datang kembali. Namun….

“Besok, sekolah dimulai kembali. Aku harus pulang sekarang.” Alice mendesah, melirik ke arah jalan lagi.

CD – Book 4 / Chapter 3

Pagi berikutnya, ketika duduk di meja makan di dalam ruang makan, Linley terkejut melihat sosok ayahnya yang berseri-seri, dengan tingkat yang belum pernah dilihat Linley.

Hogg meletakkan pisau dan garpu sambil tersenyum kepada Linley. “Linley, kali ini kau seharusnya tinggal di rumah lebih lama. Sudah lama ayah tidak melihatmu. Kita berdua, ayah dan anak, butuh menghabiskan waktu bersama.”

CD – Book 4 / Chapter 1

Tembok yang mengelilingi kediaman Alice tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 2 meter tingginya. Linley menuju tembok itu, lalu dengan sekali loncatan, dia melesat ke atasnya. Dengan satu loncatan lagi, dia melompat turun ke depan Alice, seolah-olah dia terbang kepadanya.

“Cepat, duduklah.” Alice cepat-cepat menarik Linley.

CD – Book 3 / Chapter 26

Malam pun tiba. Empat bersaudara dari asrama 1987 sedang berjalan di jalanan Ernst Institute yang gelap dan sepi. Mereka bercakap santai tentang apa yang terjadi selama dua bulan terakhir.

“Separah itu?” Reynolds yang terkesima menarik baju Linley. Melihat bekas luka sayatan di dada Linley, dia hanya bisa menahan napas. George yang ada di dekatnya juga terdiam. Hanya Yale yang bisa tertawa, “Haha, kalian ini tidak berpengalaman. Waktu aku kecil dulu, aku pernah melihat yang lebih parah dari ini.”

CD – Book 3 / Chapter 25

Di Jalan Greenleaf di Kota Fenlai, ibukota Kingdom of Fenlai yang merupakan salah satu anggota dari Holy Union, terdapat berpetak-petak tanah milik para bangsawan.

“Klan Debs berterima kasih padamu, Linley, atas bantuanmu. Jika bukan karenamu, Kalan anak kami ini pasti sudah terluka parah.” Seorang pria tua berjanggut perak tersenyum pada Linley. Dia terlihat sangat terhormat. Di sampingnya ada Kalan, Alice, Tony, dan Niya. Di belakang mereka adalah para pelayan klan Debs.

CD – Book 3 / Chapter 24

“Hmm?” Linley berbalik dengan wajah merengut.

Kalan segera berjalan menuju Linley untuk berterima kasih. “Namaku Kalan. Aku sangat berterima kasih atas bantuanmu. Jika bukan karenamu, Alice pasti sudah mati tadi.”

Si gadis bernama Alice itu pun berlari mendekat. Masih jelas terlihat kepanikan di dirinya. Nafasnya masih tersengal-sengal menyebabkan dadanya naik-turun selagi bernafas. Namun matanya yang lembut dan teduh itu menatap Linley. “Terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku. Aku Alice. Nama lengkapku Alice Straf. Aku juga magus earth-style.”

CD – Book 3 / Chapter 23

Di perjalanan pulang, magical beasts yang ditemui Linley semakin lemah. Ketika Linley sampai di wilayah luar, semua magical beast yang dijumpainya hanyalah tingkat tiga dan empat. Mereka sama sekali tidak berbahaya bagi Linley. Meski begitu, Linley tidak berani menurunkan kewaspadaannya.

Doehring Cowart berjalan di samping Linley, namun dalam hatinya Doehring Cowart merasa khawatir. Saat ini Linley memang tampak tenang dan stabil, namun saat menyerang, dia bergerak tanpa belas kasihan sama sekali. Di matanya juga tampak pandangan yang dingin dan mematikan.

CD – Book 3 / Chapter 22

Ada lebih dari 10 Dragonhawk, semuanya lebih besar dari pada Griffon, terbang dengan cepat mengejar Linley. Dengan cincin Coiling Dragonnya, Linley segera menambahkan mageforcenya agar bisa naik lebih cepat lagi. Di saat yang sama dia pun mulai menggumamkan kata-kata untuk Earthguard spell.

“Whooshh!”

CD – Book 3 / Chapter 21

Jika seseorang ingin berlatih menggunakan ‘Secret Dragonblood Manual’, dia harus membangkitkan Dragonblood dalam pembuluh darahnya. Namun hanya ada dua cara untuk  membangkitkan Dragonblood dalam pembunuh darah. Yang pertama adalah dengan meraih tingkat minimum tertentu dari kepadatan Dragonblood. Cara yang kedua adalah meminum darah segar dari naga yang masih hidup.

CD – Book 3 / Chapter 20

Si pria berbaju hitam itu kini jaraknya hanya lima atau enam meter dari Linley. Dia sudah menyadari kehadiran si Shadowmouse hitam itu, namun melihat kecepatan Bebe yang luar bias itu tetap saja membuatnya tertegun. “Kecepatan apa itu?!” Pria berbaju hitam itu segera megayunkan pisau hitamnya untuk menghalau.

CD – Book 3 / Chapter 19

Hari ke-50 di pegunungan ini.

“Apakah semua pembunuh itu mengira aku ini lawan yang mudah?” Linley memandang mayat seorang pembunuh, wanita berbaju hitam. Wanita ini hanya seorang warrior tingkat lima. Dengan bantuan magicnya, Linley bisa menghabisinya sendiri.

Doehring Cowart tertawa. “Semua orang yang melihatmu pasti tahu kau ini cuma anak-anak. Seorang anak yang bodoh dan tidak tau setinggi apa surga, maupun sedalam apa bumi ini. Seorang anak yang nekat berjalan di gunung ini sendirian. Mana mungkin mereka melewatkan lawan mudah sepertimu?”

CD – Book 3 / Chapter 18

Sejak tahun-tahun sebelumnya hingga saat ini, satu-satunya magical beast yang membuatnya benar-benar terpana adalah Velocidragon, yang dilihatnya saat itu. Waktu itu, Velocidragon itu menunjukkan kekuatannya yang mengerikan di tengah kota Wushan. Sebuah kekuatan yang tampaknya tak terkalahkan. Dia menyapu rumah yang ada satu persatu dengan kekuatannya yang luar biasa itu.

Linley hanya bisa merasakan jantungnya yang berdebar kencang.

CD – Book 3 / Chapter 17

Linley berdiri di depan mayat Matt. Dia mendesah. Di saat yang sama, digosoknya bekas luka di dadanya.

Itu adalah luka yang hampir menghilangkan nyawanya.

“Dibanding Nina [Ni’na], kau jauh lebih lemah.” Linley menggelengkan kepala dan mendesau. Linley tidak terlalu menganggap Matt sebagai kawannya. Mereka tidak lebih dari teman seperjalanan yang bertemu di jalan. Maka dari itu, Linley tidak akan terlalu mempercayainya.

CD – Book 3 / Chapter 16

“Linley. Ternyata itu kau! Bagus sekali!” Terdengar suara gembira, dan seorang pria muda pun berlari mendekati mereka dengan cepat. Anak muda ini adalah si warrior kurus yang ditemui Linley dalam perjalanannya menuju Mountain Range of Magical Beasts. Dua orang lain yang ditemuinya, Delsarte, teman sekelasnya, dan Kava, si gagah dan perkasa, semuanya telah tewas.

CD – Book 3 / Chapter 15

Kini, Linley telah mengganti ranselnya. Kualitas kulit dan pengerjaan ranselnya sendiri jauh di bawah ransel si pembunuh. Lagipula, bagian dalam ransel si pembunuh ada kantong-kantong yang tertata dengan cermat. Saat kancingnya dipasang, semua benda di dalamya akan aman. Ransel ini juga tidak mengganggu pergerakan Linley sedikitpun. Pisau si pembunuh itu juga sangat tajam dan menurut Linley, cukup mudah digunakan.

“Wussssss!”